Kampanye dan Pilihan Konstituen

Keterangan Gambar : Alumnus Pasca Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung, La Nesa

OPINI ­- Tak lama lagi pemilukada serentak pada 9 Desember 2020 akan digelar di berbagai daerah.  Para tim sukses masing-masing calon kepala daerah/wakil kepala daerah telah disibukkan dengan segala persiapan  untuk mengkampanyekan calon yang diusungnya agar didukung dan dipilih saat pencoblosan nanti.

Sementara itu, banyak pihak yang mempertanyakan dengan nada keraguan, apakah  kegiatan kampanye yang akan berlangsung benar-benar mempengaruhi pilihan konstituen pada hari pencoblosan nanti?

Pertanyaan dan keraguan itu muncul karena adanya kenyataan-kenyataan berikut, Pertama, konstituen yang mengikuti kegiatan kampanye calon kepala daerah/wakil kepala daerah pada dasarnya sudah menjadi pengikut atau simpatisan calon tersebut. Dengan kata lain, konstituen yang hadir sudah menentukan pilihannya.

Kedua, cara-cara yang digunakan di dalam kampanye tidak memberikan peluang untuk beradu argumentasi dalam rangka mengkaji dan mencari kebenaran. Ketiga, banyak orang menilai kampanye adalah “mengobral janji”, kadang realisasinya tidak memberi jaminan yang pasti. Keempat, sebagian besar konstituen menjatuhkan pilihan bukan berdasarkan program pembangunan yang ditawarkan saat kampanye, tetapi berdasarkan pertimbangan rasional-emosional-objektif pada performance calon kepala daerah/wakil kepala daerah selama ini.

Namun, terlepas dari keraguan itu, menurut kajian ilmu psikologi komunikasi dijelaskan bahwa kampanye merupakan forum dan kesempatan untuk  “membujuk” dan meyakinkan konstituen untuk memilih salah satu calon kepala daerah/wakil kepala daerah.

Kampanye  dikatakan berhasil apabila dapat menjawab dengan tepat aspirasi, kebutuhan, dan harapan konstituen. Ada tiga faktor keberhasilan kampanye yang dapat mempengaruhi pilihan konstituen yaitu karakteristik sumber komunikasi (komunikator), karakteristik pesan, dan karakteristik audiens (konstituen).

Karakteristik Komunikator; ada tiga karakteristik komunikator yang mempengaruhi yaitu kredibilitas, daya tarik, dan otoritas. Kredibilitas komunikator saat kampanye dapat dilihat dari keahlian dan keterandalan. Keahlian adalah luasnya pengetahuan yang kelihatan/nampak dimiliki komunikator, sedangkan keterandalan merujuk pada niat komunikator yang nampaknya tulus dan tidak memiliki keinginan untuk membodohi konstituen.

Sedangkan daya tarik komunikator berdasarkan pada beberapa faktor yaitu penampilan fisik, menyenangkan, disukai, dan adanya kesamaan dengan konstituen. Masing-masing aspek ini berkaitan erat satu sama lain,karena tiap-tiap aspek dari daya tarik mempengaruhi persepsi tentang aspek lainnya.

Misalnya komunikator yang memiliki daya tarik fisik dipersepsi lebih menarik dan cakap daripada yang kurang menarik. Konstituen cenderung menyukai komunikator yang mirip dengan dirinya dalam hal sikap, minat, nilai, dan kepribadian. Komunikator yang tidak disukai pada umumnya tidak efektif dalam mempengaruhi pilihan konstituen saat kampanye meskipun isu yang disampaikan merupakan hal-hal nyata.

Dan otoritas komunikator merujuk pada kekuasaan untuk memberi ganjaran/imbalan atau menghukum sasaran komunikasi (konstituen). Konstituen  memilih karena otoritas, meskipun terpaksa tetapi lama kelamaan terinternalisasi dan diterima secara pribadi.

Karakteristik Pesan; pesan yang disampaikan saat kampanye bila sesuai dengan pandangan atau nilai-nilai dari konstituen akan cenderung lebih diterima dan mempengaruhi pilihannya. Karenanya, dari tujuan dan tema utama kampanye dibuat pesan-pesan yang sesuai dengan kebutuhan, minat, dan terutama pada nilai-nilai yang dianut oleh konstituen.

Sebuah pesan dapat mempengaruhi pilihan konstituen bilamana masuk akal dan dapat memunculkan penilaian positif terhadap pesan tersebut. Penilaian positif muncul dari seberapa banyak keuntungan psikologis  yang diperoleh dari pesan yang disampaikan. Ketika pesan yang disampaikan dinilai hanya sebatas obral janji, maka akan muncul penilaian negatif dan tidak memberikan makna bagi keberhasilan kampanye.

Pesan dalam kampanye dapat dikatakan efektif bilamana memperhatikan beberapa hal berikut: (1) terjadi pada frekuensi tertentu; misalnya pesan itu  disampaikan berulang-ulang kali pada waktu dan konteks  yang berbeda sehingga menarik perhatian; (2) Ada intensitas tertentu; menampilkan daya tarik yang agak aneh atau lain daripada kebiasaan-kebiasaan yang normal;     (3) memunculkan gerak dan perubahan; pesan yang ditampilkan hidup dan dinamis  sehingga mengajak orang lain untuk memperhatikannya; (4) Berkesan; kata dan gerak yang ditampilkan memberikan makna yang sulit untuk dilupakan sehingga tersimpan dalam skema kognitif konstituen.

Kemudian, pesan akan bermakna bilamana memperhatikan tiga hal berikut:

  1. Tata bahasa; tata bahasa merupakan aturan yang mengatur komunikator berbahasa secara baik dan benar sehingga komunikasi lebih efektif. Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan, yaitu memilih kata, menyusun kalimat yang baik dan benar, menggunakan ejaan dengan tepat, dan memakai imbuhan yang beraturan. Didalam kampanye, setiap konstituen mempunyai kemampuan mengontrol yang sangat tinggi sehingga sekecil apapun kesalahan harus dihindari.
  2. Mengetahui dan Mengenal Konstituen; komunikator harus memahami kebiasaan-kebiasaan dan perilaku konstituen, apa tema yang tepat dan sangat disukai, pesan non verbal mana yang tidak disukai, kepatutan dan ketidakpatutan yang dikehendaki, dan kebutuhan konstituen. Ketika ini dipahami dengan baik maka pesan yang disampaikan menarik perhatian dan memberikan reaksi positif.
  3. Mengenal Situasi atau Konteks; setiap konstituen senantiasa memperhatikan situasi kampanye karena setiap pesan dapat bermakna dalam situasi sosial tertentu. Situasi tidak saja menunjukkan tempat tetapi lebih dari itu suasana atau kondisi berlangsungnya kegiatan kampanye.

Karakteristik audiens (Konstituen); disini perlu diperhatikan harga diri, kebutuhan, dan intelegensi konstituen karena berhubungan dengan penentuan pilihannya. Konstituen dengan harga diri tinggi pada umumnya sulit untuk dipengaruhi saat kampanye karena mereka memiliki keyakinan akan pendapatnya.

Evaluasi dirinya tinggi membuat komunikator yang kredibel dipersepsi kurang kredibel. Konstituen yang memiliki harga diri tinggi cenderung berpikir lebih banyak mengetahui informasi yang disampaikan oleh komunikator. Sedangkan konstituen dengan harga diri rendah lebih mudah dipengaruhi karena biasanya mereka memberikan penilaian yang rendah pada opininya dan kemungkinan besar akan mengubahnya ketika ada pesan baru.

Sementara konstituen yang intelegensinya tinggi lebih baik dalam memahami pesan yang kompleks meskipun kurang bersedia menerima pesan yang disampaikan. Sedangkan konstituen yang intelegensinya rendah lebih mudah dipengaruhi meskipun kurang memahami maksud pesan yang disampaikan. Keberhasilan kampanye akan tercapai bila pesan yang disampaikan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh konstituen.

Dan akhirnya, kegiatan kampanye akan berdampak positif bilamana tim sukses mampu memahami aspek karakteristik komunikator, karakteristik pesan, dan karakteristik konstituen. Jika  tiga aspek ini kurang dipahami dan diperhatikan dengan baik saat kampanye, maka  kegiatan kampanye yang dilakukan tidak memberikan hasil yang optimal.

Penulis: La Nesa (Alumnus Pasca Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung)

Potretsultra
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *