Keterangan Gambar : Megawati Soekarno Putri (Kiri) dan Surya Paloh (Kanan), (Sumber: news.detik.com)

Prabowo ‘CLBK’ dengan Mega, Surya Paloh ‘PDKT’ Anies?

Potretsultra

OPINI – Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019 telah usai. Joko Widodo tampil kembali sebagai jawara dengan didampingi Maruf Amin untuk periode 2019 – 2024.

Bagi-bagi ‘jatah’ kursi menteri pun telah selesai. Kabinet yang diberi nama ‘Indonesia Maju’ itu berjumlah 34 menteri. Komposisinya, 18 kursi diberikan jatah untuk kalangan profesional dan 16 kursi diserahkan kepada kalangan Partai Politik (Parpol).

Menariknya, Joko Widodo malah memberikan jatah kursi kepada lawan politiknya, Prabowo Subianto. Partai Gerindra berhasil menduduki 2 kursi sekaligus, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Bagi-Bagi Jatah Menteri

PDI Perjuangan terlihat ‘merajai’ kursi menteri. Partai besutan Megawati Soekarno Putri itu mendudukan 4 kadernya di kabinet Indonesia maju. Sedangkan Partai Nasdem yang dinahkodai Surya Paloh hanya diberi kuota 3 kursi. Hal ini sama dengan jatah yang diberikan kepada Partai Golkar dan PKB yang juga masing-masing 3 kursi. Yang paling sedikit Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ia hanya diberi jatah 1 kursi saja.

Nama-nama lain yang ikut ‘berkeringat’ memenangkan Jokowi seperti Wiranto (Hanura), Yusril Ihza Mahendra (PBB), Grace Natalie (PSI), dan Hendropriyono (PKPI) belum diakomodir. Mungkin mereka masuk dalam daftar tunggu ‘Reshufle’.

Sebelumnya, Partai Demokrat dan PAN masuk ke istana untuk bermanuver ikut ‘jatah-jatahan’. Terhitung 2 minggu usai Pemilu (2 Mei 2019), putra kandung SBY Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) merapat ke istana. Sedangkan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan terlihat masuk ke istana pada 14 Oktober 2019. Namun hasilnya ‘nihil’, Jokowi belum mengakomodir Demokrat dan PAN masuk kabinet. Sedangkan PKS masih setia dengan pendiriannya untuk tak mau ikut-ikutan masuk istana.

Prabowo ‘CLBK’ dengan Mega?

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto ditemani dua elite partai Gerindra menghadiri Kongres PDIP ke-V tahun 2019 di Bali. Kedatangan Prabowo itu bukan tanpa alasan. Ia hadir karena diundang khusus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri.

Padahal sebelumnya diketahui, Prabowo menjadi ‘musuh politik’ Megawati. Sejak tahun 2014 silam, saat Megawati memutuskan untuk ‘cerai’ dari Prabowo dan mengusung Joko widodo maka saat itulah genderang perang mulai ditabuh antara Gerindra dan PDIP.

Pada Pilpres 2014 silam, Prabowo maju bersama Hatta Radjasa sedangkan Megawati mengangkat Jokowi digandengkan dengan Jusuf Kalla. Aksi saling serang bermunculan. Megawati menyerang dengan senjata ‘Kasus 1998’, dan Prabowo sesekali menyindir dengan ‘Capres Boneka’. Sehingga kisah ‘asmara politik’ Megawati – Prabowo yang sebelumnya mesra akhirnya retak. Megawati malah selingkuh dan mesra dengan Surya Paloh sebagai pemain di belakang layar Pilpres.

Awalnya, Megawati merayu Prabowo dengan perjanjian ‘Batu Tulis’. Perjanjian Batu Tulis adalah sebutan dari Surat Kesepakatan Bersama PDI-Gerindra tertanggal 16 Mei 2009. Dari 7 poin yang disepakati, ada 1 poin yang akhirnya dipermasalahkan, Di sana tertulis: “Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014”.

Di Pemilu tahun 2009, Megawati maju Pilpres dengan menjadikan Prabowo sebagai 02-nya. Namun kemenangan di tangan SBY, sehingga perjanjian Batu Tulis berlanjut ke Pilgub DKI Jakarta pada tahun 2012. Prabowo dan Megawati bersama-sama mengusung Jokowi – Ahok. Dan, berhasil memenangkan pertarungan.

Namun saat memasuki Pilpres 2014, Megawati ternyata malah mengkhianati Prabowo. Perjanjian Batu Tulis itu rasanya tiada arti lagi. Megawati resmi menceraikan Prabowo dan mengusung Jokowi. Hubungan yang retak itu terjadi hingga di 2019.

Kini hubungan Megawati – Prabowo terlihat kembali mesra. Prabowo diundang ke Kongres PDIP ke V di Bali. Ketum Gerindra itu juga malah diberi jatah dua kursi di kabinet Jokowi 2019 – 2024. Sesekali, nampak terlihat Prabowo berfoto selfie dengan Megawati. Apakah ini tanda Cinta Lama Bersemi Kembali?

Mesra Kembali, Prabowo – Puan Menuju 2024?

Meski Pilpres 2024 masih jauh, namun teka-teki kedekatan Prabowo – Mega diprediksi memiliki sinyal kuat untuk di 2024.

Megawati menempatkan putri kandungnya Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI itu tentu bukan tanpa alasan. Menggenjot elektabilitas Puan menjadi salah satu alasan diantara ratusan alasan lainnya. Begitu pun dengan jatah Prabowo di kabinet bisa jadi merupakan ‘kue’ kecil sebagai permohonan maafnya di 2014 silam.

Apalagi arena Pilpres 2024 tidak ada calon petahana. Sehingga para politisi senior tentu mulai mengarsitek kandidatnya dan di ‘make over’ bersiap-siap melaju ke panggung 2024.

Surya Paloh ‘PDKT’ Anies?

Kepandaian Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dalam mengarsitek setiap gelaran Pemilu patut diacungi jempol. Sebagian besar yang diusungnya selalu berakhir dengan kemenangan.

Saat Pilpres 2014 silam, Surya Paloh tanpa berpikir panjang langsung ikut menduetkan Jokowi dengan Jusuf Kalla dan berakhir dengan kemenangan. Begitu pun pada Pilkada serentak di tahun 2018 lalu, calon yang diusung Nasdem berhasil menang di 11 provinsi dari 17 provinsi. Nasdem juga mampu mendudukkan 3 kader terbaiknya sebagai Gubernur, yakni Viktor Laiskodat (NTT), Herman Deru (Sumsel) dan Ali Mazi (Sultra).

Pada tahun 2019 pun, Nasdem masih setia mendukung Jokowi untuk melenggang di periode keduanya. Tapi untuk 2024, rasa-rasanya Nasdem bakal cerai dengan PDIP. ‘Balikannya’ Mega – Prabowo membuat Surya Paloh PDKT dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Pertemuan antara Surya Paloh dan Anies di kantor DPP Nasdem beberapa bulan lalu seakan memberi sinyal penjajakan politik untuk 2024. Isu Prabowo – Puan di 2024 dibalas dengan Surya Paloh yang makin mesra dengan Anies.

Jika Prabowo diundang ke Kongres PDIP di Bali, maka Anies pun diundang ke Kongres Nasdem di Menteng, Jakarta Pusat. Meski para poltisi Nasdem berdalih diundangnya Anies tak ada kaitan 2024, namun teka-teki kedekatan Surya Paloh – Anies harus dibaca.

Apalagi saat ini Surya Paloh telah membangun komunikasi pula dengan PKS. Bahkan kata Surya Paloh, Nasdem tidak menutup kemungkinan akan ikut berada di barisan oposisi.

Penulis: JUBIRMAN (Pemimpin Redaksi Potretsultra.com)

Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *