Politisi ‘Kampungan’

Ilustrasi
Keterangan Gambar : Ilustrasi

OPINI – Keadaan politik saat ini bukanlah sesuatu yang susah-susah amat, juga tidak mudah-mudah amat. Tidak susah karena ‘profesi’, akan tetapi ini bisa digeluti oleh siapa saja. Ini bisa kita artikan tanpa harus berlatar belakang ilmu tertentu. Tetapi tidak mudah karena seorang politisi sebaiknya punya ‘sense’ agar tidak terkesan sebagai ugal-ugalan atau juga kampungan.

Tidak sedikit orang ‘percaya’ bahwa menjadi politisi merupakan tangga awal menuju ruang kekuasaan. Sehingga tidak heran kalau ‘kepercayaan’ tersebut sering menjelma menjadi ‘berlaku apa saja’ demi sebuah kekuasaan. Semua dapat ‘halal’ demi langgengnya kekuasaan. Salah atau benar, jujur atau bohong biasanya menjadi urusan belakang demi sebuah kekuasaan pula.

Narasi politisi seperti itu bukanlah hal baru dalam dinamika politik kita. Semua dapat ‘halal’ untuk langgengnya sebuah kekuasaan. Termasuk penyampaian berita ‘sesat’ dan memprovokasi pihak-pihak tertentu dengan tujuan sederhana seperti simpati dan dukungan tentunya.

Dukungan sering kali bersifat instan karena hasil dari kebohongan dan provokasi. Hanya saja politisi seperti ini sesungguhnya dia lupa bahwa sesuatu yang bersifat instan selalu tidak bertahan lama atau bersifat ‘sesaat’. Karena perlahan dukungan yang dimiliki akan susut seiring terkuaknya kebohongan dan provokasi yang disampaikan.

Next, kerja politik lain yang sering dilakukan oleh politisi adalah suka menuding orang lain, terlebih lagi yang dianggap sebagai pesaingnya atau sering disebut kompetitor, dengan berusaha mencari-cari kesalahan. Jika kesalahan yang dicari tidak ditemukan maka kebiasaan lama akan menjadi agen sasar untuk digalinya karena mungkin sudah mengendap di sanubarinya yakni “mengarang bebas”.

Dengan kapasitas dan pemahaman yang jauh dari cukup, politisi seperti ini hanya bisa bergulat tuding menuding, provokasi bahkan mencela. Di pikirnya, dengan demikian mungkin segala kekurangannya dapat tertutupi. Padahal politisi ini lupa bahwa kebiasaan menuding adalah cara paling efektif untuk menunjukkan kekurangan diri sendiri.

Tuntutan kuasa yang berlebihan seringkali membuatnya sulit membedakan mana “percaya diri”, mana “tidak tahu diri”. Segala sesuatu yang dibicarakan, diyakini sebagai kebenaran. Karena kepercayaan diri, untuk menyamarkan kesalahan itu, ditudinglah orang lain sebagai ‘salah’ mendengar pernyataannya.

Kondisi ini akan terus berlanjut. Langkah ini adalah lagu lama yang membosankan dan bahkan memuakkan .Politisi seperti itu hanya piawai melempar batu lalu sembunyi tangan, tapi tetap mencari muka demi dukungan. Karena gaya seperti itu membosankan dan memuakkan, maka berhentilah menjadi politisi yang hanya berorientasi pada kekuasaan, politisi yang semua halal demi kekuasaan, politisi yang bisa menciptakan kambing hitam, politisi yang gemar menuding pihak lain untuk menyembunyikan kelemahan. Ini penting, sebab jika anda bergaya politisi seperti itu, sungguh kasihan karena akan terliat membosankan alias ‘kampungan’.

Penulis: Mr A (Pengamat Politik Jalanan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *