OPINI – Akar dari bencana Rusia vs Ukraina adalah dampak perluasan pengaruh NATO yang mulai menjangkau wilayah Ukraina.
Meski Ukraina memiliki ikatan budaya dan hubungan emosional yang lebih dalam pada Rusia, namun kerjasama dan keberhasilan ekonomi negara yang tergabung di NATO memungkinkan Ukraina lebih berpihak pada NATO. Tentunya jangkauan tersebut sangat mengkwatirkan bagi keamanan Rusia.
Asumsinya jelas, jika Ukraina bergabung bersama NATO maka teknologi militer NATO akan ditempatkan di perbatasan antara Ukraina dan Rusia. Sebuah batas geografis yang sangat mudah untuk menjangkau ibu kota Rusia. Dengan demikian, ketertarikan Ukraina untuk bergabung bersama NATO dipahami oleh Rusia sebagai ancaman nyata bagi masa depan peradaban Rusia yang tak terelakan.
Tatkala permintaan Rusia ditolak oleh Ukraina untuk berdiri sebagai negara non-blok, maka operasi militer adalah opsi terakhir yang harus ditempuh. Dasar analisisnya jelas bahwa Rusia memiliki keunggulan militer untuk melakukan demiliterisasi di Ukraina serta mengunci aliansinya semisal NATO dan AS untuk tidak terlibat langsung.
Di tahun 2022, Global Firepower menempatkan Rusia sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar ke dua di dunia, jauh dari Ukraina di urutan 22. Opsi militer yang ditempuh oleh Rusia merupakan sebuah pertunjukan kekuatan yang tidak berimbang.
Dengan demikian, akhir dari perang ini hampir dipastikan adalah kemenangan pihak Rusia secara militer. Meski asumsinya rezim Putin menang secara militer, akan tetapi rekam sejarah banyak menunjukan bahwa opsi militer tidak pernah mencapai tahap kedamaian. Rezim Putin berpotensi untuk terus mendapatkan perlawanan dari puing-puing rezim Ukraina di bawah sokongan NATO dan sekutunya.
NATO sendiri akan memberikan bantuan pertahanan secara rahasia yang sangat kuat untuk perlawanan terhadap Rusia. Tidaklah keliru jika beberapa pengamat menyebutkan bahwa kemenangan tersebut tidak akan berbanding lurus dengan pengorbanan. Korban manusia dan keuangan yang signifikan akan berlanjut di Rusia, demikiaan tutur Ahli strategi di program pusat strategi dan keamanan scowroft dewan Atlantik.
Berkaca dari sejarah kelam peradaban Barat yang berdarah-darah, NATO dan AS tidak mungkin akan merespon Rusia dengan kekuatan militer karena respon tersebut akan membawa dua blok geopolitik (NATO dan AS vs Rusia) ke dalam bencana nuklir. Kata lainnya adalah akhir dari peradaban Barat. Opsi hijau adalah konsolidasi blok NATO dan pendukungnya untuk memberlakukan sanksi bagi Rusia.
Dengan demikian, blok geopolitik ini sedang memasuki kembali babak sejarah perang dingin. Tujuannya adalah mengekang pertumbuhan Rusia secara ekonomi agar dapat mendorong ekskalasi sosial dari dalam serta menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap rezim penguasa. Opsi tersebut sedang bergegas menunjukan tren positif.
Pasca Rusia menginvasi Ukraina tepatnya 24 Februari 2022, Rusia menghadapi krisis ekonomi terparah dalam sejarah Rusia akibat sanksi Barat yang menyasar hampir seluruh lembaga keuangan dan perusahaan Rusia (sergeiv lavro, kompas.com 10/3/2022).
Bisa jadi, proyek dari pagelaran ini adalah restrukturisasi kembali kekuatan Barat beserta aliansinya yang mulai berantakan serta melucuti pengaruh rezim putin di geopolitik Barat. Namun demikian, konflik ini akan menyeret negara-negara di dunia ke dalam krisis ekonomi akibat terganggunya jalur rantai pasok kebutuhan global.
Penulis: La Bania, S.Pd, M.Hum (Lulusan Magister Universitas Airlangga Surabaya dari Program Beasiswa LPDP)






















Tinggalkan Balasan