Diduga Wartawan ‘Gadungan’ Sedang Bergerak di Konkep, Kades dan Kasek Disarankan Waspada

Keterangan Gambar : Ilustrasi

Potretsultra

KONAWE KEPULAUAN – Diduga, ada sejumlah oknum yang mengatasnamakan diri wartawan sedang bergerak di Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Mengomentari gerakan pers yang diduga ‘gadungan’ itu, puluhan wartawan yang tergabung di Forum Jurnalis Wawonii (Forjuwan) mengimbau kepada pemerintah daerah Konawe Kepulauan terkhusus lagi para kepala Desa dan kepala sekolah, agar mewaspadai gerakan oknum yang mengaku wartawan. Apalagi kalau melakukan pemerasan harus segera melapor ke pihak kepolisian.

Ketua Forjuwan Konawe Kepulauan (Konkep), Abdul Karim Lampoku geram atas kedatangan sejumlah oknum yang mengaku wartawan tersebut. Menurutnya, para pewarta yang bekerja di dunia pers itu harus profesional dan tidak menyalahgunakan profesi dengan gaya seakan-akan wawancara lalu ujung-ujungnya meminta sejumlah uang. Perlu diketahui wartawan profesional bekerja sesuai Undang-undang Nomor 40 Tahun 1990 tentang Pers dan menaati Kode Etik.

Karim menyebut oknum seperti itu disebut wartawan ‘gadungan’ atau wartawan ‘Bodrex’ yang melancarkan aksinya di tingkatan kepala desa secara diam-diam bergaya seperti penyidik lalu muaranya memeras. Aksi mereka kebanyakan di desa-desa dan sekolah.

“Kita harus waspadai gelagat mereka. Olehnya itu kepada para Kades dan Kasek sebelum di wawancara minta dulu tanda pengenalnya dan apakah sudah melaporkan ke Pemda atau ke Kesbangpol terkait aktifitasnya di daerah ini,” ujar Karim dalam keterangan persnya, Senin (8/6/2020) kemarin.

“Jika mereka keberatan maka jangan layani oknum wartawan tersebut sebab sudah bisa kita tebak bahwa mereka bukan wartawan yang bekerja sesuai tugas-tugas kewartawanan,” sambungnya.

Karim menambahkan, perlu diketahui juga pada tahun 2018 lalu, pihak berwajib bersama tim saber pungli Konkep telah melakukan operasi tangkap tangan (OTT) kepada wartawan gadungan berlabel KPK. “Mereka melancarkan aksinya di desa dan sekolah di Konkep, namun akhirnya niat busuk mereka terbongkar,” bebernya.

Sementara itu di tempat terpisah, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Tenggara, Sarjono meminta agar publik atau masyarakat mengontrol penyelenggaraan profesi kewartawan untuk tetap dalam koridor profesional sesuai amanat UU No 40/199 tentang Pers dan Kodel Etik Jurnalistik.

“Kemerdekaan pers adalah sarana bagi wartawan dalam mencari, memperoleh dan mempublikasi ke masyarakat, bukan kemerdekaan memeras, memfitnah dan menzolimi yang mencederai profesi kewartawanan,” tegas Sarjono.

Laporan: Redaksi

Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *