Dirjen Hortikultura Ajak Warga Sultra Sukseskan HPS ke 39

Keterangan Gambar : Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto Saat Meninjau Kesiapan Sultra Sebagai Tuan Rumah HPS ke 39

KENDARI – Pesta pertanian yang identik dengan pemenuhan pangan masyarakat kembali akan di gelar di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 39 kali ini merupakan momentum terbaik karena tidak hanya diperingati oleh Indonesia namun juga seluruh anggota PBB ikut berpartisipasi. Pendirian Food and Agriculture Organization atau FAO dalam konferensi 1943, diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia.

HPS ke 39 tahun ini mengusung tema internasional, “Our Actions are Our Future, Healthy Diets for #ZeroHunger World.” Dan tema nasional adalah “Teknologi Industri Pertanian dan Pangan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045”.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan bahwa tema ini tentunya sejalan dengan strategi pembangunan Pertanian Kementerian Pertanian 2015 – 2019, yaitu menjadikan pangan sebagai basis produksi dan ekspor melalui penyediaan bahan baku bio industri.

Prihasto Setyanto yang baru-baru ini melakukan rapat pemantapan persiapan HPS ke 39 di Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara yang dihadiri oleh panitia pusat dan daerah menyebutkan bahwa kesiapan pelaksanaan Hari Puncak Kegiatan HPS di Sulawesi Tenggara sudah mencapai 90 persen, baik dari kesiapan lokasi maupun kesiapan pelaksanaan.

“Saat ini peserta daerah yang sudah konfirmasi kurang lebih 2.500 orang yang terdiri dari 34 Provinsi diantaranya dihadiri oleh 15 orang Gubernur, 3 Wakil Gubernur dan 57 Bupati/Walikota yang hadir bersama para petugas, KTNA, petani dari wilayahnya masing-masing,” ujarnya.

Kegiatan ini juga, lanjut Prihasto, akan dihadiri oleh 14 Duta Besar Negara Sahabat, 6 organisasi internasional yang dirangkaikan dengan acara Diplomatic Tour dengan melaksanakan  kunjungan lapangan ke Desa Labela, Kecamatan Besilutu, Kabupaten Konawe.

“Tentunya ini menjadi kebanggaan dan penghargaan bagi masyarakat Sultra untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan HPS ke 39, oleh karena itu mari kita bahu membahu menyukseskan acara ini,” harapnya.

Prihasto menambahkan, puncak acara dilaksanakan pada tanggal 2 November 2019 dengan menampilkan komoditas utama yaitu kakao dan sagu. “Kakao ini kita punya 1,7 juta hektare. Di Sulawesi ada 1 juta hektare. Di Sulawesi Tenggara sendiri ada kurang lebih 260 ribu hektare. Produktivitasnya masih rendah, Ini yang menjadi tantangan kita untuk menerapkan teknologi untuk meningkatkan produktivitasnya,” jelasnya.

Dirjen yang akrab dipanggil Anton ini menyebutkan, HPS kali ini juga menjadi momen kebangkitan sagu. Sagu merupakan komoditas sumber karbohidrat pangan alternatif masa depan.

“Sagu menjadi tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim. Berbeda dengan tanaman sumber pangan lainnya yang mudah terpengaruh perubahan iklim. Artinya kebutuhan akan pangan utama bisa diperoleh dari komoditas ini,” terangnya.

“Kita perlu perhatikan teknologi pasca panennya karena sagu sangat potensial. Sagu yang ada di Papua, Maluku, Sumatera dan Kalimantan itu luar biasa. Indonesia kaya akan aneka macam panganan sagu. Ini adalah kearifan lokal yang kita miliki dan prospektif,” sambung Anton.

Kata Anton, buang mindset bahwa sagu hanya menjadi masakan orang timur. Bicara lumbung pangan dunia, jangan hanya berbicara beras. Ada sagu, ubi, jagung bahkan sukun. Nanti di HPS akan disajikan aneka olahan sagu menjadi berbagai jenis olahan panganan. Dari berbagai segi kesehatan, sagu lebih baik dari nasi.

Anton juga mengatakan bahwa penyelenggaran HPS tahun ini memberikan manfaat yang luar biasa. Di lokasi acara puncak pelaksanaan HPS terdapat beberapa gelar teknologi yang tentunya bisa menjadi referensi bagi para petani mengembangkan teknologi tepat guna. Selain itu terdapat rangkaian kegiatan berupa seminar, temu bisnis, pameran dan aneka lomba yang berguna bagi petani dan masyarakat umum.

Ditambah lagi, kata Anton, kegiatan festival pangan lokal yang menampilkan produk komersial yang berbahan baku pangan lokal dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Bertujuan untuk menumbuhkan kreatifitas dan inovasi dalam membuat olahan pangan lokal yang menarik, bercita rasa tinggi, bernilai gizi, serta ekonomis,” pungkasnya.

Laporan: La Ismeid

Potretsultra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *