Sastra UHO Gelar Seminar Bangun Generasi Melek Era Milenial

Keterangan Gambar : Muhammad Ridwan Badallah Saat Memaparkan Materi Seminar Nasional Sastra Indonesia (Foto:Ismed)

Potretsultra

KENDARI – Komunitas Satra Universitas Halu Oleo (UHO) menggelar seminar nasional dengan tema”Membangun Generasi Melek Diera Milenial”. Seminar tersebut berlansung di Aula Fakultas Hukum (UHO) Sabtu (30/11/2019) dengan menghadirkan pemateri dari kalangan akademisi dan birorakrat.

Diantaranya Kepala Bidang Sosbud Balibangda Sultra Muhammad Ridwan Badalah, Dosen Pendidikan Bahasa dan Seni, La Ode Balawa, dan Tia Setiadi selaku penulis dan direktur circa indonesia.

Selaku pemateri Ridwan Badallah menyampaikan, sastra dapat dimaknai sebuah karya konteplasi batin alam sadar dan alam bawah sadar. Selain itu, sastra dapat mengubah sikap orang dari yang negatif menjadi positif.

Ridwan bilang, perlu penguatan dan pelestarian budaya sastra dari zaman kezaman. Katanya, pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia pendidikan masih mengabaikan sastra sebagai kebutuhan manusia dalam menbentuk perilaku positif.

“Upaya kami selaku Kabid Sosbud, sesuai hasil kesepakatan bersama dengan pihak sastrawan di Sultra untuk mengubah paradigma sastra dengan melakukan kegiatan-kegiatan seminar dan festival sastra,” ujarnya.

“Rencana kegiatan tersebut dilaksanakan bulan Mei 2020 ini,” tambahnya.

Foto Bersama Usai Seminar Sastra Nasional Indonesia di Aula Fakultas Hukum UHO (Foto: Ismed)

Foto Bersama Usai Seminar Sastra Nasional Indonesia di Aula Fakultas Hukum UHO (Foto: Ismed)

Nantinya, lanjut Ridwan, dalam festival tersebut, akan diberikan kesempatan terhadap komunitas sastra untuk menyampaikan pesan-pesan moral satra. Sastra itu akan menjadi pesan moral. Satra ini katanya, jangan hanya menjadi proses pembelajaran tapi sastra ini sebagai pesan moral untuk mengubah kehidupan masyarakat.

Tim riset Balitbangda Sultra ini menjelaskan, sastra kedepannya di era 4.0 bukan lagi sastra ke sastra, untuk sastra atau penikmat sastra, pengguna sastra, tapi sastra ini jadi kebutuhan semua manusia baik masyarakat umum, pemerintahan pendidikan dan politik.

Ia menambahkan, perlu diketahui bahwa salah satu Sultan Buton yang diberi gelar pahlawan nasional adalah seorang sastrawan, dan beliau mempunyai syair-syair yang berhasa arab gundul.

Ridwan berharap, pengembangan sastra ini harus didukung penuh oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Sebab, sastra kini sangat mengalami degradasi.

Laporan: La Ismeid

Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *