Sebuah Refleksi: Apa Dosa Tower Bank Sultra?

Keterangan Gambar : Gubernur Sulawesi Tenggara 2008-2013 dan 2013-2018, H. Nur Alam, S.E., M. Si (Sumber: Okezone.com)

Potretsultra

OPINI – Salah satu Badan Usaha milik Daerah yang paling strategis menjadi andalan pemerintah sekaligus harapan bagi masyarakat lokal adalah Bank Pembangunan Daerah, dalam hal ini adalah Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara (BPD Sultra).

Namun sayang, di awal-awal saya menjabat sebagai Gubernur kondisi BPD Sultra sangat memprihatinkan.  Padahal, bank yang sudah berdiri sejak 2 Maret 1968 itu sudah memiliki nama besar di Sulawesi Tenggara. Tapi  karena tidak dikelola dengan baik, bank kebanggaan masyarakat Sultra itu jadi hidup segan mati tak mau.

Jumlah jaringan kantor Bank Sultra saat itu sebanyak 18, yang terdiri dari 1 Kantor Pusat, 6 Kantor Cabang, 10 Kantor Cabang Pembantu dan 1 Kantor Kas. Tercatat, perolehan laba setelah pajak turun sebesar Rp. 30,490 milyar dari tahun 2007 sebesar Rp. 60,704 milyar menjadi Rp. 30,214 milyar pada tahun 2008. Penurunan laba tahun 2008 disebabkan besarnya penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) kredit bermasalah yaitu sebesar Rp37.584 milyar.

Hal yang saya lakukan waktu itu adalah langsung merombak jajaran Direksi. Sebab merekalah yang mengakibatkan kinerja bank mengalami kemerosotan di era pemerintahan sebelumnya. Orang-orang baru yang saya angkat, adalah mereka yang benar-benar kader lokal (internal Bank BPD Sultra) yang memiliki kompetensi, profesionalisme, integritas, ketaatan, dan kepatutan. Setelah itu, saya  bergegas melakukan pembenahan secara menyeluruh bersama-sama dengan manajemen baru, sekaligus mengambil langkah taktis strategis sebagai jalan penyelamatan agar Bank Sultra bisa unjuk diri sebagai simbol ekonomi masyarakat dan lembaga keuangan milik pemerintah daerah yang sehat.

Secara status, BPD Sultra adalah Bank milik Pemerintah Daerah Provinsi Sultra yang  dalam perkembangannya kemudian melibatkan Pemerintah Kabupaten/Kota selaku pemilik saham sekaligus pemegang saham.  Dalam setiap RUPS, Gubernur selaku pemegang saham pengendali mesti mau memperhatikan dan aktif merespons apa saja yang menjadi usulan dan permintaan dari pemegang saham, dalam hal ini Bupati dan Walikota. Suara mereka tidak boleh diabaikan, sebab peran Bupati dan Walikota dalam memberikan dukungan untuk perkembangan dan kemajuan Bank  sangatlah besar, salah satunya berupa penambahan modal. Bahkan, bila diakumulasikan persentase saham mereka lebih besar dari jumlah saham pengendali.

Di awal pembenahan, dalam laporan tahun buku 2008 tercatat  kondisi Bank Sultra nilai NPLnya tinggi sekali (hampir 8). Itu akibat kinerja yang buruk periode 2007-2008. Berbagai upaya pun dilakukan untuk pemulihan termasuk pengawasan intensif dari Bank Indonesia sampai akhirnya bisa surplus, berhasil meraih keuntungan dan performance-nya membaik. Bank Sultra kemudian berhasil  masuk nominasi perbankan terbaik.

Sebagai tindak lanjut dari Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun 2012 tentang perubahan bentuk Badan Hukum BPD Sultra yang merupakan upaya transformasi peningkatan kualitas kelembagaan, pada bulan Nopember 2013  diperoleh izin pengalihan usaha dari Perusahaan Daerah (PD) BPD Sulawesi Tenggara kepada Perseroan Terbatas (PT) BPD Sulawesi Tenggara dari  Gubernur Bank Indonesia, sekaligus dilakukan peresmian penggunaan logo baru PT. Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara dan sebutan BPD Sultra diganti menjadi Bank Sultra.

Di samping manajemen yang bagus, bank  harus mampu mempertahankan kondisi keuangannya dan juga bisa menunjukkan bonafiditas dengan menampilkan aset yang memukau. Kinerja suatu bank dipengaruhi oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan kompetensi dan integritas Komisaris, Direkai, dan karyawan bank. Sedangkan faktor eksternal meliputi persaingan bisnis, perkembangan perekonomian, situasi politik, hukum, dan keamanan.

Industri perbankan berubah dengan cepat dan persaingan juga semakin ketat. Maka, untuk menjaga performance agar bisa tetap survive, bank harus pandai mengatur strategi sekaligus menata manajemen internal yang profesional. Di tengah situasi pandemi global sekarang ini, model perbankan di dunia mengalami pergeseran dan sebuah transformasi (transisi) tengah terjadi. Isu-isu perbankan sekarang ini bukan lagi soal bagaimana meraih sukses, tetapi soal bagaimana cara bank bisa bertahan untuk tetap survive.

Fokus investasi bank sekarang mengarah pada upaya pemenuhan aturan-aturan yang berlaku, dan memastikan kepercayaan nasabah bahwa bank memiliki cara yang baik pada penerapan manajemen resiko. Bank juga harus melakukan transformasi yang menitikberatkan pada transparansi, efisiensi, dan jaringan (network).

Hal yang juga penting adalah, bank harus dapat memahami profil risiko dari tiap unit bisnisnya secara detil, agar dapat dibuat keputusan diversifikasi aset serta potensi-potensi akuisisi dalam ragka memproteksi ulang model bisnisnya dengan risiko yang lebih kecil. Fokus dalam operasional bank sekarang ini, tren-nya mengarah pada kedisiplinan dalam mengatur risiko dan peranan analisa pasar.

Tower Bank Sultra

Untuk mengakomodir kebutuhan operasional Bank dan  agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada nasabah, di samping juga untuk membangun brand image  Bank Sultra yang baru, maka tahun 2015 saya menggagas pembangunan Tower Bank Sultra dengan konstruksi 12 lantai yang berlokasi di area Gedung Islamic Centre Kendari.

Pemilihan lokasinya yang premium menjadi pertimbangan utama. Selain untuk memudahkan akses para nasabah, dengan menempati Gedung semegah itu Bank Sultra akan tampak bonafid dan tentu hal itu bisa menaikkan tingkat kepercayaan masyarakat.

Bukan tanpa sebab mengapa saya mengambil langkah seberani itu. Saya ingin Bank Sultra tak kalah hebat dengan bank-bank nasional seperti Bank Mandiri, BCA, BNI, dan lain-lain yang semuanya punya bangunan megah (tower). Selain itu, dengan jumlah lantai dan ruang-ruang yang banyak, ke depannya Bank Sultra bakal mendapat income cukup besar dari lantai dan bangunan yang disewakan kepada pihak luar.

Selain melakukan pembenahan manajemen, mengupayakan tambahan modal, merencanakan pemindahan lokasi dan pembangunan gedung baru, juga dilakukan pembuatan logo baru yang desainnya disayembarakan. Ketika sudah terpilih satu karya terbaik yang keluar sebagai pemenang, saya lantas memberikan ide kreatif untuk menyempurnakan desainnya. Berikut ini

adalah kinerja keuangan tahun buku 2017:

 Total aset sebesar Rp. 6,161,553 milyar

 Modal disetor sebesar Rp. 424.391 milyar

 Pinjaman yang diberikan sebesar Rp. 4,611,044 milyar

 Dana Pihak Ketiga sebesar Rp. 4.454.653 milyar

 Laba setelah pajak Rp. 184.945 milyar

 Rasio permodalan (CAR) sebesar 26,30%

 Ratio laba terhadap modal (ROE) sebesar 22,84%

 Rasio krdit bermasalah (NPL Gross) sebesar 1,82%

Kinerja tersebut kalau dibandingkan dengan periode Gubernur sebelumnya, terjadi peningkatan yang sangat signifikan, antara lain total aset meningkat sebesar kurang lebih 400%, laba meningkat sekitar 170% dan rasio kredit bermasalah yang cukup tinggi di tahun 2018 dapat ditekan menjadi dibawah 2%.

Dengan berjalannya waktu, kondisi Bank Sultra semakin membaik. Demi untuk bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas sekaligus untuk meningkatkan pelayanan, dengan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah, BPD Sultra terus menambah jumlah kantornya. Jumlah kantor pada 2007 hanya 18 kemudian pada tahun 2017 tercatat ada 72 kantor tersebar di berbagai pelosok Sultra. Terdiri dari 1 Kantor Pusat, 1 Kantor Cabang Utama,11 Kantor Cabang, 5 kantor cabang pembantu 45  kantor kas dan 9 payment point.

Di tengah persaingan antar bank di Indonesia yang semakin ketat, tentu bukan hal mudah membuat Bank tetap eksis dan unggul dalam persaingan jangka panjang. Dibutuhkan pemikiran dan ide-ide yang visioner, sehingga Bank Sultra akan mampu bertahan, dan terus bisa menjaga loyalitas nasabahnya yakni mereka dari kalangan pegawai Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Seperti apakah kondisi Bank Sultra sekarang? Bahwa pada tahun 2017 Bank Sultra berhasil meraih predikat Bank Terbaik versi Majalah Investor untuk kategori BPD beraset di bawah Rp. 10triliun, tapi hal itu jangan lantas membuat pimpinan dan jajaran Direksi menjadi jumawa. Sebab, kalaupun saat itu ada pertumbuhan (laba), tapi penghargaan itu masih merupakan dampak (hasil) dari strategi bisnis yang dibuat oleh pimpinan dan jajaran direksi di era pemerintahan  sebelumnya.

Ibaratnya, mereka hanya melanjutkan. Justru sebagai penerus tugas mereka adalah menyelesaikan kerja-kerja yang belum selesai seperti memindahkan gedung dan meningkatkan kinerja dalam rangka pengembangan usaha perbankan.

Gubernur selaku pemegang saham mayoritas sekaligus penanggung jawab Bank Sultra, mestinya tidak tinggal diam. Harus lebih peduli dalam  mendukung perkembangan Bank Sultra, salah satunya adalah segera memindahkan kantor pusat operasional Bank Sultra ke Tower. Persoalan sampai sekarang tidak dipindah ke Tower baru tentu saja menimbulkan spekulasi dan tanda tanya besar.

Apa dosa Tower Bank Sultra? Karena tidak ada jawaban logis, mau tak mau kemudian timbul kecurigaan, jangan-jangan  karena gedung megah itu merupakan jejak karya Gubernur lama, kemudian ada sentimen politik dari pihak-pihak tertentu. Atau memang pemimpin daerah sekarang (selaku pemegang saham mayoritas) terlalu sibuk mengurusi pandemi, sehingga Bank Sultra tidak menjadi prioritas penanganan. Tapi apa pun itu, mestinya jangan kemudianmengamputasi gagasan besar terhadap Bank Sultra. Bertindaklah logis matematis dengan melakukan pembenahan di segala lini agar Bank Sultra tak kehilangan marwahnya.

Memindahkan kantor operasional Bank Sultra adalah langkah paling taktis strategis saat ini. Berbesar hatilah, karena melanjutkan kerja pemimpin sebelumnya bukan berarti meredupkan popularitas pribadi. Setiap orang punya era-nya masing-masing. Tidak perlu panik juga bakal kehilangan pamor. Karna, setiap kerja nyata akan tercatat di langit. Bahkan hal itu akan membuatnya tampil sebagai patriot sejati. Jangan bertindak menenggelamkan, agar tak membuat diri menjadi karam.

Tumpukan PR

Saat ini, sejumlah pekerjaan rumah menumpuk di Bank Sultra. Mulai dari  pembenahan sumber daya manusia, kontrol internal, peningkatan disiplin, mengisi jabatan Direksi dan Komisaris, memindahkan kantor operasional bank ke Tower Bank Sultra, dan membuat program kerja dan rencana strategis ke depan.

Soal kekosongan jabatan Direksi dan Komisaris, kalau dibiarkan kosong lebih lama lagi akan berdampak pada penurunan penilaian tingkat kesehatan bank dari sisi manajemen. Tower Bank Sultra juga kalau terus dibiarkan kosong, berarti gedung yang sudah dibangun dengan susah payah dan berbiaya mahal  itu akan menjadi aset yang terbengkalai. Benefit yang diabaikan tentu bakal berpengaruh pada income dan profit. Juga kesempatan untuk memperoleh hasil dari uang sewanya menjadi hilang.

Tata kelola perbankan yang tidak professional dan tidak memenuhi unsur kepatutan dan kepatuhan dapat mengakibatkan resiko kebocoran, seperti yang pernah terjadi di Kantor Cabang Pembantu Wawonii (Kas kebobolan Rp. 9 miliar). Itu merupakan satu bentuk lemahnya pengawasan internal – check and balance. Merupakan salah satu akibat dari tidak terpenuhinya struktur kepengurusan, baik Komisaris maupun jajaran Direksi dan rendahnya kualitas maupun integritas dan kedisiplinan para staff.

Yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa Bank itu bekerja dengan resiko yang sangat tinggi, karena yang dikelola adalah dana pihak ke tiga atau dana publik. Agar tidak terjadi FRAUD (tindakan penyimpangan atau pembiaran yang disengaja dilakukan untuk mengelabui, menipu, atau memanipulasi Bank, nasabah, atau pihak lain, yang terjadi di lingkungan bank dan/atau menggunakan sarana Bank sehingga mengakibatkan Bank, nasabah, atau pihak lain menderita).

Akhirnya, jangan buang waktu lagi untuk segera ambil langkah revolusioner  dengan cara memindahkan Kantor Pusat ke Tower,  untuk  mengoptimalkan kinerja dan performance  manajemen Bank Sultra saat ini dan akan datang.

Penulis: H. Nur Alam, S.E., M. Si (Gubernur Sulawesi Tenggara 2008-2013 dan 2013-2018)

 

Potretsultra
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *