Keterangan Gambar : Erra Septy Vibriane (Foto: IST)

Potret Pertanian Sulawesi Tenggara

Potretsultra

OPINI – Potret pertanian, tergambar melalui Nilai Tukar Petani (NTP) yang merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. NTP juga merupakan salah satu indikator terdekat untuk melihat kesejahteraan petani. Semakin tinggi NTP semakin sejahtera pula petani. NTP yang bernilai lebih dari 100, mengindikasikan tingkat kesejahteraan petani yang lebih baik dibandingkan tahun dasar. NTP kurang dari 100 menggambarkan kesejahteraan petani yang tidak lebih baik dibandingkan tahun dasar. Dan jika NTP sama dengan 100, maka kesejahteraan petani cenderung sama dengan kesejahteraan pada saat tahun dasar. Dalam hal ini, tahun dasar dalam penghitungan NTP adalah tahun 2012.

NTP pada petani padi dan palawija bernilai 88,75 pada November 2018 lalu. Hal ini memberikan gambaran yang kurang menyenangkan memang bagi petani yang mengusahakan padi dan palawija. Padahal, meskipun bukan sebagai provinsi penghasil padi terbesar di Indonesia, namun produksi padi di Sulawesi Tenggara harusnya mampu mencukupi kebutuhan pasar domestik mengingat beras masih merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat.

Melalui metode terbarunya, Badan Pusat Statistik telah merilis produksi padi di Sulawesi Tenggara sepanjang tahun 2018, yaitu sebanyak 499,01 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG) setara dengan 285,10 ribu ton beras. Tentu ini tidak mencukupi kebutuhan konsumsi sebanyak 2,6 juta penduduk Sulawesi Tenggara jika konsumsi beras perkapitanya adalah sebesar 1,885 kg beras per minggu. Besarnya beban pengeluaran yang ditanggung petani juga menjadi salah satu faktor menyebab menurunnya jumlah rumah tangga pertanian tanaman pangan menjadi 126.195 rumah tangga di tahun 2017 dari sebelumnya sebanyak 134.007 rumah tangga di tahun 2013.

Gambaran yang serupa nampak pada petani pada pertanian subsektor hortikultura (sayur-sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat) bahkan pada pertanian tanaman perkebunan rakyat. Petani cenderung “tidak balik modal” pada kedua jenis budidaya ini. NTP Hortikultura di penghujung tahun 2018 terus menurun sampai di angka 95,55 dan NTP tanaman perkebunan rakyat sebesar 89,85.

Pada tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan, potensi tanah memang kurang mendukung untuk budidaya ini. Dari 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara, hanya beberapa kabupaten saja yang potensi untuk pengembangan tanaman buah dan sayur, sebut saja, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, dan Kolaka Utara. Inipun tidak mencukupi pasar domestik sehingga lebih banyak didatangkan dari provinsi lain. Sehingga fenomena yang terjadi pada saat musim tertentu, masyarakat dihadapkan pada kenaikan harga yang tinggi yang berimbas pada tingginya inflasi, terutama di daerah perkotaan.

Produksi Kakao Sulawesi Tenggara tahun 2017 memberikan kontribusi sebesar 15,50 persen dari total produksi kakao nasional, menduduki peringkat tertinggi ke tiga setelah Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Oleh karenanya, menjadi aneh ketika kesejahteraan petani malah tidak teraih. Meskipun demikian, jumlah petani tanaman perkebunan merangkak naik.  Hasil pendataan survei antar sensus pertanian yang dilakukan oleh BPS pada tahun 2017 menunjukkan bahwa memang rumah tangga yang mengusahakan tanaman perkebunan adalah sebanyak 224.749 rumah tangga, lebih tinggi dibandingkan tahun 2013 yang sebesar 160.010 rumah tangga.

Sulawesi Tenggara masih bisa mengembangkan potensi tanaman perkebunannya. Melalui program Gernas Kakao dan pengembangan kakao berkelanjutan yang diterapkan oleh pemerintah, diharapkan kesejahteraan petani di subsektor ini jauh lebih baik. Apalagi kakao, cengkeh, dan biji jambu mete merupakan produk pertanian unggulan dari Sulawesi Tenggara.

Peternakan juga merupakan bagian dari pertanian menurut konsep BPS. Dengan NTP senilai 104,48 pada November 2018, peternak di Sulawesi Tenggara dianggap lebih sejahtera dibandingkan dengan petani tanaman pangan, hortikultura maupun petani tanaman perkebunan rakyat. Potensi peternakan terbesar adalah di wilayah Kabupaten Konawe Selatan disusul Kabupaten Muna dan Kabupaten Konawe.

Sapi menjadi ternak strategis karena menjadi salah satu sumber pangan utama. Pemanfaaatannya bukan untuk sekedar memenuhi konsumsi sendiri melainkan sebagai usaha komersial. Oleh karena itu budidaya sapipun didominasi oleh sapi potong jenis sapi bali. Tercatat stok potensial daging sapi potong Sulawesi Tenggara pada tahun 2017 adalah 36,86 persen dari sapi jantan, dan 3,65 persen dari sapi betina. Stok daging sapi yang berasal dari sapi betina ini, berdasarkan umur sapi betina yang tidak produktif lagi, yaitu diperkirakan berumur 8 tahun atau lebih.

Ayam ras pedaging menjadi primadona pada ternak unggas. Selain daripada itu, tak jarang rumah tangga yang juga menggusahakan ayam kampung. 73,92 persen diantara peternak ayam kampung, mengusahakan ternak dalam skala besar. Skala besar ayam kampung ini adalah mengusahakan sebanyak 30 ekor ayam atau lebih. Sedangkan pada skala kecil (1-9 ekor), biasanya rumah tangga ini mengusahakan atas dasar sebagai simpanan yang siap djual apabila dibutuhkan.

Sebagai provinsi yang dianugerahi kekayaan laut yang luar biasa dan beberapa kabupaten kepulauan, ternyata mampu mendukung kesejahteraan masyarakat yang berusaha sebagai nelayan didalamnya. Tercacat sepanjang tahun 2018, NTP perikanan, meskipun mengalalami fluktuasi, namun tetap bertahan di atas angka 100. Tercatat NTP perikanan sebesar 116,57 di bulan November 2018, dan merupakan NTP dengan angka tertinggi diantara subsektor pertanian yang lain.

Didominasi oleh perikanan tangkap, nelayan mampu menangkap berbagai macam jenis ikan. Potensi penangkapan ikan utama nelayan Sulawesi Tenggara adalah ikan kakap, kembung atau ruma-ruma, cakalang, dan ikan kuwe atau ikan putih. Sedangkan pada budidaya ikan, rumput laut dan ikan bandeng masih menjadi juara yang dibudidayakan oleh nelayan pembudidaya.

Sangat wajar jika kesejahteraan nelayan lebih tinggi dibandingkan petani ataupun peternak. Ibaratnya “tinggal bawa pancing pergi ke laut, dapat ikan”. Maksudnya adalah karena memang biaya produksi yang dibutuhkan nelayan tangkap tidak terlalu besar dibandingkan petani lain. Ditambah kegemaran makan ikan bagi hampir seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara, menyebabkan harga ikan tidak pernah murah meskipun produksi melimpah. Apalagi pada saat musim ombak ataupun pada saat bulan purnama, harga ikan melambung tinggi. Hukum permintaan penawaran berlaku. Permintaan tinggi menyebabkan harga menjadi naik.

Melalui potret pertanian pada masing-masing subsektor, dapat dilihat potensi yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara. Butuh banyak pihak untuk mengembangkan potensi pertanian Bumi Anoa Sulawesi Tenggara ini. Alih-alih mengembangkan industri, memperkuat potensi pertanian dirasa lebih penting bagi provinsi yang lebih dari 75 persen persebaran masyarakatnya berada di perdesaan selain dalam rangka Sulawesi Tenggara mendukung swasembada pangan nasional.

Penulis: Erra Septy Vibriane (Statistisi pada Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara)

Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *