Cegah Stunting, Dinkes Mubar Himbau Warga Berikan ASI pada Bayi

Keterangan Gambar : Kabid Kesmas Dinkes Mubar, Nani Suarny (Foto:Sacriel)

MUNA BARAT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Muna Barat (Mubar) menghimbau masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi dan kualitas makanan. Karena keduanya merupakan cara yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting atau tubuh pendek.

Kepala Bidang (Kabid) Kesmas Dinkes Mubar, Nani Suarny mengatakan selama ini pemerintah selalu melakukan kampanye gizi seimbang. Nutrisi yang masuk ke tubuh harus diperhatikan agar tidak kekurangan atau berlebihan.

“Masalah ini perlu dipahami oleh seluruh masyarakat terutama para ibu-ibu agar benar-benar memperhatikan asupan gizi setiap hari. Tidak hanya sekedar makan saja,” ujar Nani, Selasa (24/12/2019).

Lanjut kata Nany, selain faktor asupan gizi kurang, penyebab stunting adalah kurangnya Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Menurutnya, para ibu harus memberikan ASI sesuai dengan arahan dokter agar pertumbuhan dan perkembangan anak tidak mengalami masalah.

“Sebelumnya, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Anung Sugihantono menjelaskan kebanyakan keluarga tidak memiliki pengetahuan tentang gizi dan perilaku kesehatan yang tepat, khususnya tekait cara memilih, mengolah dan menyajikan makanan yang baik bagi keluarga. Oleh karenanya menjadi penting menempatkan keluarga sebagai lokus maupun fokus tanggung jawab pemecahan persoalan gizi di masyarakat,” jelasnya.

Perlu diketahui kata Nani bahwa para ibu perlu memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif kepada anaknya selama 240 hari sejak anak dilahirkan.

“Eksklusif yang dimaksud ialah tidak dicampur dengan makanan tambahan lainnya. Karena di usia itu anak memang belum bisa mencerna makanan apa pun, kecuali saripati dari ASI, baru bisa dicerna,” ungkapnya.

Dia pun menjelaskan bahwa makanan dan susu formula selain ASI tidak bisa melindungi daya tahan tubuh anak dari berbagai penyakit. “ASI merupakan zat yang dikaruniai oleh Allah untuk menjaga kekebalan tubuh anak dari serangan penyakit,” jelasnya.

Nani menyebut bahwa anak yang berusia seribu hari (sekitar tiga tahun) harus dikontrol dengan program menyusui. Sebab, saat itu adalah usia emas sang anak. Jika tidak, orang tua dinilai tidak akan mampu menciptakan generasi yang sehat dan cerdas.

“ASI merupakan pendorong sel-sel otak. Jika ada ibu yang tidak memberikan ASI kepada sang buah hati, rongga otak anak banyak yang kosong, tidak dipenuhi saraf-saraf yang seharusnya. Akibatnya, anak kelak akan sulit menerima informasi dan ilmu pengetahuan,” ucapnya.


Laporan : Sacriel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *