Dosen Mesin UHO Gali Potensi Desa Puasana Konsel Lewat Pengabdian Masyarakat

Keterangan Gambar : Dosen ProdikTeknik Mesin S-1 UHO melalui PKMI melakukan bimbingan teknis kepada para kelompok masyarakat pencetak batako,secara efektif tentang pengoperasian alat pencetak batako menggunakan sistem pneumatik dan mentransferkan pengetahuan tentang tata cara pembuatan alat pencetak batako di Desa Puasana Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konsel (Foto:Dok Teknik Mesin)

KENDARI – Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu elemen tridarma perguruan tinggi dan juga menjadi kewajiban dosen untuk berkontribusi untuk negeri. Ketiga elemen tersebut menjadi aksi dari keterlibatan perguruan tinggi dalam pembangunan dan menghilangkan isolasi dunia akademik terhadap persoalan masyarakat. Selain itu, masyarakat juga akan mendapatkan bekal untuk menyelesaikan permasalahan dan menjawab tantangan dalam kehidupannya.

Sebagaimana bentuk aksi nyata pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan Dosen Program Studi (Prodi) S1 Teknik Mesin Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari di wilayah pesisir Desa Puasana, Kecamatan Moramo Utara,Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), yang melibatkan tiga orang tim dosen yakni Budiman Sudia, ST MT, selaku Ketua Prodi S1 Mesin UHO,Ir Samhuddin MPW,dan La Hasanuddin S.ST M Eng, (anggota).

Budiman Sudia mengatakan, memang setiap dosen wajib melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang menjadi komponen perwujudan tridarma perguruan tinggi selain mengajar dan meneliti. Melalui Program Kemitraan Masyarakat Internal Universitas Halu Oleo (PKMI-UHO) melakukan bimbingan teknis kepada para kelompok masyarakat pencetak batako, secara efektif tentang pengoperasian alat pencetak batako menggunakan sistem pneumatik dan mentransferkan pengetahuan tentang tata cara pembuatan alat pencetak batako di Desa Puusana.

Tujuan yang ingin dicapai yakni “Meningkatkan Lingkungan masyarakat yang terdidik dengan memanfaatkan sumber informasi dan teknologi serta sarana pendidikan yang telah ada untuk memaksimalkan potensi sumber daya manusia di Desa Puasana”.

Menurutnya, Teknologi Tepat Guna (TTG) dibidang peralatan penunjang produksi pada batako sangat penting untuk dipahami dan dikuasai oleh para penggunanya. Karena memiliki dampak positif yang sangat besar dalam mengembangkan usaha batako.Kata dia,pengunaan batu batako saat ini sangat diminati masyarakat sebagai bahan bangunan dasar dalam merenovasi bahkan membuat hunian baru.

Lanjutnya, batako hadir untuk menggantikan batu bata yang berbahan dasar tanah liat atau lebih dikenal dengan batu merah. Disamping kualitas lebih baik, ukurannya pun lebih besar dibandingkan dengan batu merah serta pembuatannya relatif lebih efektif karena bisa dikerjakan diarea yang tidak terlalu luas.

Beberapa masyarakat saat ini didesa Puasana beralih membuka usaha pencetakan batako karena permintaan yang cukup besar bagi masyarakat yang akan membangun huniannya dari segi hasil penjualannya pun cukup menguntungkan.

Saat  ini lebih lanjut dia, alat yang digunakan para kelompok masyarakat pencetak batako masih menggunakan cetakan manual yang hasil produksi relatif kecil serta biaya produksinya cukup besar sehingga keuntungan yang didapatkan kurang maksimal.

Kehadiran teknologi tepat guna pada alat pencetak batako merupakan suatu terobosan dalam membantu para pencetak batako untuk meningkatkan produksi, kualitas dan keuntungan.

Pemahaman terhadap teknologi tepat guna di bidang peralatan penunjang produksi pada batako sangat penting untuk dipahami dan dikuasai oleh para penggunanya. Karena memiliki dampak positif yang sangat besar dalam mengembangkan usaha batako mereka mulai dari cara kerja dan pembuatan alat yang lebih sederhana untuk dipahami agar teknologi yang sampaikan dapat terealisasi secara maksimal dan bermanfaat.

Ia lebih detail lagi menjelaskan, pengunaan batu batako saat ini sangat diminati masyarakat sebagai bahan bangunan dasar dalam merenovasi bahkan membuat hunian baru. Batako hadir untuk menggantikan batu bata yang berbahan dasar tanah liat atau lebih dikenal dengan batu merah, disamping kualitas lebih baik, ukurannya pun lebih besar dubandingkan dengan batu merah serta pembuatannya relatif lebih di efektif karena bisa dikerjakan diarea yang tidak terlalu luas.

Setelah adanya bimbingan teknis tersebut ,ungkapnya lagi, masyarakat di Desa Puasana beralih membuka usaha pencetakan batako karena permintaan yang cukup besar bagi masyarakat yang akan membangun huniannya dari segi hasil penjualannya pun cukup menguntungkan.

Saat ini alat yang digunakan para kelompok masyarakat pencetak batako masih menggunakan cetakan manual yang hasil produksi relatif kecil serta biaya produksinya cukup besar sehingga keuntungan yang didapatkan kurang maksimal.

Penggunaan TTG saat ini memiliki peran yang sangat penting dalam membantu masyarakat khususnya para pencetak batako dalam membantu produksi mereka. Kehadiran teknologi tepat guna pada alat pencetak batako merupakan suatu terobosan dalam membantu para pencetak batako meningkatkan produksi, kualitas dan keuntungan.

Mulai dari cara kerja dan pembuatan alat yang lebih sederhana untuk dipahami agar teknologi yang sampaikan dapat terealisasi secara maksimal dan bermanfaat.

Ia lebih jauh menjelaskan sebelumnya permasalahan wilayah Puusana belum mengetahui cara TTG dalam alat pencetak batako dengan sistem pneumatik. Namun alhasil dari bimbingan teknis kepada kelompok masyarakat pencetak batako, saat ini sudah bisa merancang atau membuat sendirinya.

Ouput program PKMI adalah akan menambah wawasan pengetahuan yang lebih teknis dalam merancang teknologi tepat guna sesuai dengan bidang usaha yang dikerjakan. Selain itu akan mendapat kemudahan dan keuntungan masyarakat dalam memproduksi batako dan terciptanya lapangan kerja baru bagi sehingga menikatkan kesejateraan masyarakat.

“Kehadiran kami di desa untuk melihat potensi apa kedepan yang kira-kira yang memiliki peluang yang perlu dikembangkan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Paling penting adalah kemajuan ekonomi,membuka peluang kerja baik usia produktif, karang taruna, kemudian mengurangi pengangguran serta dampak sosial.

“Kami pun saat berbincang dengan Kepala desa Poosana iya mengatakan bahwa krgiatan seperti ini sangat positif dan potensial karena banyak ide-ide kreaktif yang bisa memancing keinginan memberdayakan kemampuan mereka dibidang lainya,” jelasnya Budiman Sudia ditemui diruang kerjanya, Jumat (20 Desember 2019).

Ia menambahkan lagi, perlu diketahui Desa Puasana salah desa yang terdapat di wilayah pemerintahan Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan dengan ibu kota Kelurahan Lalowaru. Secara geografis sebagian besar wilayah desa tergolong daerah pesisir pantai dengan topografi daratan.

Berdasarkan topografi, Desa Puasana memiliki karateristik wilayah yang beraneka ragam antara lain terletak pada ketinggian dari permukaan laut antara 0,5 – 10  Mtr dengan luas Wilayah seluas 4.080 Ha.

Jumlah penduduk Desa Puasana sebesar 684 jiwa, terdiri dari 332 jiwa laki-Iaki dan 352 jiwa perempuan, dengan Jumlah Kepala Keluarga Sebanyak 182. Desa Puasana pula merupakan desa pertanian, karena masyarakatnya sebagian besar bekerja dalam bidang pertanian. Sedangkan yang lainnya adalah wiraswasta, jasa dan lain- lain.

Tingkat pertumbuhan ekonomi Desa dalam kurun waktu tertentu baik secara menyeluruh maupun sektoral.

“Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya angka pendapatan perkapita penduduk desa yang ditimbulkan oleh terbukanya berbagai sektor lapangan usaha yang melakukan kegiatan usahanya dengan  membutuhkan  mayoritasnya  keterlibatan masyarakat sebagai sumber daya utama yakni salah satunya usaha rumahan membuat batu bata atau yang umum dikenal dengan sebutan batako,” tutupnya.

Laporan: La Ismeid

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *