Paslon Gubernur Sultra di Pilkada Masih Paket Daratan-Kepulauan, Pakar Politik: Padahal Tak Mesti

Keterangan Gambar : Pakar Politik Sulawesi Tenggara, Dr. La Ode Bariun, SH, MH

KENDARI – Helatan akbar Pilkada serentak 2024 terus bergulir. Di Sulawesi Tenggara (Sultra) tiga kandidat calon gubernur sudah muncul untuk memastikan diri maju bersaing memperebutkan kursi 01 di Sultra.

Paslon tersebut cukup familiar di telinga publik Sultra, seperti Lukman Abunawas perwakilan daratan yang maju berpasangan La Ode Ida perwakilan kepulauan, Andi Sumangerukka yang berpasangan Ir Hugua dan Tina Nur Alam yang ancang-ancang akan mempublikasikan calon wakil pendampingnya dari tokoh kepulauan.

Banyak kalangan memastikan pertarungan politik perebutan kursi gubernur berlangsung sengit di Pilkada Sultra 2024 ini. Para kandidat menyatakan sudah mengantongi rekomendasi partai politik sebagai kendaraan politik mereka maju di Pilkada. Rekomendasi Parpol itu diklaim sudah memenuhi syarat pencalonan.

Ada yang menarik dalam penetapan bakal calon wakil gubernur, dimana 2 kandidat calon gubernur LA dan ASR yang notabene dari wilayah daratan dengan sangat bangga memilih kandidat dari wilayah kepulauan.

Pakar Politik Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr LM Bariun SH, MH, eksis mengamati perkembangan politik di Sultra yang terus mengalami perkembangan yang dinamis.

Dari amatannya, hal menarik dari bakal calon gubernur yakni konsistensi mereka yang tak lepas memilih calon wakil dari wilayah kepulauan sebagai paduan antara keterwakilan tokoh daratan dan kepulauan.

Menurut LM Bariun, jika melihat indikatornya antara daratan dan kepulauan hanya soal budaya saja selalu terkesan daratan-kepulauan. Padahal dari aspek politiknya tidak harus melihat kualitas dan kapabilitas seseorang.

Selain indikator budaya, juga lebih kepada faktor ketokohan dan keterwakilan kepulauan. Indikator tersebut diyakini para Cagub bisa mendongkrak elektabilitas untuk bisa memenangkan kontestasi Pilkada serentak.

LM Bariun menilai paslon Gubernur Sultra seharusnya tidak mesti dengan paduan tokoh daratan-kepulauan. Bisa komitmen Paslon gubernur keterwakilan sesama daratan-daratan atau kepulauan-kepulauan.

“Bisa dilihat adalah tokohnya dari mana dari kepulauan atau tokoh daratan sesama daratan, kalau dianggap kapabilitas dan kualitas. Kalau hanya dilihat dari daratan atau kepulauan itu hanya melihat dari aspek keterwakilan saja.
keterwakilan antara daratan dan kepulauan. Padahal harus juga dilihat daratan-daratan atau kepulauan-kepulauan tergantung elektabilitas survei tokoh yang pas,” katanya, Kamis (1/07/2024).

Analisis LM Bariun, paslon gubernur dengan formasi keterwakilan daratan-kepulauan belum tentu sepenuhnya bisa meraup suara terbanyak. Begitupun dengan keterwakilan daratan-daratan atau kepulauan-kepulauan.

“Kenapa tidak memberanikan diri sesama daratan, karena Sultra ini tidak bisa kita spot-spot yang ini daratan dan yang ini kepulauan, seharusnya kita melihatnya secara integral,” jelasnya.

“Kenapa tidak. Sekarang mari kita coba daratan sama daratan dan kepulauan sama kepulauan, kita lihat yang tampil inikan aset Sultra bukan aset daratan dan bukan aset kepulauan, tapi pada akhirnya untuk membawa nama Sulawesi Tenggara,” tambah LM Bariun.

Direktur Pascasarjana Unsultra ini memberikan tawaran untuk mengakhiri budaya keterwakilan daratan-kepulauan di Pilkada.

“Kenapa kita tidak coba akhiri dengan tradisi itu, kan ini cuman tradisi tidak diatur dalam aturan. Umpamanya seperti Sulawesi Selatan, kalau dia bicara soal kepulauan dan daratan itu juga akan repot , maka harus ada berani menggagas itu, kenapa tidak berani keluar dari kebiasaan itu,” ungkapnya.

Tim Redaksi

Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *