Pemuda Busel Berbincang: Menakar Arah Pembangunan Buton Selatan

Keterangan Gambar : Suasana Diskusi Via Zoom Bincang-Bincang Pemuda Busel

Potretsultra

BUTON SELATAN – Agenda bincang-bincang pemuda Kabupaten Buton Selatan (Busel) yang merupakan serial perdana oleh komunitas Ngopi Pemuda Busel berjalan dengan lancar, Rabu (12/8/2020).

Dengan semangat Halal bi Halal sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Buton Selatan yang ke – 6, agenda bicang-bincang pemuda Busel mengangkat tema Menakar Arah dan Akselerasi Pembangunan Buton Selatan. Hadir sebagai pembicara Dr.  La Maronta Galib, M.Pd (Pakar Pendidikan, Dosen Pendidikan Fisika UHO), Dodi Hasri, S.Pd, (Ketua Komisi 1 DPRD Buton Selatan), La Ode Basir (Praktisi Pendidikan di Jakarta dan Makassar) dan Zainal (Aktivis Mahasiswa, ketua KPU Mahasiswa UHO periode 2019/2020).

Dalam paparan materinya, La Maronta Galib menjelaskan, Buton Selatan memiliki potensi Sumber Daya Alam yang sangat besar. Lautan Busel sangat luas dengan ikannya yang melimpah. jika dikelola dengan baik para nelayan akan sejahtera. Demikian dengan potensi Pertanian, ada petani jeruk Siompu, petani Bawang di Lapandewa, dan lain-lain.

“Oleh karena itu, kehadiran pemerintah sangat-sangat dibutuhkan. Misal pemerintah Busel hadir menyediakan bibit, memastikan hasil panen dapat terserap dan menghadirkan para investor,” jelasnya.

La Maronta menekankan bahwa Untuk meyakinkan para investor agar dapat berinvestasi di Buton Selatan, maka di setiap musim panen para investor mesti dihadirkan untuk menyaksikan hasil panen dari para petani Busel.

La Maronta menyebut, ada 3 aspek  indikator, daerah tersebut bisa dikategorikan sebagai daerah berkembang. Pertama, sudut pandang ekonomi yakni income perkapita masyarakat harus meningkat. Ekonomi yang diterapkan juga harus ekonomi yang berbasis kerakyatan.

Kedua sudut pandang pendidikan, yakni tugas utama dari pendidikan adalah mengubah mindset masyarakat dari pemikiran yang tradisional menjadi modern yang ditunjang dengan perkembangan tekhnologi. Aspek ketiga yakni kesehatan, berkaitan dengan kesejahteraan para tenaga medis yang ditopang dengann fasilitas yang memadai.

Sementara itu, Dodi Hasri selaku pembicara kedua menegaskan bahwa pembangunan daerah harus ditopang infrastruktur yang memadai dan Pengembangan SDM yang berkualitas. Tidak hanya itu, pendapatan per kapita masyarakat juga harus membaik.

Pemaparan Dodi Hasri terpaksa terhenti. Hal ini disebabkan sinyal terputus, karena diskusi ini digelar via Zoom atau diskusi online.

Sebagai pembicara selanjutnya, La Ode Basir memulai dengan mengatakan, sekarang Buton Selatan telah berumur 6 tahun. Ia mempertegas kembali tujuan pemekaran, untuk mempercepat pemerataan pembangunan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Potretsultra

“Daerah maju tidak ditentukan oleh umur daerah itu sendiri, bukan dari SDA yang melimpah, bukan dari ras atau warna kulit tetapi dari keunggulan SDM nya,” tegas Basir.

Arah pembangunan daerah yang diistilahkan Basir sebagai visi daerah bisa dihasilkan dari 2 pendekatan. Pertama berdasarkan kajian akademik dengan menghadirkan para pakar untuk mengkaji potensi Buton Selatan. “Buton Selatan mau jadi daerah apa, daerah jasa kah, daerah industri kah, daerah perikanan kah atau daerah apa. Sehingga buton Selatan punya arah pembangunan yang jelas dan terukur,” katanya.

“Kedua, dilihat dari besaran PAD Busel hari ini. Sektor apa yg memberi kontribusi paling besar terhadap PAD,” tambahnya.

Basir mengatakan, Buton Selatan berada persis di tengah-tengah Indonesia, merupakan lintasan jalur perdagangan Indonesia. Jika melihat Sulsel 10 tahun terakhir yang ekonominya selalu naik dan melampaui ekonomi nasional.

“Jika Sulsel  telah mengalami titik jenuh, maka wilayah Buton bisa menjadi alternatif. Oleh karena itu, Buton Selatan harus mempersiapkan diri menjadi gerbang perdagangan Indonesia Timur,” paparnya.

“Untuk menunjang kemajuan daerah maka  dipastikan ketersediaan sumber daya listrik, dan ketersediaan sumber air,” bebernya.

Berikutnya setelah visi daerah jelas, maka kata Basir, pemerintah daerah tinggal melakukan akselerasi pembangunan. Dalam konteks ini yang perlu dilakukan, pertama yakni reformasi birokrasi. Birokrasi Pemda Busel harus diisi oleh orang-orang yang punya kompetensi keilmuan sesuai bidang yang ada. Kedua, perlu perhatian khusus utk mempercepat pembangunan  bidang yang mempunyai “daya kejut” atau “efek berantai” terhadap bidang lain.

“Ada 3 bidang pembangunan yang perlu perhatian khusus, yaitu pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur penggerak ekonomi rakyat seperti jalan, jembatan, pelabuhan, pasar dan interkoneksi transportasi pun komunikasi” sambungnya.

Sementara Zainal sebagai pembicara terakhir lebih memberi beberapa masukan, untuk Pemerintah daerah Buton Selatan. Kata dia, Pemda Busel setidaknya memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa asal Busel baik yang berada di Kota Baubau maupun yang ada di daerah lain.

“Adik-adik mahasiswa Busel ini butuh organisasi sebagai wadah penyatuan mahasiswa Busel. Selain itu, sarana dan prasarana untk mahasiswa Busel misal berupa asrama mahasiswa semestinya dibangun oleh Pemda,” tegas Zainal.

Laporan: Man

Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *