OPINI – Opini ini bukan sekadar catatan. Namun ia adalah gugatan. Gugatan terhadap sistem pendidikan yang terlalu sering berubah arah tanpa benar-benar bergerak maju.
Gugatan terhadap kebijakan yang lahir lebih cepat daripada kesiapan di lapangan. Dan gugatan terhadap kita semua yang sering kali sibuk memperdebatkan kurikulum, tetapi lupa bertanya: untuk siapa pendidikan ini sebenarnya? Ini adalah sebuah refleksi 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Jika pendidikan adalah jalan menuju masa depan, maka kita perlu jujur bicara dan mengakui bahwa jalan itu hari ini masih penuh lubang.
Kilas Balik Masa Lalu
Mari kita mulai dari sebuah ironi. Pendidikan modern di Indonesia justru lahir dari sistem kolonial, sebuah sistem yang pada dasarnya tidak pernah berniat mencerdaskan, melainkan mengontrol.
Politik Etis sering dipuja sebagai bentuk “balas budi”. Tapi mari kita jujur, ini bukan tentang kebaikan hati. Ini tentang strategi kekuasaan. Kolonial saat itu tidak tiba-tiba menjadi dermawan. Mereka hanya sadar bahwa rakyat yang sedikit terdidik akan lebih mudah diatur daripada rakyat yang sepenuhnya buta huruf.
Sekolah seperti STOVIA, THS, dan Rechtschool memang melahirkan kaum terpelajar. Tapi jangan lupa, mereka juga menciptakan kelas sosial baru, yakni pribumi terdidik yang tetap berada dalam kerangka kolonial.
Namun sejarah punya cara unik untuk membalas. Dari ruang-ruang kelas kolonial itulah lahir kesadaran. Dari sistem yang mengekang, justru tumbuh semangat untuk merdeka. Ki Hajar Dewantara membaca situasi ini dengan jernih. Ia tidak sekadar mendirikan sekolah, ia membangun perlawanan.
Taman Siswa bukan hanya institusi pendidikan. Ia adalah deklarasi, bahwa pendidikan harus memerdekakan, bukan menundukkan. Filosofi “Ing ngarso sung tulodo” bukan sekadar slogan kosong. Ia adalah kritik tajam terhadap pendidikan yang kehilangan arah moral.
Namun setelah kemerdekaan, pertanyaan besar muncul: apakah kita benar-benar merdeka dalam pendidikan?
Kurikulum berubah, sistem diperbaharui. Tapi pola lama sering kali tetap bertahan secara sentralistik, seragam, dan minim ruang kritis. Kita seperti mewarisi kerangka kolonial, hanya dengan wajah yang berbeda.
Memotret Pendidikan Masa Kini
Hari ini, kita hidup di era perubahan cepat. Tapi ironisnya, pendidikan sering tertinggal satu langkah di belakang.
Kurikulum 2013 datang dengan ambisi besar, membentuk manusia berkarakter dan kompeten. Tapi di lapangan, banyak guru justru terjebak dalam administrasi yang melelahkan. Alih-alih mengajar dengan kreatif, guru sibuk mengisi format.
Masuklah Kurikulum Merdeka dengan jargon yang menggoda: kebebasan belajar. Konsepnya indah, tapi implementasinya? Tidak sesederhana itu. Sekolah diminta fleksibel, tapi tidak semua punya sumber daya. Guru diminta inovatif, tapi tidak semua diberi dukungan.
Kita sering lupa bahwa perubahan kebijakan tanpa perubahan ekosistem hanyalah ilusi reformasi. Kemudian muncul pendekatan Deep Learning, sebuah upaya menggeser pembelajaran dari hafalan ke pemahaman.
Ini langkah yang tepat. Tapi sekali lagi, pertanyaannya: apakah sistem kita siap? Masalah pendidikan Indonesia hari ini bukan kekurangan ide. Kita justru kelebihan konsep. Yang kurang adalah konsistensi, keberanian, dan kejujuran untuk mengevaluasi.
Kita terlalu cepat mengganti kurikulum, tapi terlalu lambat memperbaiki kualitas guru. Kita terlalu fokus pada apa yang diajarkan, tapi lupa bagaimana cara mengajarkannya.
Transformasi Pendidikan Masa Depan
Masa depan sudah datang. Namanya teknologi. Artificial Intelligence kini mampu menjawab soal, menulis esai, bahkan mengajar.
Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan masuk ke pendidikan. Itu sudah terjadi. Pertanyaannya, apakah kita siap hidup berdampingan dengannya? Jika guru hanya menjadi penyampai informasi, maka cepat atau lambat ia akan tergantikan.
Tapi jika guru menjadi pembentuk karakter, pembimbing nilai, dan pemantik berpikir kritis, maka ia tidak tergantikan. Di sinilah letak kunci masa depan pendidikan dengan melakukan redefinisi peran.
Guru bukan lagi pusat pengetahuan, Ia adalah navigator. Siswa bukan lagi objek, Ia adalah subjek aktif. Sekolah bukan lagi tempat, Ia adalah ekosistem belajar.
Namun transformasi ini tidak akan terjadi jika kita masih terjebak pada pola lama. Kita butuh keberanian untuk berubah. Bukan sekadar mengganti istilah, tapi mengubah paradigma.
Pendidikan masa depan tidak boleh hanya adaptif terhadap teknologi. Ia harus tetap berakar pada nilai kemanusiaan. Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan menciptakan manusia yang pintar, tetapi manusia yang bermakna.
Penutup
Membaca ulang pendidikan Indonesia adalah membaca ulang kegagalan dan harapan kita.
Kita tidak kekurangan sejarah. Kita tidak kekurangan gagasan. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk jujur bahwa sistem ini belum ideal, dan keberanian untuk berubah, meski itu berarti keluar dari zona nyaman.
Jika tidak, maka kita akan terus berputar dalam lingkaran yang sama: ganti kurikulum, ganti kebijakan, tanpa pernah benar-benar berubah.
Pendidikan bukan tentang hari ini. Ia tentang masa depan yang sedang kita bentuk, dan masa depan itu tidak akan menunggu kita siap.
Penulis: Jubirman, S.Pd, M.Pd (Praktisi Pendidikan)






















Tinggalkan Balasan