Guru dan Segala Harapannya: Cerminan Cinta yang Tak Meminta Balasan

Keterangan Gambar : Guru Matematika SMPN 1 Wawonii Timur di Kabupaten Konawe Kepulauan)

OPINI – Tanggal 25 Noveember adalah Hari Guru Nasional, yang kata orang secara umum itu adalah momentum dan harapan bagi guru. Tapi bagi guru itu sendiri setiap hari adalah momentum.

Momemtum dan harapan, karena guru adalah sosok yang tak pernah berhenti  berharap, selalu bekerja keras, dan berdedikasi. Dia yang berdiri di ruang kelas dengan niat dan keinginan yang tulus, dia yang paham bahwa dihadapannya ada yang duduk menunggu petuah dan ilmunya.

Dia paham bahwa yang duduk di hadapannya saat ini, mereka yang kelak akan menjadi karyawan, pengusaha, pemimpin, orang tua. Bahkan sebagian dari mereka kelak akan menjadi guru yang kemungkinan akan mendidik anak ataupun cucu dari sang guru yang sedang berdiri di hadapan mereka saat ini.

Kadang dia marah, kadang tersenyum, kadang pula tertawa lepas bersama murid-muridnya semua itu dilakukan dengan satu harapan, kelak murid-muridnya akan bangga dan bahagia dari hasil belajarnya.

Guru berharap agar setiap ilmu yang ia berikan dapat terserap dengan baik, dia berharap selalu memberi inspirasi. Bahkan dia berharap untuk selalu memberi informasi dan harapan baru bagi muri-muridnya. Sehingga kelak ilmu yang diberikan dapat tumbuh menjadi bekal berharga bagi murid-muridnya.

Guru ingin melihat mata yang berbinar, ia ingin selalu melihat bibir yang tersenyum dan wajah yang cerah saat pemahaman baru ia sampaikan. Ia ingin mendengar jawaban-jawaban berbeda tanda ia paham. Ia ingin mendengar pertanyaan-pertanyaan kritis yang menandakan rasa ingin tahu, serta menyaksikan perubahan kecil yang menandai proses tumbuhnya karakter.

Guru juga berharap agar murid-muridnya kelak menjadi manusia yang tidak hanya cerdas. Tetapi juga berkarakter, tangguh, punya nasionalisme yang tinggi dan tentu saja berakhlak mulia.

Bagi guru, nilai bukan hanya angka yang tertera di atas kertas yang dibukukan dan kemudian disebut rapor ataupun ijazah, melainkan nilai itu adalah sikap, etika, karakter, dan kemauan untuk terus belajar.

Sang guru ingin melihat generasi yang berani bermimpi dan tidak takut jatuh. Ia ingin menanamkan kepada siswa bahwa kegagalan dan keberhasilan ibarat dua sisi mata uang yang selalu beriringan. Guru juga ingin agar murid-muridnya tahu bahwa di setiap kesuksesan besar pasti ada seseorang yang berani dan bertanggung jawab dalam mengambil langkah dengan resiko yang mungkin tidaklah kecil.

Di tengah harapan yang besar, ada tantangan yang tidak selalu mudah untuk dilewati. Kurikulum yang sering berubah-ubah, fasilitas yang tidak memadai, pemuda-pemuda pendahulu murid-muridnya yang tumbuh menjadi pragmatis dan mengesampingkan idealisme. Bahkan kadang murid-murid dipertontonkan oleh para pembesar negeri beberapa sikap tak patut dicontoh.

Kenyataan-kenyataan ini sudah pasti akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang murid. Tapi guru bukanlah sosok yang gampang menyerah, setiap kejadian akan selalu menjadi nasehat dan pengalaman. Selalu ada harapan, selalu ada yang diambil sisi positif dari setiap kejadian.

Guru tetap berharap agar dunia pendidikan semakin menghargai peran dan perjuangan mereka. Ia ingin dilihat bukan sekadar sebagai pengajar, tetapi juga sebagi pembentuk karakter masa depan bangsa.

Namun harapan terbesar guru sebenarnya sangat sederhana yakni melihat murid-muridnya berhasil menapaki jalan hidup masing-masing. Ada kebahagiaan ketika murid-muridnya berpikir kelak tidak hanya tampil sebagai prajurit tapi menjadi panglima. Ada kebahagiaan ketika melihat murid-muridnya yang dulu cerdas kini menjadi orang terpandang.

Ada kebahahagiaan yang sulit dijelaskan ketika seorang murid yang dulu kesulitan membaca kini mampu berdiri percaya diri. Atau ketika anak yang dulu pendiam menjadi pemimpin yang peduli. Selau ada kebahagian dan kebanggan ketika mengatakan “dia adalah muridku”.

Guru dan segala harapannya adalah cerminan cinta yang tidak meminta balasan. Sebuah pengabdian yang lahir dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki masa depan yang berharga, dan guru memilih untuk menjadi bagian dari perjalanan itu.

Penulis: Abd. Rakib, S.Pd, M.Pd (Guru PNS di Kabupaten Konawe Kepulauan)

Potretsultra Potretsultra Potretsultra
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *