Jadi Pembicara di KP2IT, Tayeb Demara Bahas Ancaman Triple Disruptions

Keterangan Gambar : PPK Kosgoro 1957, Tayeb Demara (Foto: IST)

JAKARTA – Komite Pemuda Pembangunan Indonesia Timur (KP2IT) menggelar diskusi publik dengan tema “Millenials Talk About The Politic and The Recovery of Indonesian Economy”, Kamis (25/8/2022).

Dalam diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber yakni Dhiah Arinofa (Founder & CEO Baqoel), Yohanna Mustika ( Sekjen Partai Garuda), Putri Belanova (Politisi Muda Partai NasDem), dan Tayeb Demara (PPK Kosgoro 1957).

Dalam kesempatan itu, Tayeb Demara menjelaskan soal Triple Disruptions yang mengancam sendi perekonomian Indonesia. Ancaman Triple Disruptions kian hari kian mencemaskan.

“Tiga disrupsi yang terjadi simultan yakni Digital Disruption, Millenial Disruption, dan Pandemic Disruption,” ujar Tayeb.

Menurut Tayeb, Triple Disruptions ini sudah seperti ‘malaikat pencabut nyawa’ yang sangat ditakuti oleh banyak pelaku bisnis. Tak hanya pemain swasta seperti KFC, Pizza Hut, Nikon, Kinokuniya, Ramayana, Matahari, dan terakhir Giant. Namun kini BUMN pun mulai terimbas seperti tercermin dari berita-berita beberapa minggu terakhir.

“Seperti Garuda Indonesia tawarkan pensiun dini dan menanggung rugi Rp 1,4 Triliun tiap bulannya,” jelasnya.

Tayeb menambahkan, lima tahun terakhir utang PLN membengkak menjadi sekitar Rp 500 Triliun untuk membangun infrastruktur kelistrikan. Di tahun 2020, profit BUMN Karya turun drastis bahkan ada yang merugi hingga Rp 7,3 triliun.

Sekjen Masyarakat Pertambangan Indonesia (MPI) ini membagi 5 kelompok perusahaan yang rawan dan menjadi sasaran empuk Triple Disruptions.

Pertama Asset-Heavy and Debt-Heavy. Artinya aset fisik amat besar dan tidak produktif (beban overhead menghimpit). Utang menggunung sementara arus kas seret. Kedua Lack of Digital Capability, yakni lemah keunggulan bersaing digital dan tidak agile merespon perubahan karena birokrasi yang membelit.

Ketiga, Old and Declining Brand. Tayeb menjelaskan bahwa brand-nya melapuk atau menua sehingga tak memiliki “cool factor” lagi di mata milenial atau Gen-Z. Keempat High [Touch + Crowd + Mobility]: by-default. Artinya bahwa bisnisnya memiliki persentuhan, kerumunan, dan mobilitas tinggi. Bisnis pariwisata memiliki ciri ini.  Terakhir Inefficient-Protected, yaitu bisnis captive yang dilindungi oleh regulasi dan biasanya tidak efisien. Mereka begitu mudah digoyang oleh para “digital price leaders”.

“Lima ciri ini ada pada kebanyakan BUMN kita. Pertanyaannya apakah BUMN bakal menjadi sasaran tembak Triple Disruption berikutnya?,” kata Tayeb.

“Yang saya khawatirkan adalah jika kejadian beberapa minggu terakhir ini adalah pucuk-pucuk gunung es yang bisa memicu domino efek terpuruknya BUMN-BUMN kita dalam beberapa bulan kedepan,” pungkasnya.

Laporan: Man

Potretsultra Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *