Bahlil Lahadalia di Pulau Tomia

Keterangan Gambar : Bahlil Lahadalia Saat kecil di Tomia Wakatobi (Kiri) dan Bahlil Lahadalia Saat Menuju Istana

Potretsultra

OPINI – Di antara banyak nama yang disebut Presiden Jokowi sebagai menteri, saya tertarik dengan satu nama yakni Bahlil Lahadalia, Kepala BKPM. Secara fisik, dia tampak berbeda. Dia kelihatan seperti wajah orang kebanyakan. Dia seperti wajah yang kita lihat di pelelangan, atau pasar ikan. Dia berwajah seperti orang sebelah rumah kita.

Bandingkan dengan Airlangga Hartarto yang wajahnya terlihat sebagai orang yang lahir dan besar di keluarga kaya. Lihat pula bedanya dengan Prabowo Subianto yang kelihatan gagah dengan kharisma dan aura terpancar. Jangan bandingkan dia dengan Erick Thohir.

Saya beberapa kali bertemu dan berbincang dengan Bahlil di markas Relawan Pengusaha Nasional untuk Jokowi-Amin (Repnas) yang dibentuk para pengurus HIPMI. Dia menjadi Ketua Dewan Pembina Repnas, sementara saya menjadi konsultan media sosial.

Di situlah saya mendengar suaranya yang sekeras debur ombak di lautan. Dia berbicara dengan logat khas orang Wakatobi yang kental. Saat dia tahu saya orang Buton, dia langsung sumringah. Dia mengaku sebagai orang Buton. Orangtuanya berasal dari Pulau Tomia, yang merantau ke Maluku Tengah, kemudian ke Fakfak, Papua. Daerah-daerah ini adalah kota-kota yang menjadi migrasi orang Buton di timur Nusantara.

Beberapa tahun lalu, sahabat saya Eka Sastra sudah bercerita banyak tentang Bahlil. Dia memulai semuanya dari bawah. Mereka yang sering ke timur pasti paham bahwa kebanyakan orang Buton sering menjadi pekerja kasar yang bekerja keras. Dia pun menjalani hidup yang cukup keras.

Di masa kecil, Bahlil sudah menjajakan kue di sekolah. Semasa belajar di SMK, bahkan dia menjadi kondektur dan sopir angkot. Saat kuliah, dia tak punya biaya untuk lanjut ke Jawa. Dia lalu banting stir kuliah di sekolah tinggi yang tidak terkenal di Jayapura. Dia pun bekerja serabutan sebagai sopir angkot untuk membiayai kuliahnya.

Tapi, dalam dirinya ada jiwa seorang aktivis. Dia bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga terakhir menjabat sebagai Bendahara Umum di PB HMI. Para aktivis HMI di Jakarta sering bercerita tentang Bahlil yang memulai kariernya dari tukang bikin kopi, lalu perlahan mulai sok akrab dengan para senior sehingga mendapat kepercayaan.

Saya melihat dia tipe pekerja keras yang mudah akrab dengan siapapun. Dia juga tipe yang hangat dan suka bercerita lepas. Ini menjadi modalnya ketika mengarungi rimba raya Jakarta. Dia menemukan passion-nya di dunia bisnis. Perlahan dia mulai menikmati kesuksesan, hingga akhirnya bisa membangun gedung bernama Cenderawasih Building di kawasan Mampang Prapatan.

Yang saya sukai, dia bukan tipe yang suka menutupi masa lalunya. Dia tak pernah malu bercerita dirinya di masa lalu yang bukan siapa-siapa. Dia ingin memotivasi adik-adiknya di HMI kalau semua orang bisa menggapai kesuksesan sepanjang berusaha dan punya semangat pantang menyerah.

Namanya mulai berkibar saat maju sebagai calon Ketua HIPMI. Dia melawan pengusaha yang merupakan putra dari satu grup besar taksi yang beroperasi skala nasional. Dia bisa memenangkan kontestasi itu. Bintangnya kian bersinar dan mulai sering tampil di layar televisi.

Saat perhelatan kampanye presiden 2019, dia langsung bergabung dengan Jokowi. Saya mendengar sendiri alasannya di kantor Repnas. Dia ingin melihat orang kampung seperti Jokowi bisa menjadi pemimpin. Dia menyebut dirinya dan Jokowi punya DNA yang sama yakni sama-sama dari kampung, sama-sama memulai dari nol.  “Saya ingin lihat orang kampung menjadi presiden,” katanya.

Di dunia pengusaha, Bahlil adalah mentor bagi banyak orang. Dia selalu mengajarkan kerja keras dan tekun belajar. Dia punya teori tentang para pengusaha yakni by nasab dan by nasib.

Yang dimaksudkannya by nasab adalah pengusaha yang mengelola usaha yang merupakan warisan keluarga. Pengusaha yang kaya karena sudah kaya dari sononya. Sedangkan by nasib adalah pengusaha yang memulai semuanya dari bawah, sebab harus bekerja demi hidup. “saya ini pengusaha by nasib karena harus mulai dari nol. Saya generasi pertama,” katanya sembari terkekeh.

“Yang kita butuhkan adalah pengusaha by desain. Karena segala hal harus dirancang sejak dini. Kompetisi makin ketat, makanya bisnis juga harus cerdas.’

Saat ditanya siapa sosok pengusaha yang paling menginspirasinya, dia langsung terdiam sesaat. Dia menyebut sumber inspirasinya adalah orang Buton bernama Lahadalia, bapaknya yang berprofesi sebagai buruh bangunan. Bapaknya adalah buruh bangunan yang bergaji 7.500 rupiah per hari, namun bisa menyekolahkan 8 anaknya hingga sarjana. Bapaknya tetap bekerja untuk anaknya, meskipun sedang sakit.

“Sayang, bapak saya meninggal tahun 2003, saat saya belum jadi apa-apa,” katanya parau.

Andai saja bapaknya melihat dirinya dipanggil presiden sebagai seorang menteri, pasti dia akan tersenyum bahagia.

Penulis: Yusran Darmawan 

Potretsultra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *