Komisi V DPR RI Apresiasi Pemikir Rektor Unsultra Bangun Peradaban Kampus dan Konektivitas Ditingkat Nasional Hingga Internasional

Keterangan Gambar : Webinar Nasional Unsultra

Potretsultra

KENDARI-   Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) bekerjasama dengan lembaga Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Sultra, menggelar webinar nasional dengan tema ” Konektivitas Infranstruktur Transportasi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Era New Normal ” Kamis (11/6/2020. Webinar via Zoom dibuka secara resmi oleh Rektor Unsultra Prof Dr Ir H Andi Bahrun MSC Agric, dan menjadi Nara Sumber, yaitu Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ir Ridwan Bae, Kadis Perhubungan Sultra Hado Hasina, Ketua PMTI Provinsi Sultra Dr Ir Adris A Putra ST MT, Dekan Fakultas Teknik Unsultra Dr Irwan Lakawa ST MT MSi, dan bertindak Moderator, Dr Ir La Ode Muh Magribi MT.

Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, mengatakan, tema webinar ini penting sekali, sebab terjadinya Konektivitas Transportasi antar Daerah akan mewujudkan kesejahteraan rakyat serta menyokong pertumbuhan ekonomi dan membuka lebar -lebar mobilitas masyarakat Sulawesi Tengggara, yang umumnya meningkatkan kemakmuran rakyat bangsa indonesia.

“Jadi saya anggap pemikir Rektor kita ini, perlu kita apresiasi artinya Unsultra tidak hanya berpikir menghidupkan peradaban kampus semata, tetapi sudah berpikir lebih jauh bagi negara kita baik di kanca nasional hingga international,” ujar Ridwan Bae.

Menurut Politis Golkar ini, tema webinar nasional, lagi populer bahkan menjadi pembicaraan secara dunia  terkait persoalan Covid 19. Ditengah pandemi kalau kita melihat pemerintah kita ini belum ada satu sikap yang pasti, apalagi memastikan bahwa pandemi ini akan berakhir. Pada hal, salah satu untuk menghidupkan perkonomian indonesia bahkan dunia yaitu persoalan ekonomi dan transportasi.

“Kalau kita fokus pada Covid semata, tanpa memperhatikan persoalan transportasi maka akan berbahaya negara kita. Apalagi ekonomi kita baru- baru sempat terhenti karena adanya Lock dawn, itu sangat berbahaya bagi negara kita, karena disatu sisi negara kita tidak cukup menjamin ketersedia pada aspek sosial membantu kepada masyarakat. Disisi lain kalau Lock dawn terus berjalan maka ekonomi akan mati total karena transportasi secara otomatis akan terhenti,” terang Ridwan.

Ridwan Bae

Sesuai yang apa disampaikan oleh Menteri Perhubungan Budy Karia, lanjutnya, bahwa niatan pemerintah konektivitas transportasi dari dulu, sebelum ada Covid, walaupun disatu sisi masih ada kelemahan, karena konektivitas transportasi baik darat, udara, dan laut, itu telah diprogramkan secara utuh. Tetapi pemerintah daerah belum tercipta pemikiran, karena sesungguhanya konektivitas transportasi juga dimana banyak prodak dan komunitas kita untuk sampai kepelabuhan utama persoalan transportasi masih rawan.

Pemerintah pusat, masih menganut tiga aspek jalan nasional, jalan provinsi dan jalan kabupaten. Begitupula persoalan transportasi laut ada pelabuhan yang dibangun oleh kewenangan kabupaten, provisni dan pelabuhan kewenangan pusat. Kadangkala sinergitas antara pemerintah daerah dan pusat ini masih lemah.

Kata konektivitas itu katanya, lebih pada nilai manfaatnya kita dengar diatas permukaan, tetapi perjalananaya masih terjadi kelemahan yang ada. “Kita berharap bahwa konektivitas ini betul – betul terjadi, harus bersinergi, jalan desa itu harus bagus, begitu pula dengan jalan kabupaten,Provinsi dan nasional harus mendukung, karena sebagai komuditas perdagangan kita, milik masyarakat itu akan terwujudkan sesuai yang menjadi nawa cita pemerintah dalam membangun konektivitas,” tukasnya.

“Kalau ini tidak dibangun maka itu, yang akan terjadi hanya timbul komuditas tertentu seperti perdagangan industri tetapi komuditas dimasyarakat  itu sangat berat. Untuk itu Ridwan berharap kepada Unsultra melalui pak rektor harus dipikirkan, seperti dalam musrembang itu baik secara daerah maupun nasional bisa dibicarakan secara konektivitas tadi bisa berjalan dengan baik. “Memasuki Era Normal ini dikehidupan kita, sebenarnya lebih menjaga tata cara braktivitas untuk mematuhi protokol Covid, lalu apakah menghentikan pembangunan infranstruktur, jawabanya tidak, pembangunan, infranstruktur tetap berkelanjutan tinggal pola kerjanya saja berbeda,” paparnya.

Bapak Airlangga Hartato selaku Menteri  Koordinator Bidang Perkonomian RI, begitu cerdasnya bagimana menghidupkan ekonomi kita dengan malahirkan sembilan jenis industri, artinya dapat terjadi konektivitas. Kalau tranportasi kita mandek maka ekonomi kita akan mati. Karena semua komuditas kita akan memakai jalur tarnsportasi tersebut. Untuk di Sultra juga terdiri beberapa pulau, Sultra tidak akan perna berkembang kalau tranportasi kita masih sangat terbatas untuk saat ini. Kita harus pemikiran yang jauh kedepan.

Bandara kita saja, lebih lanjut Ridwan, masih menjadi bandara tujuan, belum menjadi bandara transit. Pemerintah Sultra melalui pak Hado Hasina selaku Kadis perhubungan Provinsi Sultra bisa dipikirkan secara jauh. Konektivitas dikembangkan dengan bagus dalam persolan ini. “Kalau kita masih daerah tujuan bagimana cara untuk menjadi daerah transit. Bagimana cara menjadi daerah pariwisata, sehingga transportasi tadi menjadi bermanfaat, Kalau kita menjadi daerah pariwisata berarti mesti kita membangun aspek-aspek yang disukai para wisatawan kita , terlebih manca negara.

Masih Ridwan Bumi Anoa Sultra,sebenarnya sudah berbenah diri, karena Covid ini tidak jangka panjang, kita punya transportasi sudah sangat bagus mulai dari bandara dari beberapa daerah suda ada, tetapi masih ada yang sangat jauh dari tansportasi itu, seperti Kolaka Utara, Kabaena, Buton Utara, daerah ini masih sangat memerlukan pembangunan bandara dan pelabuhan utama.

Sebab adanya pelabuhan dan bandara akan memudahkan lahirnya jalan nasional. Kapan ada hubungan provinsi dan provinsi transportasinya maka berubah status jalanan nasional. Dengan demikian dengan gampang membangun transportasi di Wilayah tersebut.

Potretsultra

“Lalu apa yang menjadi pokok pikiran saya, dengan dukungan pemerintah Provinsi /kabupaten dan kota. Selain kapal kita yang ada penghubung antara beberapa pulau kita berharap di Sultra itu terbangun jembatan penghubung. Sehingga tidak hanya berpikir Muna itu terisolasi dengan pulauanya, hanya dihinggapi oleh kapa-kapal, buton dan Kendari.

Sehingga muncul pemikiran kita membangun jembatan penghubung Buton dan Muna, dan Alhamdulilah, katanya, daerah inj pada tahun 2020 sudah turun perencanaanya bahkan sudah masuk strategi nasional dan kalau keuangan kita bagus 2021 sudah turun perencanaan. pesain pembangun itu tanpa tiang tengah kurang lebih 680 meter dari ujung keujung dan kapal bisa lewat dibawah.

“Dari informasi kawan saya, jika kelar jembatan penghubung akan membangun tenaga pembangkit listrik di Baruta, dan disitulah akan banyak tumbuh industri, juga akan lahir wisatawan- wisatawan baru. Belum lagi adanya kawasan ekonomi aspal buton, berarti akan banyak penunjang,” katanya.

“Kemudian transportasin yang kita perjuangkan sekarang, pembanguna jembatan penghubung tampo-Ketoli-Toli, melalui pulau Towea itu panjangnya  panjangya kira- kira 2,5 stengah meter, dan kedalam laut 60 meter. Artinya kalau jembatan penghubung sudah terbangun masyarakat bebas memilih bisa lewat kapal atau lewat darat,” sambungnya lagi.

Selain itu, pembangunan kereta api, direncanakan persoalan trase, tempat lewatnya rel kereta api, tahapan kita bersama Komisi V dan Menteri PUPR dan Dirjend Perkeretaapian, jalaur kereta api di mulai dari Kendari , Unaha, Kolaka Timur ke Kolaka kemudiam ke Kolaka Utara, maka secara otomatsi jangka panjang kedepan akan bersambung kereta api menuju Sulawesi Tengah (Sulteng) menuju Manado dan Gorontalo.

Kalau itu terbangun hubungan konektivitas baubau, buton, muna dan kendari hingga makassar dan manado gorontalo sudah bisa ditempuh lewat darat.

Prof Andi Bahrun

Pada Kesempatan yang sama Rektor Unsultra Prof Dr Ir Andi Bahrun MSC Agric dalam sambutanya mengatakan, Pandemi Covid-19 telah merubah tatanan masyarakat dunia. Pandemic Covid 19 telah membawa dampak besar pada berbagai tatanan kehidupan bangsa kita terutama bidang Kesehatan, Ekonomi dan Sosial Kemasyarakat. Guna mencegah penularan wabah virus corona yang meluas, pemerintah melakukan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat dengan berbagai skala, bekerja dari rumah dan belajar dari rumah, bahkan ibadah di rumah.

Hal ini tentu juga berdampak luas pada aspek ekonomi. Suatu daerah apalagi negara kebijakan “stay at home” dinilai tidak bisa selamanya diterapkan demi menjaga keseimbangan perekonomian. Sejumlah negara pun mulai melonggarakan kebijakan terkait mobilitas warganya termasuk Indonesia memasuki era new Normal, meskipun Covid-19 masih saja terus mengancam, karena belum diketahui secara pasti wabah ini kapan akan berakhir. O
leh karena pada era new normal perlu menerapkan pola hidup baru.

Andi Bahrun menjelaskan, New normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Hal ini tentu menjadi ujian bagi bangsa Indonesia, bagi kita semua, betapa tidak, ekonomi kita harus tumbuh (hak-hak ekonomi) tetapi jangan sampai mengorbankan nilai-nilai kemanusia (hak warga negara untuk hidup sehat dan dilindungi dari ancaman kematian) . Kita perlu mengendepankan nilai-nilai kemanusiaan dalama upaya kita memperbaiki perekonomian kita.

Lanjutnya, satu hal yang penting pada era new normal adalah transportasi, karena transportasi menjadi bagian penting menghidupkan roda perekonomian suatu daerah atau negara.Transportasi era new normal adalah transportasi yang hiegienis dan mengikuti protokol kesehatan antara lain adalah menjamin physical distancing guna meminimalkan kontak fisik. Dengan demikian perlu strategi yang tepat untuk mengatur mobilitas logistic,barang dan orang secara global, nasional, regional dan lokal. Fakto kunci penentu adalah perubahan prilaku: prilaku pengguna, prilaku operator dan prilaku pengambil kebijakan.

Gagasan tentang transportasi handal dan berdaya saing serta gagasan transportasi humanitarian perlu mendapat dukungan semua pihak terutama di era new normal. Hal ini sesuai dengan program pririotas pemerintahan Jokowi-Maruf Amin yaitu tetap melanjutnya pembangunan Infrastuktur khsususnya untuk membangun konektivitas kawasan-kawasan yang memiliki industri kecil, kawasan ekonomi khusus dan kawasan-kawasan pariwisata.

“Bagi kita di Sultra, tentu hal ini juga sejalan dengan program prioritas Ali Mazi-Lukman Abunawas yaitu meningkatkankan koneksivitas dan kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat dalam rangka meningkatkan daya saing daerah melalui pembangunan dan perbaikan infrastuktur dan aspek-aspek sosial ekonomi. Kita sungguh yakin bahwa Indonesia dan di daerah seperti Sultra memiliki banyak SDM yang unggul untuk bersinergi mencari solusi strategis yang tepat. Gotong royong, kebersamaa dunia usaha, pemerintah, perguruan tinggi, dunia industri dan media sangat diperlukan dalam kehidupan Indonesia baru dan atau era kenormalan baru di daerah.

Hal ini juga menjadi tantangan dunia Pendidikan dan pemerintah untuk menghadirkan inovasi teknologi dan infrastruktur transportasi berbasis teknologi dengan regulasi untuk mewujudkan transportasi yang handal dan berdaya saing serta transportasi humanitarian di era new normal.

Unsultra Sebagai Institusi Pendidikan merasa sangat berkepentingan & akan selalu terpanggil bersama PerguruanTinggi lain dan para pihak untuk berkontribusi demi terwujudnya transporatasi yang handal dan berdaya saing serta transportasi humanitarian yang benar-benar membawa kesejahteraan, meningkatkan daya saing menuju Indonesia Maju.

Laporan: La Ismeid

Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *