KENDARI – Guru Besar UHO sekaligus Rektor Universitas Karya Persada Muna, Prof. Dr. Ir. Usman Rianse, M.S., resmi ditunjuk sebagai Ketua Delegasi West Europa Destination oleh Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sultan Batara yang berlangsung 9-19 Mei 2026.
Penunjukan tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat kerja sama internasional antara perguruan tinggi di bawah naungan LLDIKTI Wilayah IX dengan sejumlah perguruan tinggi ternama di kawasan Eropa Barat.
Kepercayaan yang diberikan kepada Prof. Usman Rianse bukan tanpa alasan. Sosok akademisi senior ini dinilai memiliki pengalaman panjang dalam membangun jejaring global saat memimpin Universitas Halu Oleo.
Selama menjabat sebagai Rektor UHO, Prof. Usman dikenal aktif membuka pintu kerja sama internasional dengan berbagai perguruan tinggi di Eropa. Jejak inilah yang menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penunjukan dirinya sebagai ketua delegasi.
Dalam agenda kerja sama tersebut, sejumlah perguruan tinggi di Prancis menjadi target utama pengembangan kemitraan akademik internasional.
Rencananya, penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) akan dilaksanakan pada Juli 2026 mendatang di Surabaya.
Momentum penting itu akan berlangsung dalam Forum Indonesia-Prancis yang dipusatkan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Forum tersebut diproyeksikan menjadi ruang strategis untuk mempertemukan perguruan tinggi Indonesia dengan institusi pendidikan tinggi dari Prancis dalam berbagai bidang kolaborasi akademik dan riset.
Guru besar UHO ini menegaskan bahwa program kerja sama global ini tidak hanya diperuntukkan bagi dosen, tetapi juga memberikan peluang besar kepada mahasiswa.
Menurutnya, perguruan tinggi swasta di bawah lingkup LLDIKTI Wilayah IX harus mampu mengambil bagian dalam arus internasionalisasi pendidikan tinggi.
Salah satu program unggulan yang akan dikembangkan adalah pembentukan konsorsium keilmuan antar perguruan tinggi. Melalui konsorsium tersebut, dosen dan peneliti diharapkan dapat saling berkolaborasi dalam pengembangan riset dan inovasi global.
Selain itu, program pertukaran mahasiswa juga menjadi prioritas utama dalam kerja sama internasional tersebut. Mahasiswa nantinya memiliki kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi luar negeri sekaligus memperluas wawasan akademik dan budaya internasional.
Tidak hanya itu, kerja sama juga akan diarahkan pada resource sharing atau pemanfaatan bersama fasilitas penelitian antar kampus. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan kualitas riset dan mempercepat lahirnya inovasi berbasis kolaborasi internasional.
Program joint degree dan double degree juga masuk dalam agenda besar kerja sama pendidikan tersebut. Melalui program itu, mahasiswa berpeluang memperoleh gelar akademik dari dua perguruan tinggi sekaligus sesuai ketentuan yang berlaku.
Kesempatan magang internasional dan kursus pengembangan kompetensi bagi dosen maupun mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam program kolaborasi.
Mantan Ketua Forum Rektor Indonesi (FRI) ini menilai pengalaman internasional akan menjadi modal besar bagi generasi muda menghadapi persaingan global.
Selain program akademik, peluang studi lanjut jenjang S2, S3 hingga post doktoral juga akan dibuka melalui jaringan kerja sama dengan perguruan tinggi Eropa. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kawasan timur Indonesia, khususnya Sulawesi.
Menurutnya, seluruh program ini dapat dimanfaatkan oleh semua perguruan tinggi negeri maupun swasta di bawah naungan LLDIKTI Wilayah IX Sultan Batara.
Ia menegaskan bahwa UHO maupun Universitas Karya Persada Muna juga akan mengambil bagian aktif dalam pengembangan jejaring global tersebut. Namun demikian, keberhasilan program internasionalisasi kampus memerlukan dukungan atmosfer akademik yang kondusif dan nyaman bagi mahasiswa asing.
Kampus-kampus di Indonesia juga dituntut meningkatkan kualitas pelayanan akademik agar mampu bersaing di tingkat global. Selain itu, peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa menjadi faktor penting dalam menyukseskan kerja sama internasional.
Kemampuan bahasa asing pun dinilai menjadi kebutuhan utama dalam menghadapi era kolaborasi global pendidikan tinggi. Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Arab hingga Mandarin disebut sebagai bahasa strategis yang perlu dikuasai civitas akademika.
Dengan penunjukan Prof Usman Rianse sebagai Ketua Delegasi West Europa Destination, harapan besar kini tertuju pada terbukanya akses kolaborasi internasional yang lebih luas bagi perguruan tinggi di Sulawesi dan Indonesia Timur.
Tim Redaksi






















Tinggalkan Balasan