Cerita Yati Lukman: Dari Jualan Kue Hingga Jadi Istri Wagub

Keterangan Gambar : Yati Lukman Bersama Suami (Foto: IST)

KENDARI – Istri Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Yati Lukman Abunawas telah menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis (27/6/2019) di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar pukul 00.15 waktu setempat, akibat penyakit Hepatitis B yang dideritanya sejak Ramadan 1440 Hijriah.

Lukman Abunawas mengaku bersedih dan masih sangat mencintai istri tercintanya itu yang berpulang begitu cepat. Dalam sambutannya di upacara penghormatan terakhir bertempat di Gedung DPRD Provinsi Sultra, orang nomor dua di Sultra itu terlihat tampak aura kesedihannya dengan mata berkaca-kaca saat menerima langsung jenazah dan akan dikebumikan di Kelurahan Konawe, Kecamatan Konawe Kabupaten Konawe.

“Allah Swt lebih menyayanginya, untuk itu mari kita ikhlaskan kepergian Almarhumah istri saya tercinta,” ucap Lukman di Gedung DPRD Sultra.

Meski begitu, Lukman Abunawas telah mengikhlaskan kepergian Almarhumah istri tercintanya, wanita yang selama ini mendampingi hidupnya dari sejak ‘nol’ hingga duduk di jabatan sebagai Wakil Gubernur Sultra.

Dikutip dari buku “Lukman Abunawas : Merakyat dalam Kesederhanaan” yang ditulis oleh Yusran Taridala pada 2015 silam, dikisahkan bagaimana peranan besar sang istri dalam membawa Lukman Abunawas hingga berhasil duduk ke puncak kursi 02 di Bumi Anoa.

Terlahir dari Ayah, Si Pengusaha Rotan Ternama

Yati Lukman terlahir di Wawotobi Kabupaten Konawe, tepatnya pada tanggal 9 September 1959 dari pasangan suami-istri H. Pisi dan Hj. Siti Norma. Ayah Yati Lukman dikenal sebagai pebisnis ulet di masanya. Berbagai bisnis dilakoninya, termasuk bisnis pengumpulan dan penjualan rotan di Wawotobi.

Sang Ayah yang diketahui berdarah campuran Cina-Tolaki itu memiliki usaha perdagangan retail (memiliki kios besar) saat itu. Sedangkan sang Ibu bernama Hj. St. Norma merupakan putri dari seorang bangsawan Kasipute (Wawotobi). Siti Norma yang tak lain adalah ibu kandung Yati Lukman itu bersaudara kandung dengan Hj Siti Aminah yakni Istri Abd Rasak Porosi (mantan Bupati Kendari tahun 1993 – 2003).

Yati Lukman menamatkan pendidikan SD nya pada tahun 1974 dan pendidikan SMP nya pada tahun 1977. Kedua jenjang pendidikan itu diselesaikannya di Wawotobi, Kabupaten Konawe. Saat menikah dengan Lukman Abunawas, Yati memilih ikut suami yang saat itu merantau ke Makassar Sulawesi Selatan di akhir 1977 hingga tahun 1983. Di daerah perantauan itu, Yati masih menunda untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMA.

Di Makassar, Yati Sempat Jualan Kue

Saat di Makassar, Yati sempat mengikuti kursus kecantikan di Salon Sayonara. Selain itu, ia juga melakukan aktivitas-aktivitas nafkah untuk membantu Sang Suami dengan berjualan kue di Kantin SMP Ramayana Makassar.

Tak hanya itu, Yati Lukman juga membuka usaha jasa gunting rambut kecil-kecilan di rumah kontrakan mereka di Maros, Sulawesi Selatan. Karena saat itu, Lukman Abunawas sudah berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemerintah Daerah (Pemda) Maros dengan golongan II/a.

Di akhir Februari 1982, Yati Lukman sempat pulang ke kampung halamannya di Wawotobi untuk mendaftar ke SMA Wawotobi. Namun itu hanya beberapa hari saja, ia lalu kembali ke Maros hingga beberapa bulan sesudahnya. Namun pada tahun 1983, Yati dan dua anaknya diboyong Sang Suami untuk pulang dan menetap ke Kendari, Sulawesi Tenggara. Kesempatan itu Ia manfaatkan untuk melanjutkan pelajaran  di SMA Wawotobi hingga tamat pada tahun 1984.

‘Suka dan Duka’ Jadi Istri Bupati

Nasib berujung baik. Hanya beberapa bulan saja ia memperoleh Ijazah SMA, Yati Lukman malah berhasil mengikuti jejak suaminya pada 1 Maret 1985 di jalur birokrasi dengan masuk menjadi PNS dengan golongan II/a di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendari. Saat itu masa pemerintahan Bupati Andry Djufry.

Sewaktu suami menjabat sebagai Kadis Tata Ruang Kabupaten kendari tahun 1998, Yati melanjukan pendidikannya pada jenjang S-1 jurusan Ilmu Pemerintahan  di Universitas Terbuka. Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan (S.IP) berhasil diraihnya pada tahun 2002.

Ditakdirkan menjadi ibu Bupati  di tahun 2003, Yati mulai melewati masa-masa panjang mendampingi  tugas suami sebagai ketua tim penggerak PKK, ketua Dharma Wanita Persatuan, sekaligus pernah menjabat sebagai ketua BKMT Kabupaten Konawe. Masa-masa panjang ini pun dilaluinya dengan segenap suka dan duka yang datang silih berganti.

Sebagai ibu Bupati, Yati tentu  bangga dan merasa  dihargai oleh banyak orang, meski itu pun harus dibayarnya dengan waktu dan tenaga yang cukup banyak terkuras untuk melayani dan mendengar keluhan  orang-orang di sekitarnya. Tapi ia juga sering mengurut dada di saat-saat tertentu,  terutama bila sang suami menghadapi masa-masa yang sulit.

Sebagai istri, Yati Lukman juga tentu saja ikut susah bila Sang Suami mendapati kesusahan. Demikian pula sebaliknya, ia menjadi tersenyum dan menikmati hidupnya sebagai ibu Bupati bila sang suami sedang tersenyum.

Lepas PNS dan Hijrah ke Politik

Memasuki tahun terakhir masa jabatan suaminya sebagai Bupati Konawe, Yati mulai merasa letih berada dalam lingkungan birokrasi. Pada kesempatan berdua dengan suami, ia pernah mengatakan akan mundur dari PNS dan mencari partai untuk maju bertarung sebagai calon anggota legislatif. Sang suami pun setuju.

Kata-kata itu kemudian dibuktikan Yati pada beberapa hari setelah masa jabatan Lukman Abunawas sebagai Bupati Konawe berakhir. Yati mengundurkan diri dari PNS dan meninggalkan jabatan terakhirnya sebagai Kepala Bidang Sosial Budaya pada kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat desa (BPMD) Kabupaten Konawe dengan pangkat golongan IV/b.

Menjelang Pemilu legislatif tahun 2014, Yati memutuskan menjadi politisi dan masuk ke partai Nasional Demokrat (Nasdem) Sultra. Meski sempat diajak oleh Kery Syaiful Konggoasa (Ketua DPD PAN Konawe) untuk masuk ke PAN, namun merasa terlanjur berada di Nasdem, Yati tetap bersikukuh memulai karir politiknya di partai besutan Surya Paloh itu.

Pilihan politik Yati ketika itu ternyata tepat. Menjadi Caleg di partai Nasdem akhirnya mengantarkannya duduk sebagai Anggota DPRD Sultra mewakili Dapi Konawe dan Konawe Utara untuk periode 2014 – 2019. Di pihak lain, ia  bsa tetap kembali mendampingi suami di Kendari yang telah menjabat sebagai Sekda Provinsi, sebuah perjalanan hidup yang telah diatur dengan indah oleh Allah SWT.

Merantau ke Makassar, ‘Berpulang’ di Makassar

Pada tahun 2019, setelah status pribadi Yati Lukman menjadi ibu wakil Gubernur Sultra, ia juga kembali bertarung di perhelatan politik Pilcaleg melalui Dapil Konawe, Konut, dan Konkep. Walhasil, dengan elektabilitas yang masih tinggi Yati Lukman kembali dipersilahkan untuk duduk sebagai Anggota DPRD Provinsi Sultra di masa jabatan 2019 – 2024.

Namun, sayang di periode keduanya ini Yati tak sempat lagi mendermakan dirinya untuk Sultra sebagai legislator. Karena Yati Lukman telah dipanggi oleh Sang Pencipta, Allah Swt untuk berpulang dan menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Yati diketahui menderita penyakit Hebatitis B dan menjalani pengobatan di Makassar sejak Bulan Suci Ramadhan 1440 H/2019 M ini. Namun di momen Idul Fitri, Yati sempat kembali pulang Ke Kendari untuk mendampingi sang Suami yang bertugas sebagai Wagub Sultra menggelar Open House sampai hari Selasa (10/6/2019) Yati kembali ke Makassar untuk melanjutkan pengobatan. Namun sayangnya ia tak bisa disembuhkan lagi. Di tempat perantauannya dahulu, ternyata menjadi tempat menghembuskan nafas terakhirnya pula. Yati telah “berpulang” di Makassar pada dini hari Pukul 00:15 Wita, Kamis (27/6/2019).

Editor: Jubirman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *