Generasi Emas 2045 Butuh Makan Bergizi Gratis atau Pendidikan Gratis?

Keterangan Gambar : Kader HMI dan Mahasiswa STIE 66 Kendari, Jumriman

OPINI – Pemerintahan Prabowo-Gibran yang pada saat kampanye Pemilihan Presiden 2024 lalu mereka membuat suatu program unggulan yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program ini menuai kritik dari banyak kalangan. Karena dinilai program tersebut akan menelan anggaran yang angkanya sangat fantastis.

Di samping itu, pada saat ini program Makan Bergizi Gratis belum terlaksana sepenuhnya karena ada masih terdapat beberapa daerah yang belum menerapkan program ini dalam melakukan uji coba.

Namun bukan disitu poinnya, yang perlu dipertimbangkan dengan cukup serius yaitu apakah program Makan Bergizi Gratis ini merupakan solusi untuk Indonesia emas tahun 2045 nanti?

Seyogyanya, untuk memajukan negara kita menuju Indonesia emas tahun 2045 nanti mestinya dilakukan dengan mencerdaskan anak-anak bangsanya. Salah satu langkah untuk mencerdaskan anak-anak bangsa yaitu dengan cara mengadakan program pendidikan gratis.

Program pendidikan gratis dinilai sebagai langkah serius dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tersebut agar anak-anak Indonesia tidak lagi mengalami kesulitan dalam melanjutkan pendidikan hingga ke perkuliahan. Bukan malah memberikan makan siang gratis.

Saat ini, masih banyak anak-anak yang Indonesia yang masih kesulitan dalam memperoleh pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Hal tersebut karena mahalnya biaya pendidikan di Indonesia.

Paul Finsen Mayor, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Papua Barat, menyatakan bahwa pendidikan gratis lebih diutamakan oleh masyarakat dibandingkan makan bergizi gratis. Beliau menekankan bahwa meskipun makan bergizi gratis penting, namun tanpa pendidikan gratis, siswa-siswi masih menghadapi tekanan psikologis terkait biaya pendidikan yang harus ditanggung.

Maka dari itu anak-anak bangsa hari ini membutuhkan pendidikan gratis dari pada makan bergizi gratis. Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) data yang diakses pada 5 November 2024 mencatat lebih dari 4 juta anak tidak bersekolah, mencakup kategori BPB, putus sekolah (Drop Out – DO), dan lulus tetapi tidak melanjutkan (LTM). ​

Di samping itu, banyak anak-anak yang telah lulus sekolah menengah atas (SMA) tidak melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi dikarenakan tingginya biaya pendidikan. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024, sekitar 3,57 juta lulusan SMA di Indonesia tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.

Sekarang ini, program makan bergizi gratis telah dilaksanakan. Akan tetapi banyak daerah-daerah yang menolak seperti kota Ambon, Kota Ternate, Provinsi Papua Kabupaten Jayawijaya (Wamena), dan daerah-daerah Papua yang lainnya mereka menolak dengan program makan bergizi gratis. Karena yang mereka harapkan adalah pendidikan gratis.

Jadi pendidikan gratis menjadi suara yang perlu diperdengarkan ke Pemerintah Pusat saat ini. Karena program makan bergizi gratis belum menjadi hal yang prioritas di masyarakat. Tentu saat ini program pendidikan gratis hingga ke perguruan tinggi yang terus diharapkan oleh masyarakat. Pendidikan gratis merupakan alternatif solusi untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Kebijakan pemerintah sebelumnya yang menghadirkan program KIP-Kuliah memang diakui sangat efektif dan berdampak besar terhadap peningkatan angka IPM Indonesia. Banyak mahasiswa yang berlatar belakang ekonomi kurang mampu, merasa sangat terbantu dengan adanya program KIP Kuliah.

Hanya saja program ini belum menyentuh ke seluruh mahasiswa yang berekonomi lemah. Kita berharap agar pemerintah terus meningkatkan kuota penerima KIP Kuliah. Hal tersebut agar semakin banyak generasi muda Indonesia yang melanjutkan ke bangku perkuliahan dengan tidak lagi memikirkan mahalnya biaya.

Karena maju mundurnya suatu bangsa itu tergantung dari anak-anak muda di bangsa itu. Jadi ketika ada program pendidikan gratis maka banyak anak-anak muda yang akan melanjutkan pendidikannya.

Apalagi saat ini Indonesia telah memasuki masa bonus demografi. Pemerintah perlu memanfaatkan momentum bonus demografi ini dengan baik. Karena jika tidak dimanfaatkan sebaik mungkin maka Indonesia Emas hanyalah utopia belaka dan angan-angan kosong, sulit rasanya mencapai generasi emas Indonesia di tahun 2045 nanti.

Penulis: Jumriman (Kader HMI dan Mahasiswa STIE 66 Kendari)

 

Potretsultra Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *