Jejak Ina Wa Komba dan Cerita Asal Muasal La Karambau

Keterangan Gambar : Penulis Saat Berziarah di Makam Ina Wa Komba

OPINI – Karena sejarah hanya mencatat yang tercatat, maka tak akan ditemukan dia dalam narasi besar sejarah kesultanan Buton.

                             *

DIA yang bekerja seperti akar pada pohon, tak terlihat dan tak dicatat, tapi ia diingat, dikenang dalam selamanya zaman.

Tak dilekang waktu, sosoknya terus lekat dalam ingatan kolektif orang Wakaokili (Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton). Ina Wa Komba begitu dimuliakan disana.

Ritual mengenangnya dilakukan setiap tahun pada musim panen di sebuah bukit tinggi–gunung, tempat ia dan suaminya dimakamkan dalam sederet dengan nyaris selahat.

Saya datang ke makamnya di puncak bukit yang tinggi itu, gunung Tombuku Daci-Daci orang-orang menamainya.

Ditemani tiga perangkat adat: Bonto Wakaokili, mantan Bonto, dan seorang kepala dusun kami menyusur rimbun belantara, dan mendaki ke puncak gunung dengan berjalan setengah merayap.

Dari mereka saya mendengar, menyimak dan mencatat segala-gala mengenainya.

                               *

Ina Wa Komba mulanya berdiam di Wakailangke–sebuah gunung yang menyebelahi Sangia Wakaokili, cukuplah dekat jarak kedua tempat itu, hanya sepelemparan batu belaka.

Ia dinikahi La Meko, tinggal di belantara Wa Kaokili, sampai berpuluh tahun menikah tak juga mereka mendapatkan anak.

Karena tak mendapatkan anak, maka mereka mengangkat anak, anak yang diangkat itu, bukan juga sembarang anak, anak yang pada dagingnya menitis darah bangsawan.

Bangsawan yang menitiskan darahnya pada anak yang diangkat Ina Wa Komba itu bukanlah juga sembarang bangsawan, ia bangsawan kelas satu, sebenar-benarnyalah bangsawan.

Ibunya seorang dari Wa Kaokili, dikirim ke Istana sebagai gadis Kamoomoose, di sana menjadilah ia “Belo Bawine”__Semacam gadis yang dipilih  mengabdi, “melayani” sultan dalam istana.

Dengan statusnya sebagai “Belo Bawine” itu, sepenuhnyalah ia merelakan diri, menjadi abdi abadi di istana.

Dahulu, di Wakaokili ada tradisi Kamoomoose: mengirim para gadis pilihan ke istana seusai ia melalui ritual pingitannya.

Kecantikan dan perangai lembutnya membuat geger, dan kemudian memincut Sultan, sultan mengambilnya sebagai istri, tetapi tidak sebagai permaisuri.

Intrik di antara para istri kemudian menghamparlah, kasih besar yang didapatkannya mengirikan istri sultan yang lain, dan tentangan paling kuatnya datang dari permaisuri, ia kemudian berusaha disingkirkan.

Tetapi sultan membelanya dengan terus membelainya: menenangkan, dan sejak itu upaya penyingkirannya dilakukanlah dengan diam-diam dalam gerak melindap, dan senyap.

Oleh sebab yang misterius, ia jatuhlah sakit dan lalu wafat dengan cepat sebelum anak yang telah sembilan bulan dikandungannya lahir ke bumi fana, ia dikubur beserta janinnya yang masih jabang itu.

Tapi keajaiban terjadi, sesudah sehari dikubur, dari lahatnya terdengar rengek tangis bayi menembus tanah pasir yang menimbun makamnya.

Segera makamnya kembali digali, dan seorang bayi telah ada di sana, lahir dari dalam liang lahat kubur ibunya.

                             *

Ina Wa Komba datang dari Wa Kaokili, mengambil anak bayi tak lagi beribu itu, diangkat sebagai anak dan dibesarkannya sepenuh kasih sayang, ia menjadi ibu baru bagi anak itu.

Dididik sebaik-baiknya anak angkatnya itu, seperti sebagai anak dari darah dagingnya sendiri, diajarkannya kearifan belantara dan alam raya.

Dia namai anak yang diangkatnya itu sebagai La Ode Maklum, sebuah nama dalam perandaiannya sebagai “Anak Rahasia”

                           *

Kelak dialah “Anak Rahasia” itu yang mempersatukan Wakaokili dalam serumpun setelah tersekat dalam kampung-kampung yang membentang panjang dari Bengki hingga Tombuku, mempersambungkan trah mereka ke Wasuamba di Siontapina dalam apa yang dinamai Waorobula dan memutus tradisi Kamoomoose–membawa gadis Wakaokili pilihan ke istana.

Dia yang memutus kezaliman, memupus ketidakadilan, menghapus kesewenangan, sesuatu yang telah dirasainya bahkan sebelum lahirnya.

Dia yang karena padanya diharapkan kekuatan sekaligus kelembutan, keberanian dalam meneguhkan kebenaran, bahunya yang kokoh, badannya yang tegap, alot dan kuat, dinamailah: La Karambau.

-bersambung-

Penulis: La Yusrie (Anggota Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah Pengusulan Oputa Yi Koo)

-Tulisan ini dikutip dari akun Facebook milik La Yusrie

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *