Peragi Sultra Siap Berdaya Saing Membangun Pertanian Yang Tangguh, Menuju Indonesia Berdaulat

Keterangan Gambar : Webinar via Zoom, Peragi Komda Sultra terkait Ketahanan Pangan berbasis Sumber Daya Nusantara (Foto: Istimewa)

Potretsultra

KENDARI- Lembaga Perhimpunan Agronomi Indonesia ( PERAGI) Komda Sultra siap berdaya saing dalam membangun pertanian yang tangguh dan profesional untuk kesejahteraan rakyat, menuju Indonesia berdaulat dengan ketahanan panganya.

Sebagai wujud tekad Peragi Komda Sultra, mengawali kegiatan perdananya bertepatan dengan Dirgahayu Hari Pancasila 1 Juni 2020, dengan Tema “ Pancasila dalam tindakan gotong royong Menuju Indonesia Maju” menggelar webinar “Ketahanan Pangan berbasis Budaya Nusantara”.

Webinar ini berjalan sukses berkat dukungan Ketua dan Pengurus PERAGI Pusat, Rektor UHO melalui Direktur Pasca Sarjana dan Narasumber dari Balibangtan Kementan RI,  Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Halu Oleo (UHO).

Ketua Peragi Komda Sultra,Prof.Dr. Ir H Andi Bahrun MSC, Agric mengungkapkan, webinar Peragi hari  ini  adalah hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, bertepatan hari lahir Pancasila, semoga niat dan doa kita hari ini (3700:zoom + Youtube) adalah benar-benar menyatakan kesiapan bergotong royong mengambil peran penting untuk memajukan pertanian terutama untuk memantapkan ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan rakyat dan daya saing daerah menuju Indonesia maju.

Dikatakanya, Andi bahwa ada 269 Juta Penduduk Indonesia tidak boleh lapar, harus hidup sehat dan produktif maka ketahanan pangan harus kuat dan keamanan pangan terjamin disertai motivasi kuat bahwa bangsa kita harus berdaulat pangan dan mandiri pangan.

Menurutnya, status Darurat Kesehatan akibat Pandemi Covid 19, memberi warning dan pembelajaran kepada kita, bahwa pemberlakuan PSBB, Lock down dalam dan Luar Negeri terutama negara penghasil pangan membatasi dan atau memberhentikan penjualan produk pangannya dan, adanya isu memanasnya laut China Selatan serta adanya perubahan iklim yang berakibat pada ketersediaan dan distribusi pangan.

Ditambah lagi adanya trend adanya inovasi pangan dan digemari kaum milenial adalah pangan dengan bahan baku (KH) sebagian adalah bahan impor. Hal ini akan mengganggu ketahanan pangan kita.
Oleh karenanya kita perlu Berdaulat dan Mandiri Pangan. Berbagai Forum, Paper dan Media, bahwa Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan sumber pangan (KH) hanya dari beras tetapi perlu sumber pangan alternatif.

Rektor Unsultra ini menerangkan , Indonesia tergolong Mega Biodiversity termasuk sumber bahan pangan, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampau Pulau Rote, sehingga arah pertanian masa depan, jangan hanya tergantung pada Ketahanan hidup (KH) dari beras tetapi harus fokus pada pangan berbasis sumber daya nusantara (lokal), tetapi perlu didukung inovasi teknologi supaya digemari masyarakat terutama anak-anak dan kaum milenial.

Sebagai bagian dari mitra kerja pemerintah PERAGI merasa sangat berkepentingan untuk memberi kontribusi ril terhadap program-program pembangunan pertanian, khususnya percepatan pembangunan pertanian yang berbasis pada kearifan lingkungan dan sosialnya sehingga mampu mengangkat kesejahteraan petaninya dan menopang kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.

“Kebersamaan kita hari ini, bertepatan dengan hari pancasila, dalam situasi darurat pandemi Covid 19, kita berkomitmen kuat untuk bergotong royong dan bersinergi agar sumber sumber ketahanan pangan masa depan harus berbasis sumber daya nusantara, alias asli (lokal) Indonesia.

“Seraya kita tingkatkan kapasitas sumber daya manusia ke arah peningkatan daya saing produk petanian Indonesia di pasar global dan mewujudkan Sultra sebagai Salah Satu Cadangan Lumbung Pangan Indonesia dan demi memantapkan Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045,” jelas Andi Bahrun.

Prof. Dr. Andi Muhammad Syakir, M.Si

Ketua Peragi Pusat Prof. Dr. Andi Muhammad Syakir, M.Si  sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada PERAGI Komda Sultra yang dinahkodai oleh Prof Andi Bahrun, dapat melaksanakan kegiatan Webinar hari ini dengan tema Ketahanan Pangan Berbasis Sumber Daya Nusantara dengan narasumber yang ahli dibidangnya, serta dengan jumlah pendaftar yang membludak dari seluruh Indonesia dan profesi pendaftar tidak hanya bidang agronomi /pertanian tetapi juga bidang keahlian lain seperti hukum dll sebagainya, hal ini juga menunjukkan bahwa masalah pangan adalah tanggung jawab bersama semua elemen masyarakat.

Dijelaskanya, Indonesia menempati peringkat kedua setelah Brasil dalam hal keanekaragaman hayati (biodiversity), yang sungguh sangat potensial termasuk untuk sumber bahan pangan disamping untuk dijadikan obat. Indonesia dianugrahi potensi sumber bahan pangan biji-bijian dan umbi-umbian banyak.

Potensi yang luar biasa ini sambungnya,  maka perlu adanya pemberdayaan yang lebih intensif untuk dilakukan penelitian, bimbingan budididaya dan berbagai inovasi tekonologi mulai dari hulu sampai hilir khususnya inovasi teknologi pengolahan bahan pangan, sehingga pertanian kita maju dan berdaya saing

“PERAGI memiliki potensi besar dalam membangun pertanian Indonesia melalui peran sebagai agronom modern, sehingga produktivitas dan daya saing pertanian meningkat. Saya yakin PERAGI mampu berkontribusi riil dalam mengoptimalkan sumber daya potensial nusantara untuk memantapkan ketahanan pangan kita.

“Oleh karena itu sumber pangan terutama karbohidrat masa depan harus berbasis sumber daya lokal (nusantara), jangan sampai bergeser pada sumber pangan non dalam negeri. Indonesia perlu mengembangkan pangan local secara massif dan menekan ketergantungan pada pangan beras. Saatnya kita membumikan diversifikasi pangan secara konsisten dan berkelanjutan. Peragi harus menjadi garda terdepan untuk mewujudkan Indonesia Mandiri Pangan dan Berdaulat Pangan,”jelasnya.

Nara sumber Webinar Prof. Dr. Edi Santoso, S.P, MSi, dalam materinya “Tanaman Pangan Lokal berdaya saing untuk pendamping beras. Ia menjelaskan ada beberapa poin penting yakni bagaimana membangun memori kolektif pangan lokal, Blending Pariwisata dengan Pangan Lokal. Kepeloporan, Menghapus stigma negatif pangan lokal.

Selain itu dalam menambah variasi menu makan sebagai insentif bagi petani tanaman lokal. Serta mewariskan pemanfaatan dan pengelolaan Pangan Lokal kepada generasi muda dan menghadirkan system logistic pangan lokal yang berdaya saing.

Pada kesempatan yang sama Balibangtan Kementan RI Prof. Dr. Sri Dowati MAppSC, menyampaikan “Kesiapan Inovasi Diversifikasi Pascapanen Pangan Lokal”.

Ia menyampaikan, sumber daya pangan lokal nusantara beragam, baik sereaila aneka umbi dan buah serta sagu. Namun ketersediaan dan pemanfaatanya masih sangat terbatas.

Lanjutnya, sejatinya pangan lokal merupakan pangan sehat selain sumber energi, juga mengandung serat pangan tinggi antioksida banyak mengandung vitamin dan mineral. Sentuhan inovasi pascapanen sangat diperlukan guna versifikasi produk olahan, diversifikasi kosumsi pangan serta meningkatkan PPH nilai tambah dan daya saing.

Ia menambahkan dampak pandemi covid 19 saat yang tepat untuk meningkatkan produksi, mengelolah dan mengosumsi pangan lokal, industri pangan dipilih produk yang kekinian.

Sementara Dosen Fakultas Univeritas Halu Oleo, Prof Dr.Ir. H Gusti R Sadimantara M.Agr, dalam materinya “Pemanfaatan Plasma Nutfah Padi Gogo Lokal untuk peningkatan Produktivitas Tanaman. Ia jelaskan, Sulawesi Tenggara mempunyai potensi besar untuk pengembangan padi gogo karena terdapat cukup banyak kultivar padi gogo lokal yang dibudidayakan oleh masyarakat setempat yang memilki potensi produksi berkualitas tinggi dan tahan terhadap cekaman lingkungan.

Pengembangan padi gogo menurutnya, berdaya hasil tinggi dan tahan terhadap cekaman lingkungan sangat prespektif dikembangkan karena bukan hanya meningkatkan produktivitas lahan kering dan produktivitas padi, tetapi juga meningkatkan luas area tanaman padi gogo dan kontribusi padi gogo terhadap produksi padi nasional yang pada akhirnya meningkatkan kontribusinya terhadap ketahanan dan kedaultan pangan nasional.

Lebih detail lagi Sadimantara menjelaskan, plasma nutfah padi gogo lokal yang telah teridentifikasi tahan dan toleran terhadap cekaman biotik dan abiotik serta memilki mutu beras yang baik dapat dimanfaatkan sebagai donorgen melalui persilangan dalam program pemuliaan. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan nilai guna varietas lokal tersebut sehingga mengutungkan petani.

“Kebijakan pemerintah yang kokoh konsiten memeihak pada petani serta kerajasama dengan berbagai pihak diperlukan untuk lebih mendorong upaya-upaya peningkatan produksi padi nasional dan ketahanan pangan,”  pungkasnya.

Sebagai kesimpulan webinar Komda Sultra kerjasaama Program Studi (Prodi) Srata Magister (S2) Agronomi Pascasarjana Universitas Halu Oleo (UHO)  dengan tema” Ketahanan Pangan Berbasis Sumber Daya Nusantara” sebagai berikut :

Belajar dari Covid 19, bahwa dengan adanya Lockdown beberapa negara khususnya penghasil bahan pangan dunia, menutup/ menahan produksi pangan untuk tidak keluar negaranya dan juga adanya perubahan iklim yang mengancam ketahanan pangan, maka bangsa harus terus berikhtiar kuat untuk mandiri dan berdaulat pangan
Kita sungguh kaya sumber daya pangan nusantara dan juga sudah tersedia cukup inovasi teknologi.

Dengan semangat peringatan hari lahirnya Pancasila tahun 2020 dengan tema” Pancasila adalah Tindakan, Gotong Royong Menuju Indonesia Maju”,

Ayo Mari Bergotong Royong dan Bersinergi, Kita bangun pertanian yang Tangguh untuk kesejahteraan, daya saing menuju Indonesia maju. Kini saatnya kita menjadi Agen Perubahan untuk membumikan diversifikasi pangan untuk memantapkan ketahanan pangan berbasis sumber daya pangan nusantara “kalau bukan kita siapa lagi”.

Laporan: La Ismeid

Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *