Ditengah Isu RUU HIP, Ridwan BAE Perkuat Konsepsi 4 Pilar Kebangsaan di Dapilnya

Keterangan Gambar : Ridwan Bae Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, yang meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika di Wilayah dapilnya. (Foto: Ismed)

Potretsultra

KENDARI– Untuk pertama kalinya di masa New Normal, Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Ir  Ridwan Bae, melakukan kunjungan kerja (Reses), Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di tengah Pandemi Covid -19 dengan cara tatap muka kepada masyarakat di Wilayah Dapilnya Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara, Sabtu (27/6/2020). Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi V DPR RI ini mengatakan, bahwa Indonesia sebagai negara besar, dengan keaneka-ragaman suku, agama, dan budaya yang tersebar di sekitar tujuh belas ribu pulau harus memiliki konsepsi yang jelas untuk menopang kebesarannya.

Konsepsi itu disebut sebagai Empat Pilar Kehidupan berbangsa dan bernegara, atau Empat Pilar Kebangsaan, yang meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. “Empat pilar kebangsaan ini adalah tiang penyangga sekaligus pondasi yang menentukan kokohnya sebuah negara, sehingga, rakyat merasa nyaman, dan aman, serta terhindar dari segala macam gangguan, baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Pernyataan ini disampaikan Ridwan Bae, di depan ratusan masyarakat dan mahasiswa KKN Universitas Halu leo, yang mengikuti Sosialisasi. Ridwan Bae menjelaskan, 4 pilar kebangsaan salah satu pengikat kebersamaan kesatuan dan persatuan bangsa indonesai. Sejak lahirnya negara kita indonesia.

“Kalau kita memahami 4 pilar kebangsaan, bisa kita bayangkan para pendiri bangsa kita kala itu, memikirkan banyaknya perbedaan baik ras, suku, bahkan agama kita berbeda. Namun kita memiliki keinginan bagaiman bangsa ini bisa bersatu dan lahirnya namanya pancasila dan UUD 1945, untuk menyatukan bangsa. Sehingga dalam perbedaaan itu melahirkan satu sikap satu bahasa yang disebut bahasa indonesia.

Dikatakanya Ridwan, bahwa Pancasila sebagai pedoman hidup bernegara apapun alasanya keberdaaan bangsa pada saat itu. Kalau kita ada pemikiran seperti itu, kita tidak akan tahu apakah terbangun kekuatan seperti sekarang ini. “Pengamalan 4 Pilar yang dimaksud, suasana itu dihadapi sekarang ini. Semua kita lalui, ada yang bersalah kita maafkan dia berlainan agama kita saling menghormati, begitu juga budaya beerbeda kita tetap membangun kesatuan.

Karena diikat dengan 4 pilar, sehingga mewujudkan persamaan sesama bangsa ini. Kehidupan bertentangan pun saling menghargai dan menghormati,” katanya.

Sambungnya, kalaupun yang terjadi perbedaan dan keributan adanya perubahan rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi pancasila, itu hanya kelompok masyarakat dan politik yang kepentingan pribadinya belum terpenuhi. Sehingga Lahirlah riak- riak politik terjadi didalamnya, Namun ia berkeyakinan setelah pasca itu hidup berdasarkan 4 pilar tersebut.

Ridwan menegaskan, Indonesia tidak dimiliki oleh negara-negara lain, kadangkala negara lain heran dan kagum dengan bangsa kita ini, agamanya berbeda,kebudayaan berbeda tetapi kita bersatu.

“Saya memahami benar 4 pilar ini bapak-bapak ibu sudah memperlakukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya Saling memahami saling menghargai dan saling memaafkan pada perbedaan sangat diharapkan. Kalaupun ada perbedaan kita selesaikan dengan kekeluargaan sesuai semangat 4 pilar kebangsaan. Hal ini lebih memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan bagaimana kita memahami kehidupan kita dengan tidak membeda-bedkan persoalan agama ras,” jelasnya.

“Bangsa ini butuh kekuatan kebersamaan, sebab tanpa itu maka kita tidak bisa goyang maka pemerintah melalui DPR RI turun mensosialisasikan setiap tahun bahkan pemerintah menganggarkan kegiatan tersebut,” sambungnya.

Tak hanya itu Ridwan juga menyinggung sejumlah isu terkini di tengah pandemi Covid -19. Setidaknya ada dua isu yang menyita perhatian publik. Pertama, munculnya sikap dan tindakan yang provokatif dengan memanfaatkan psikis publik yang sedang mengalami kesulitan akibat pandemi Covid- 19 yakni pro kontra Rancangan Undang -Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) dan masuknya Tenaga Kerja Asing (TKA) di Wilayah Sultra.

Ridwan menanggapi itu, persoalan RUU HIP ini sudah dikirim ke Pemerintah karena melalui persetujuan DPR RI. Setelah inisiatif pemerintah mengirim Supres dan mekanisme itu belum terputus.

“Kalau pemerintah mengirim berarti akan terbahas, bersama DPR RI ,tapi wakil ketua DPR RI dari golongan karya Aziz Syamsuddin, terkait RUU HIP tersebut, saat menerima demonstran ia menyampaikan secara tegas bahwa kalau ada Surat Presiden (Surpres) masuk ke DPR RI akan disetop. Sikap Aziz Samsuddin mencerminkan sikap partai golongan karya menanggapi adanya RUU HIP,” Ringkas Ridwan Bae.

Soal tenaga kerja Asing Ridwan mengatakan, masuknya mereka tidak melanggar undang-undang cuman yang dipersoalkanya sekarang kaitanya kondisi pandemi covid 19, jadi ditolak tenaga kerja asing ini bukan hanya faktor lain, tetapi sabar dulu sambil menunggu pandemi covid ini berakhir.

Tetapi industri itu kan berjalan terus menerus. Nah pemeritah memiliki kebijakan secara nasional, melalui protokol kesehatan, selama itu mereka sehat dan melakukan tes swab covid mereka diperbolehkan masuk indonesia.

Ridwan Bae mengunjungi pembangunan Masjid yang sedang dibangun di Kelurahan bonggoeya Kecamatan Wuawua

Kalau mereka terinveksi covid dengan sendirinya pemerintah mereka di pulangkan, mereka akan diproses karantina. Bahkan soal TKA ini Gubernur dan Forkopimda juga sudah menerima. Jadi kita tidak ada pilihan gubernur yang dipilih rakyat sudah meerima,”.

“Namun kita berharap mereka hadir degan suasana yang sehat dan tidak membawa penularan kepada masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Eks Ketua DPD I Golkar Sultra ini mengimbau kepada masyarakat, agar tetap tenang, dan tidak terprovokasi dengan isu-isu yang berkembang. “Saya sebagai perwakilan rakyat akan memperjuangkan segala aspirasi yang disampaikan masyarakat,” ujarnya.

Hadir sebagai narasumber sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Dr Bahtiar, menekankan, tentang pentingnya pemahaman, dan pengamalan nilai-nilai yang terkandung dalam empat pilar kebangsaan yang menurutnya sudah sangat komprehensif dan menjadi benteng pertahanan negara. Masyarakat tidak usah bingung, apalagi ber spekulasi dengan ide-ide baru tak jelas arahnya, semuanya sudah diatur secara lengkap di Empat Pilar Kebangsaan.

Akademisi UHO, mengungkapkan,bahwa, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara yang sudah final yang bersendikan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. UUD 1945 sebagai landasan konstitusional mengatur kekuasaan dengan prinsip demokrasi, Ham, kebersamaan dan gotong royong,

“NKRI adalah konsep yang dipilih sebagai bentuk negara kesatuan (bukan federasi) yang telah disepakati oleh seluruh warga negara, Bhinneka Tunggal Ika merupakan realitas keberagaman yang harus dibaca sebagai potensi untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,” Pungkas Eks Dekan Fakultas Ilmu Sosial Politik ini.

Diakhir sosialisasi 4 Pilar kebangsaan, Ridwan Bae, membagikan sembako kepada warga Kelurahan Bonggoeya Kecamatan Wuawua Kendari, dan juga menyempatkan diri mengunjungi pembangunan Masjid yang sedang dibangun di wilayah itu.

Perlu diketahui, dalam agenda Sosialisasi 4 Pilar kebangsaan tetap menerapkan protokol kesehatan Covid 19, sosial di stancing dan menggunakan masker.

Laporan: La Ismeid

Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *