Gimik Elit, Garuda dan Substitusi Elit

Keterangan Gambar : Ketua Law & Philosophy Community, La Ode Sakiyuddin

OPINI – Heboh Kasus Penyeludupan Harley Davidson melalui maskapai plat merah, Garuda telah menyita perhatian publik tanah air. Sejumlah borok yang di duga di lakukan oleh direksi Garuda kemudian terungkap baik melalui pemberitaan resmi maupun tidak resmi (seperti akun Twitter digembok). Tak ayal banyak pihak langsung memberikan pujian Kpd Mentri BUMN baru Erick Tohir. Buzzer pun aktif memberitakan kesuksesan Mentri Jokowi yang juga pengusaha kawakan itu. Bahkan analisa, Erik Tohir sebagai candidat Capres periode ke depan bermunculan dalam diskusi netizen di media sosial.

Di tempat berbeda, Prof. Rhenald Kasali justru memilih berbeda dengan memuji kesuksesan Ari Akhsara. Mantan Dirut Garuda yang di “telanjangi” habis-habisan oleh akun Twitter digembok. Dimana seluruh “dosa” nya diungkap yang mana tak banyak orang menyadari argumentum ad hominem sedang di lancarkan oleh pihak tertentu dengan pretensi menggusur “rejim” Akhsara di garuda.

Kembali kepada Prof Rhenald Kasali yang memilih “pro” Ari Akhsara, menurut ekonom kawakan Universitas Indonesia tersebut Ari adalah satu orang yang berjasa dlm peningkatan pemasukan Garuda.

Prof Rhenald menulis, “Saya dengar dan amati anak ini, Ari Askhara, orang baik, lurus, pandai, dan pekerja keras. Dia mau mengotori tangannya untuk lakukan hal-hal yang belum tentu orang mau melakukannya demi memajukan Garuda. Hanya saja dia adalah #newpower yang berhadapan dengan logika-logika lama, #oldpower. Jadi kita harus sedikit sabar dan mau lebih terbuka. Jangan gegabah, jangan salah tembak. Sebelum itu Prof Rehald menulis “, harus kita catat dari dulu, setiap ada perbaikan di Garuda, selalu ada yang ribut kok. Itu harusnya kita bertanya mengapa?

Kalimat terakhir dari ulasan Rhenald Kasali diatas terasa menggantung dan memunculkan tanya di benak. Mengapa ?

Sudah mafhum di ketahui setiap pergantian kekuasaan pasti juga terjadi pergantian elit. Ada elit lama dan elit baru. Membahas elit tdk afdol jika tdk menyebut Pareto. Menurut Pareto, masyarakat terdiri dari dua kelas yaitu : (1). Lapisan atas, yaitu elite, yang terbagi ke dalam elit yang memerintah (governing elite), dan elit yang tidak memerintah (non-governing). (2). Lapisan yang lebih rendah, yaitu non-elite. Masih menurut Pareto, Konsep pergantian elite juga dikembangkan oleh Pareto. Ia mengemukakan berbagai jenis pergantian elite, yaitu pergantian: (1). di antara kelompok-kelompok elite yang memerintah itu sendiri. (2). di antara elite dengan
penduduk lainnya.

Elit adalah sekelompok kecil dalam lapisan masyarakat yang memegang pos-pos kekuasaan. Sehingga tak jarang terjadi konflik antar elit dalam usahanya menduduki pos kekuasaan tersebut. Sebagaimana di ungkapkan Max Weber bahwa Konflik terjadi di dorong oleh kepentingan-kepentingan . Lebih spesifik dalam teori Marxisme memandang konflik terjadi karena kepemilikan harta benda.

Demikian ketika Erick Tohir menduduki jabatan Mentri BUMN. Menurut khabar, Erick di beri tugas “membersihkan” kepentingan Rini Soemarno (RS). Walaupun keburu di bantah oleh Istana. Penyeludupan dan isu moral yang menimpa jajaran direksi Garuda cukup sadis untuk membongkar kembali orang-orang yang menduduki jabatan strategis dalam lingkup petinggi Garuda.

Tetapi bukankah Rini Soemarno adalah juga pembantu (Menteri) Jokowi selama lima tahun terakhir ? Olehnya itu kebobrokan lima tahun terakhir adalah bagian dari kebobrokan Jokowi ?

Gimik elit dalam memperebutkan kekuasaan atau dalam bahasa Weber – Kepentingan, selalu menjadi tontonan menarik untuk masyarakat kecil. Tak jarang “drama” elit tersebut di bungkus dengan bentuk lain yang seakan konflik yang terjadi dengan tujuan perjuangan untuk mewujudkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran semata. Padahal faktanya hanyalah soal tahta atau harta.

Belum redup soal Garuda, kini mengemuka kasus Jiwasraya. Berbeda dengan Garuda yang dimana Erik Tohir muncul sebagai “super Hero”, di kasus Jiwasraya Erik jadi cenderung pasif.

Tentu dalam rabaan kita, di duga, hal ini disebabkan antara elit dlm kasus Jiwasraya adalah satu kesatuan – dalam bahasa Mosca – satu kelompok Oligarki. Sehingga tdk muncul konflik elit yang menajam sebagaimana kasus Garuda.

Erving Goffman mengemukakan teori menarik untuk menjelaskan situasi seperti ini. Teorinya dikenal dengan Dramaturgi. Dimana serentetan fakta sosial hanya merupakan pertunjukan drama oleh para aktor politik. Dimana ada front stage (depan layar) dan back stage (belakang layar). Front Stage terbagi atas dua, setting dan Front personal. Front personal juga terbagi atas dua yaitu penampilan sang aktor dan gaya. Gaya berarti mengenalkan peran macam apa yang dimainkan aktor dalam situasi tertentu. Back stage (panggung belakang) yaitu ruang dimana di situlah berjalan skenario pertunjukan oleh tim.

Mengapa di kasus Garuda super aktif dan di kasus Jiwasraya melempem ? Nilai apakah yang di perjuangan Erik ?. Kenapa judul “bersih-bersih” hanya untuk Garuda ?

So, jangan terlalu baper dengan namanya politik (us).

Penulis: La Ode Sakiyuddin (Ketua Law & Philosophy Community)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *