KNPI Buton Ajak Pemda se-Kepton Dukung ‘Oputa yi Koo’ sebagai Pahlawan Nasional

Wakil Ketua DPD KNPI Kabupaten Buton, Muhammad Risman (Foto: IST)
Keterangan Gambar : Wakil Ketua DPD KNPI Kabupaten Buton, Muhammad Risman (Foto: IST)

BUTON – DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Buton sebagai himpunan pemuda sangat mengapresiasi langkah tim penyusun persiapan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi asal Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai pahlawan nasional.

Dengan keberadaan Dr Tasrifin Tahara, Tim Penyusun Naskah Akademik dan sekarang usulannya telah masuk “Tim Tujuh” Kepresidenan-RI untuk di tindaklanjuti. Tim tujuh merupakan dewan juri sampai final yang mengkaji para tokoh pejuang kemudian akan ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Kepres) sebagai pahlawan nasional.

“Sangat yakin, Tim penyusun di daerah ada Dr Tasrifin Tahara merupakan Dosen Antropologi Unhas, kapisitas beliau tidak di ragukan lagi mengenai kajian-kajian sejarah para tokoh apalagi untuk di negerinya sendiri,” ujar Wakil Ketua DPD KNPI Buton, Muhammad Risman.

Ali Mazi selaku Gubernur Sultra, lanjut Risman, sudah menyatakan dukungan kepada Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi sebagai pahlawan Nasional. Maka ini harus menjadi kado teristimewa di usia Sulawesi Tenggara yang ke-55.

Diketahui, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi Ibnu Sultani Liyauddin Ismail Muhammad Saidi yang memiliki nama kecil La Karambau dan kelak di masa gerilya melawan VOC/Belanda diberi gelar Oputa yi Koo (sultan di hutan) oleh rakyat adalah putra Sultan Buton ke-13, Liyauddin Ismail.

Ia naik tahta pada 1750 sebagai Sultan Buton ke-20 menggantikan Sultan Saqiuddin Darul Alam (La Ngkariyriy/Oputa Sangia).

Sebelum menjadi sultan, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi menjabat sebagai Kapitalau Matanaeo (Panglima Kawasan Timur) yang selama penugasannya berhasil mengkoordinasikan pembangunan benteng-benteng pertahanan di hampir seluruh wilayah Kesultanan Buton.

Dari 37 orang Sultan Buton yang memerintah selama 38 masa pemerintahan yang berlangsung ±4 abad (1541-1960), Himayatuddin lah satu-satunya sultan yang menjabat dua kali, pada 1750-1752 sebagai sultan ke-20 dan pada 1760-1763 sebagai sultan ke-23.

Ciri menonjol dalam dua masa pemerintahannya bahkan setelah tidak menjabat lagi sebagai sultan hingga wafatnya adalah rentetan konflik dan perang yang dikobarkannya melawan VOC/Belanda.

Kata Risman, sehingga peran Pemerintah Daerah (Pemda) kabupaten dan kota di kepulauan Buton (Baubau, Buton, Buton Tengah, Wakatobi dan Buton selatan) mendukung agar apa yang diperjuangkan oleh Oputa Yi Koo dikenang sebagai pahlawan nasional dan menjadi inspirasi bagi kalangan generasi muda Buton.

Maka sudah saatnya seluruh Pemda kabupaten dan kota di kepulauan buton yang merupakan wilayah kesultanan Buton, tambah Risman, untuk dapat mendukung. Bila perlu secara tertulis dari masing-masing daerah agar menguatkan kepada Oputa Yi Koo layak menjadi pahlawan basional.

“Dengan itu, akan juga menghapus stigma buruk bahwa Kesultanan Buton pada zaman dahulu bersekutu dengan Belanda tetapi sejarah Oputa Yi Koo menjadi catatan sejarah Buton kembali terkait perlawanan kepada VOC atau Belanda pada zaman itu,” jelasnya.

Laporan: Jubirman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *