Webinar Unsultra Bersama PATPI ” Soal Mitigasi Covid 19 Melalui Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal

Keterangan Gambar : Webinar Unsultra bekerjasama PATPI Pusat (Foto: Ist)

Potretsultra

KENDARI-  Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) terus berkiprah mencari solusi yang terbaik dalam tantangan pasca pandemi covid 19 dan memasuki era new normal, bagimaan tidak, ditengah mewabanya penyakit global dunia ini, dapat melumpuhkan seluruh aktivitas kegiatan manusia tidak hanya dunia pendidikan namun dalam segala sektor kehidupan ekonomi ikut terhenti.

Kali ini Unsultra bekerjasama dengan lembaga Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Pusat, menggelar webinar nasional soal Mitigasi Covid 19 Melalui Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal” Sabtu (13/6/2020)

Rektor Unsultra, Prof Dr  Ir H Andi Bahrun, MSC Agric, mengatakan, dunia  tengah menghadapi permasalahan serius dengan munculnya Covid-19. Sejak awal adanya wabah Pandemi Covid 19 masyarakat dunia dan Indonesia telah melakukan langkah pencegahan dan penanganannya, mulai sanitasi lingkungan, penyediaan alat Pelindung diri (APD), pembatasan pergerakan barang, logistic dan orang pada berbagai skala (Gobal, Regional dan Lokal), dan lain sebagainya serta peningkatan imun melalui berbagai suplemen perbaikan gizi seperti vitamin.

Dikatakanya, kepercayaan masyarakat akan peran perbaikan gizi atau suplemen yang dapat mencegah penularan dan mempercepat kesembuhan bagi yang terpapar Covid 19, menunjukkan tren semakin tinggi, terlebih lagi memasuki era new normal.

Lanjut Andi Bahrun, kepercayaan masyarakat ini diperkuat oleh para ahli seluruh dunia, antara lain peraih Nobel Kimia, Linus Pauling, di mana vitamin C memiliki kemampuan melawan penyakit dan diklaim dapat mengatasi epidemic flu babi (Swine flu), hasil research Perguruan tinggi dan Lembaga Research dalam dan luar negri, edukasi oleh pemerintah dan  para pihak serta juga oleh adanya kekayaan khasana kearifan lokal yang diseluruh Indonesia.

“Pemerintah, PT, Swasta dan semua elemen masyarakat Indonesia terbukti melakukan lompatan jauh dan melakukan percepatan dalam berinovasi menemukan berbagai teknologi dalam upaya pencegahan dan penanganan Covid 19, termasuk peningkatan imun melalui kekayaan sumber daya alam kita seperti pangan lokal atau fungsional berbasis sumber daya lokal,” jelas Andi Bahrun.

Prof Andi Bahrun

Ketua Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) Komisariat Daerah (Komda)  Sultra ini mengatakan, terdapat  269 Juta Penduduk Indonesia tidak boleh lapar, harus hidup sehat dan produktif saat dan pasca Covid 19 atau era new normal. Oleh karena itu disamping mematuhi protokol Kesehatan yang ada, salah satu yang perlu kita galakan adalah upaya kita agar imun masyarakat harus tetap kuat sehingga terhindar dari wabah Covid 19 dan bagi mereka terpapar Covid 19 bisa cepat sembuh.

Sambungnya, Indonesia tergolong Mega Biodiversity termasuk sumber bahan pangan fungsional, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampau Pulau Rote, sehingga arah pemenuhan pangan saat ini dan masa depan, jangan hanya fokus mengatasi kelaparan (sekedar terpenuhi kebutuhan) tetapi harus fokus pada pangan yang berkualitas dan menjadi pencegah dan atau obat bagi penyakit yang berbahan baku sumber daya lokal, tetapi perlu didukung inovasi teknologi supaya digemari masyarakat terutama anak -anak dan kaum milenial, serta dukungan kebijakan tepat dari pemerintah.

Unsultra kata Andi Bahrun, sebagai Insitusi Pendidikan dan bersama PT lain serta semua pemangku kepentingan merasa sangat berkepentingan untuk memberi kontribusi ril terhadap program-program pembangunan pertanian, khususnya percepatan pembangunan pertanian khususnya penyediaan pangan fungsional yang berbasis pada kearifan lingkungan dan sosialnya sehingga mampu meningkatkan gizi masyarakat, memperbaiki kesehatan dan ketahanan masyarakat, mengangkat kesejahteraan petaninya dan menopang kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.

“Kebersamaan kita hari ini, di era new normal pandemic Covid 19, kita berkomitmen kuat untuk bergotong royong dan bersinergi guna menghadirkan dan memproduksi pangan fungsional berbasis sumber daya nusantara, alias asli (local) Indonesia. Kalau bukan kita siapa lagi. Sebaik-baik kita adalah yang bermanfaat bagi orang lain, sebaik-baik Perguruan Tinggi atau institusi adalah yang bermanfaat daerah, bangsa, negara dan dunia,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama Ketua PATPI Pusat, Prof Dr Ur Usman Santoso MSC, dalam materi webinar “Mitigas Covid 19 dengan memanfaatkan pangan Lokal”

Dosen Fakultas Pertanian UGM menjelaskan, kata kunci dari lembaga PATPI yakni Indonesian Association OF Food Tecnologists atau “Memperkuat teknologi pangan indonesia untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama”.

Dalam mengatasi Krisis Pangan jelasnya, sejauh ini, PATPI sudah menawarkan solusi alternatif atas ketergantungan dengan pangan lokal. Sejak WHO menetapkan status COVID-19 sebagai pandemi 11 Maret 2020 wajah dunia berubah menjadi lain sama sekali. Terjadinya wabah COVID-19 berpengaruh terhadap berbagai segi kehidupan dan aspek sosial ekonomi, tak terkecuali industri pangan lokal.

Dijelaskanya, wabah COVID-19 telah mendisrupsi dunia, sehingga industri pangan dituntut siap menghadapi risiko tersebut dan mampu menjamin dapat memberikan pasokan pangan bagi masyarakat. Perlu usaha-usaha industri pangan mencari peluang dan mengembangkan inovasi-inovasi ke depan.

“Sehingga negara-negara melakukan Lock down dan berdampak pada kesehatan dan semua aspek kehidupan kita rasakan bersama dan semua negara waspada serta mengambil langkah- langkah tepat untuk menanggulangi menjalarnya covid 19, dengan menyediakan bahan pangan lokal ” katanya.

Selain dari pada Usaha-usaha untuk mencegah penyebaran covid Prilaku seperti jaga jarak phisical distancing, pakai masker, cuci tangan dan stay athome dan menggunakan antibody. Selain itu therapi dan jaga imun tubuh dan mengosumsi bahan-bahan lokal.

Sementara Ketua PATPI Kendari, Prof Dr Ir  H La  Rianda MSi, menegaskan, bahwa solusi pengembangan agroindustri pangan lokal seperti peoduk Sinonggi, Kambuse, Kasuami dan Kabuto (Sikkato) sebagai langkah mitigasi Covid 19, karena komponen tersebut, sebagai pemicu pengembangan agroindustri lokal yang berasal dari sagu, jagung dan ubi kayu.

” Salah satu solusi yang tepat ditengah pandemi pemerintah menghidupkan kembali lumbung pangan yang dikelolah masyarakat dan disentralisasi penyediaan pangan nasional agar memudahkan sistem distribusi terutama pada masa krisis atau wabah penyakit,” Covid 19,” pungkas Guru besar UHO ini.

Laporan : La Ismeid 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *