KENDARI – Polemik kepemimpinan di Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) terus bergulir. Dua kubu masing-masing saling mengklaim ‘sah’.
Hal ini membuat Kepala LLDIKTI Wilayah IX, Dr. Andi Lukman, M.Si, akhirnya angkat bicara. Usai pertemuan dengan Nur Alam dan sejumlah pihak di Kantor LLDIKTI Wilayah IX, Jumat (9/1/2026), Andi Lukman menegaskan bahwa LLDIKTI tidak memiliki kewenangan mencampuri konflik internal yayasan.
Menurut Andi Lukman, posisi LLDIKTI sangat jelas dan tegas hanya mengakui yayasan yang mendapatkan pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).
“Kami dari LLDIKTI tidak bisa terlalu jauh masuk ke ranah yayasan. Itu bukan kewenangan kami. Kecuali jika diminta untuk memediasi atau mendamaikan,” ujar Andi Lukman dikonfirmasi wartawan melalui telpon selulernya, Jumat (9/1/2026).
Ia menjelaskan, hasil pertemuan menyepakati bahwa penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalur hukum, bukan melalui klaim sepihak. LLDIKTI, tidak berwenang menentukan siapa yang benar atau salah.
“Siapapun yang diakui oleh Kemenkumham, di situlah kami melayani. Saat ini yang kami akui adalah yayasan yang sah secara hukum,” tegasnya.
Andi Lukman menegaskan bahwa LLDIKTI hanya mengakui satu rektor, yakni Prof. Andi Bahrun, yang dilantik oleh Ketua Yayasan Muhammad Yusuf, yayasan yang saat ini tercatat dan disahkan oleh Kemenkumham.
“Tidak boleh ada dua rektor. Yang kami akui hanya satu, yaitu Prof Andi Bahrun. Itu sesuai dengan dokumen hukum yang berlaku,” katanya.
Meski demikian, Andi Lukman juga menyampaikan bahwa jika kedepan terdapat putusan hukum yang memenangkan pihak lain dan disahkan negara, maka LLDIKTI akan menyesuaikan sikap sesuai ketentuan hukum.
Dalam kesempatan tersebut, Andi Lukman menekankan agar konflik yayasan tidak mengganggu proses akademik yang sedang berjalan. Ia mengingatkan bahwa dampak terbesar dari dualisme kepemimpinan adalah mahasiswa.
“Kami mohon akademik tetap berjalan. Jangan ada pengangkatan rektor lain karena itu akan berdampak langsung pada mahasiswa,” ujarnya.
Ia juga berharap mahasiswa dan seluruh civitas akademika Unsultra tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa.
“Yayasan boleh berkonflik, tetapi penyelenggara perguruan tinggi saat ini adalah Ketua Yayasan Muhammad Yusuf dan pimpinan perguruan tinggi Prof Andi Bahrun. Itulah yang kami akui,” tegasnya.
Andi Lukman kembali menekankan kepada semua pihak, termasuk kubu Nur Alam, agar tidak menciptakan dualisme kepemimpinan demi menjaga stabilitas dan masa depan mahasiswa Unsultra.
Redaksi





















Tinggalkan Balasan