Dikbud Sultra Dorong Digitalisasi untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan

Keterangan Gambar : Ridwan Badalah (Foto:Ismed)

Potretsultra

KENDARI Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI terus mendorong pembangunan infrastruktur sekolah untuk pembelajaran. Hal tersebut ditunjukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di era digital. Digitalisasi sekolah merupakan terobosan baru di dunia pendidikan.

Program ini memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dalam berbagai aspek sistem pengajaran. Kelebihan sistem ini adalah mempermudah proses belajar-mengajar karena siswa akan mudah mengakses semua bahan ajar ataupun bahan ujian dari dalam satu jaringan.

Bukan hanya untuk siswa, guru pun memperoleh banyak manfaat dari program digitalisasi sekolah. Karena menjadi semakin kreatif dan inovatif. Lebih jauh terkait digitalisasi sekolah berikut wawancara Jurnalis Potret Sultra La Ismeid, dengan Tim Riset Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah:

Pandangan bapak  program digitalisasi sekolah apakah sekolah sudah mampu menjalankanya secara efektif dan efisien?

Menurut Ridwan, kebijakan mendikbud RI mendigitalisasi pendidikan boleh dikatakan dapat mengagetkan semua orang. Kendati pun dilihat track record beliau (mendikbud RI Nadiem) berhasil di era digitalisasi pada jasa transportasi membangun Gojek. Kemampuannya tidak diragukan lagi.

Kemudian keilmuan beliau itu ingin mengimplementasikan seperti apa di tingkat pendidikan. Ini memang ekstrim bagi dunia pendidikan .Pertanyaannya apakah bisa merevitalisasinya nantinya. “Sebenarnya hakekat dari keinginan Pak Menteri ini sebetulnya saya melihat bagimana melihat fenomena dulu hingga sekarang pendidikan kita sekarang masih carut marut. Beban belajar siswa yang terlalu banyak, beban jadwal belajar guru terlalu besar. Sehingga disini perlu adanya revitalisasi pendidikan ke era digitaliasi guna mentranformasikan kurikulum pembelajaran,” terangnya.

Apakah dengan pencanangan era digitalisasi siswa dan guru sudah siap untuk menjalankannya?

Melalui Digitalisasi Sekolah itu pula, lanjut Ridwan, komunitas guru saling bekerjasama membuat materi pembelajaran secara digital. Mengunggah bahan ajar tersebut ke dalam jaringan untuk digunakan bersama. Membuat tes ujian harian dan melaksanakannya secara bersama-sama lintas sekolah dalam jaringan online.

Lebih jauh Kepala Bidang Soskep Balibangda Sultra ini menjelaskan, digitalisasi Sekolah merupakan implementasi dari new learning, yang disiapkan untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Karakteristik new learning diantaranya adalah student centered, multimedia, collaborative work, information exchange, dan critical thinking and informed decision making.

Ridwan menegaskan, tantangan revolusi industri 4.0 ini wajib untuk siap dihadapi. Dimana digitaliasi dituntut bagi peserta didik, tenaga pendidik dan seluruh stakeholder mampu memanfaatkan tekonologi agar tidak ketertinggalan zaman.

“Kita contoh daerah yang lebih maju pendidikanya seperti negara Finlandia begitu lebih maju, karena sistem pendidikan sudah digitalisasi,” ujarnya ditemui di ruang kerjanya, Kamis (14/11/2019).

“Sebenarnya yang menjadi Kendala era digitaliasi ini terlalu disederhanakan kita anggap bahwa digitalisasi menteri saat ini adalah bagaimana siswa itu diberikan fasilitas seperti tablet dan elektronik lainya pada hal itu keliru,” sambungnya.

Namun digitalisasi pendidikan yang dimaksud menteri adalah pendidikan secara umum ada empat komponen didalamnya yakni bagaimana peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, serta seluruh stakeholder baik komite sekolah dan praktisi pendidikan meleg dengan digitalisasi.Jadi ini disebut digitaliasi pendidikan.

“Sehingga saya melihat ada sistem yang kita bangun. Contoh saat ini pembelajaran kita sangat jauh tertinggal dibanding dengan negara-negara luar yang sudah lebih dulu menerapkan digitalisasi. Seluruh aktivitas di sekolah baik pembelajaran maupun penilaian terhadap keterampilan sikap dan ilmu pengetahuan sudah bernuansa digitalis,” ulasnya.

Pemerintah sudah mencanankan era digitalisasi 4.0, apakah dengan program tersebut dapat meningkatkan kuliatas pendidikan atau melemahkan?

Saya melihat ini merupakan tantangan dan kewajiban bersama harus diikuti dan program ini akan meningkatkan kualiatas pendidikan dalam arti luas yakni kualitas siswa,guru,komite, dan stakeholder pendidikan.Jika guru sudah menerapkan digitalisasi, guru berusaha mencari pengetahuan yang lebih luas, update dan sinkron sehingga pembelajaran di kelas tidak monoton.

Idealnya, kata dia, akan timbul pengetahuan baru yang tercipta dalam sendi-sendi kemampuan siswa dalam menanggapi pelajaran.Seyogyanya ada ransangan bagi pendidik menemukan teori-teori kebaruan.

Era digitalisasi menjadi tantangan besar untuk wilayah terpencil, apakah ada solusi yang ditawarkan pemerintah?

Perlu dipahami bahwa digitaliasi pendidikan saat ini tidak hanya terkurung pada jaringan online. Tetapi ada lagi lebih canggih digunakan jaringan of line dengan menggunakan sentral satelit untuk mengambil jaringan.Dalam artian digitaliasi ini dapat digunakan di desa terpencil yang mungkin belum tersentuh oleh jaringan.

Apakah sudah ada kiat atau gebrakan pemerintah untuk memberi fasilitas dalam mendukung digitalisasi di daerah?

“Saya melihat sudah ada langkah-langkah baru yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini Asrun Lio selaku Kadikbud Sultra yakni dengan membuat satu program aplikasi proses pembelajaran berbasis digital, dan itu sudah dilakukan uji coba di sekolah-sekolah. Dan program ini merupakan program yang sangat jenius dan luar biasa dalam mendukung visi dan misi gubernur dan Wakil Gubernur Sultra dalam meningkatkan kualitas mutu pendidikan,” katanya.

Apalagi lanjut dia, beliau (Asrun Lio, red) telah berpikir membangun balai teknologi dan komunikasi (Tekom) itu sebagai sarana pendukung digitaliasi pendidikan.

“Hanya saja saya berharap kepada beliau untuk mendukung program tersebut benar-benar harus membutuhkan orang yang ahli dalam bidangnya dan mampu membantu mencanankan program tersebut untuk lebih aktif.

Selain itu Ridwan menyarankan kepada kadikbud untuk benar melakukan uji kompetensi terhadap kepsek dan mereka yang ikut uji kompetensi diambil dari 2 orang dari sekolah mewakili dewan guru. Kemudian lagi harus membentuk tim kelayakan dari Kepsek untuk menentukan kelulusan mereka.

Hilangnya tenaga pengawas di sekolah menurut bapak seperti apa?

Pengawas itu sebenanrnya intern kontrol yang mengawas semua komponen di tingkat pendidikan.Berarti komponen yang ada di sekolah turut diawasi baik siswa kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan, serta komite sekolah. Karena sekolah itu akan berjalan majemuk semua aspek berjalan secara normal. Dan selama ini fungsi kepala sekolah masih ada sebagian salah mempersepsikan bahwa pengawas sekolah itu tugasnya melihat perangkat pembelajatan guru. Sehingga disini tidak ada fungsi pengendalian dan mengorganisasi dalam sebuah lembaga satuaan pendidikan agar berjalan secara maksimal.

Jadi sebetulnya tidak dihilangkan fungsi pengawas tetapi pengawasan ini adalah satu kesatuan yang ada di sekolah yakni Sistem Pengendalian Mutu Internal (SPMI)

Siswa yang mengalami putus sekolah sudah berapa banyak data dihimpun?

“Berdasarkan data yang saya himpun anak putus sekolah sebanyak 702 orang dari semua jenjang baik SD, SMP, dan SMA berbanding terbalik dengan disampaikan oleh pemerintah kota bahwa anak yang putus sekitar puluhan saja dan saya tidak begitu yakin. “Hasil pra riset masih banyak anak yang bertengger di jalanan saat jam belajar kemudian di pelelangan masih banyak anak-anak yang terlantar.

Hasil riset membantah apa yang dikatakan pemerintah di tahun 2017 anak putus sekolah sebanyak 702 orang. Ternyata penyebab anak putus sekolah itu bukan karena dari orang tuanya tidak mampu secara ekonomi namun ada faktor lain yang perlu ditelusuri lebih dalam lagi oleh pemerintah.

Penulis : La Ismeid

Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *