KONAWE KEPULAUAN – Akibat bencana angin puting beliung yang terjadi pada 11 Januari 2026 lalu di Kecamatan Wawonii Barat, ada empat rumah warga mengalami kerusakan.
Meski menimbulkan kerusakan material, bencana ini dipastikan tidak menelan korban jiwa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe Kepulauan Konkep) langsung bergerak cepat dengan menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan survei dan pendataan dampak bencana.
Kepala BPBD Konkep, Ir. Unang Sulaeman, ST, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Sahyudin, S.IP., M.Sos, menjelaskan bahwa rumah terdampak bencana puting beliung tersebut tersebar di tiga desa se Kecamatan Wawonii Barat.
Detailnya yakni, dua rumah berada di Desa Langara Bajo, satu rumah di Desa Langara Iwawo, serta satu rumah lainnya lokasinya di Desa Lantula yang terdampak akibat pohon tumbang.
“Tim BPBD Konkep telah turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi rumah warga serta menghitung tingkat kerusakan, termasuk perabot rumah tangga yang terdampak,” ujar Sahyudin saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (13/1/2025).

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Konkep, Sahyudin, S.IP, M.Sos
Lebih lanjut, Sahyudin menyampaikan bahwa BPBD Konkep akan segera melakukan pengkajian pasca bencana sebagai dasar pengusulan Surat Keputusan (SK) Tanggap Darurat. SK tersebut menjadi syarat utama untuk mendapatkan Bantuan Tidak Terduga (BTT) dari Pemerintah Kabupaten Konawe Kepulauan.
“Kami sudah melakukan survei dan pendataan. Selanjutnya akan dilakukan pengkajian cepat untuk mengetahui nilai kerusakan, kemudian diusulkan SK Tanggap Darurat agar bantuan dapat segera disalurkan,” jelasnya.
BPBD Konkep juga mengimbau masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan. Khususnya pada Januari hingga Februari 2026 ini, mengingat tingginya potensi cuaca ekstrem hampir seluruh wilayah di Indonesia termasuk Kabupaten Konawe Kepulauan.
“Curah hujan pada awal Januari hingga Februari cenderung meningkat hampir merata di Indonesia. Kami mengimbau masyarakat Konkep agar tetap siaga, terutama yang tinggal di bantaran sungai dan daerah perbukitan, guna mengantisipasi potensi banjir dan longsor,” pungkas Sahyudin.
Laporan: Jarman Alkindi





















Tinggalkan Balasan