Tanggapi Polemik Unsultra, LM Bariun: Mari Jaga Marwah Akademik dan Berikan Ruang Proses Hukum Berjalan

Keterangan Gambar : Alumni Unsultra, Dr. LM Bariun, SH, MH (Foto: IST)

KENDARI – Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) belakangan ini terus menjadi sorotan dan perbincangan hangat di publik. Pasalnya, polemik kepemilikan yayasan yang hingga kini belum berakhir.

Alumni Unsultra, Dr. LM Bariun, SH, MH mengajak seluruh pihak untuk menyikapi dinamika hukum yang terjadi di lingkungan Yayasan Dikti Unsultra dengan kepala dingin, bermartabat, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai akademik demi menjaga marwah institusi.

Bariun mengulas perjalanan panjang berdirinya Unsultra yang sarat dinamika. Ia menjelaskan bahwa Yayasan Dikti Unsultra didirikan pada tahun 1986 oleh Ir. H. Alala, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara. Dalam perjalanannya, yayasan tersebut sempat mengalami pengambilalihan oleh Drs. H. La Ode Kaimoedin, yang kemudian berujung pada sengketa hukum.

“Perkara ini telah melalui seluruh tahapan hukum, mulai dari Pengadilan Tata Usaha Negara hingga Mahkamah Agung. Putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap (inkracht) dan dimenangkan oleh H. Alala,” ujar LM Bariun, Rabu (14/1/2026).

Dengan adanya kepastian hukum tersebut, Bariun menegaskan bahwa secara sah Yayasan Dikti Unsultra berada di bawah kewenangan H. Alala. Oleh karena itu, setiap perubahan akta maupun penerbitan Administrasi Hukum Umum (AHU) seharusnya melibatkan serta mendapatkan persetujuan dari ahli waris H. Alala.

“Jika terdapat penerbitan AHU tanpa melibatkan ahli waris, maka secara hukum dapat dinilai cacat hukum,” tegasnya.

Menanggapi munculnya klaim AHU baru yang melibatkan Versus Nur Alam, Bariun menilai bahwa jalur hukum tetap menjadi solusi terbaik agar tercipta kepastian hukum yang adil dan berkeadilan bagi semua pihak.

Meski demikian, ia mengingatkan agar polemik tersebut tidak merembet ke ranah akademik. “Yang harus kita jaga bersama adalah stabilitas akademik. Jika kegiatan akademik terganggu, maka mahasiswa yang paling dirugikan,” katanya.

Bariun juga mengajak seluruh pihak untuk berjiwa besar dan bersikap negarawan. Menurutnya, setelah proses hukum memberikan kepastian, semua pihak harus siap menerima hasilnya dengan lapang dada.

“Ini adalah jalan keluar yang elegan dan bermartabat. Bahkan akan jauh lebih baik jika para pihak dapat duduk bersama, bermusyawarah sesuai konstitusi dan nilai-nilai kebangsaan kita,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa konflik di media sosial bukan solusi. “Kita adalah negara hukum. Mari menahan diri demi Unsultra, yang merupakan kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara,” tambahnya.

Lebih lanjut, Bariun berharap dinamika ini tidak merusak silaturahmi akademik yang telah terbangun selama puluhan tahun. “Kita bersaudara dan telah bersama-sama membesarkan Unsultra. Jangan biarkan perbedaan ini merusak marwah institusi dan persaudaraan kita,” tuturnya.

Ia juga mengimbau para pejabat struktural dan dosen civitas akademika untuk tetap fokus menjalankan kewajiban akademik. “Urusan yayasan biarlah diselesaikan oleh pengurus yayasan. Tugas kita adalah memastikan proses akademik berjalan aman, tertib, dan kondusif agar mahasiswa merasa tenang,” jelasnya.

Ketua Asosiasi Doktor Indonesia (ADHI) Sultra ini menambahkan, dalam satu dekade terakhir Unsultra menunjukkan kebangkitan signifikan berkat kegigihan civitas akademika, mahasiswa, dan alumni. Hal ini ditandai dengan bertambahnya program studi S1 dan S2, serta kerja sama afirmasi program S3 dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) dan IPDN.

“Kepercayaan dari Unhas dan IPDN ini harus kita jaga bersama sebagai bagian dari komitmen peningkatan sumber daya manusia secara berkelanjutan,” katanya.

Sebagai alumni angkatan pertama Unsultra, Bariun menegaskan dirinya tidak berpihak pada kelompok mana pun. “Saya fokus menjalankan amanah di Pascasarjana, dengan harapan polemik ini dapat diselesaikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan sesuai ranahnya,” ujarnya.

Ia pun mengajak para alumni yang telah mengabdi di Unsultra untuk turut menciptakan kesejukan dan iklim kampus yang kondusif. “Sebagai alumni, kita memiliki tanggung jawab moral terhadap almamater. Unsultra adalah rumah besar kita bersama,” pungkasnya.

Tim Redaksi

Potretsultra Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *