KENDARI – Ratusan massa yang tergabung dalam Lembaga Pemantau Penegak Hukum (LPPH), Gerakan Muda Pemerhati Tambang (GMPT) serta Gerakan Persatuan Masyarakat Indonesia (GPMI) mendatangi Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Senin, (4/9/2023).
Ratusan massa tersebut mendesak Kejati Sultra untuk segera memanggil dan memeriksa pihak Syahbandar Molawe atas dugaan keterlibatan dalam kasus tindak pidana korupsi di Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) PT Antam TBK, di blok Mandioda kabupaten Konawe Utara (Konut).
Awaludin Silsila selaku Koordinator aksi mengatakan, pihaknya menggedruduk kantor Kejati Sultra dan DPRD Sultra untuk mendukung bagaimana langkah-langkah penegak hukum serta DPRD untuk menindak tegas Kepala Syahbandar Molawe.
Lebih lanjut kata Awaludin, pihaknya menduga terlibat korupsi di BPN PT Antam Kabupaten Konawe Utara, yang dimana beberapa bulan yang lalu telah diterbitkan beberapa tersangka, sehingga sampai hari ini Kepala Syahbandar Molawe belum juga dipanggil ataupun diperiksa.
“Bahkan sampai hari ini, eks Syahbandar yang telah selesai dalam tugasnya itu belum dipanggil dan ditersangkakan terkait pemberian SIB yang itu tidak sesuai dengan mekanisme maupun SOP yang telah diturunkan oleh Pemerintah Pusat,” ungkap Awaludin.
Tuntutan mereka, meminta agar pemerintah mencopot Kepala Syahbandar Molawe maupun yang sedang bertugas dan yang saat ini baru dilantik.
Selanjutnua, pihaknya meminta kepada Kejati Sultra untuk segera memanggil dan memeriksa Kepala Syahbandar Molawe Kabupaten Konawe Utara.
Tempat sama, anggota Komisi 3 DPRD Sultra, Salam Sahadia mengatakan, persoalan tersebut memang pernah digambarkan sejak tiga bulan terakhir, kini pihaknya dipertontonkan yang terlibat di dalam kasus blok Mandiodo.
“Saya ingin sampaikan, masalah ini telah kita sampaikan kepada DPRD RI Komisi 7, kepada ESDM, dan Perhubungan dua Minggu yang lalu melakukan rapat dan membicarakan soal PRPP,” jelas Salam Sahadia.
Salam Sahadia menyebutkan, PRPP 2022 yang tidak dibayarkan oleh Kementerian kurang lebih Rp 800 miliar, yang dibayarkan kurang lebih Rp 366 miliar sisanya belum dibayarkan. Nah kalau menghitung itu, maka munculah persoalan yang disampaikan pendemo, pertama menghitung data kuota yang diberikan kepada seluruh IUP yang ada di Sulawesi Tenggara itu tidak diberikan.
“Kami mengapresiasi atas aksi yang dilakukan oleh elemen masyarakat dan sudah melaporkannya ke DPR RI untuk RDP di DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara, pada Rabu 6 September 2023,” pungkasnya.
Laporan: Aden






















Tinggalkan Balasan