KOLAKA UTARA – Aktivitas pertambangan dan pemuatan hasil tambang oleh PT. Tambang Mineral Maju (TMM) di wilayah pesisir Desa Lelewawo, Kecamatan Batu Putih, terus menuai sorotan.
Masyarakat nelayan setempat menyuarakan kekhawatiran mereka atas dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan, khususnya terhadap ekosistem laut dan mata pencaharian nelayan.
Maraknya aktivitas pemuatan di jetty milik PT. TMM yang berada di wilayah Desa Lelewawo dinilai telah mencemari laut dan mengancam kerusakan terumbu karang yang menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan. Hal ini berdampak langsung pada hasil tangkapan nelayan yang terus menurun.
“Dulu kami bisa menangkap ikan dekat pesisir dengan hasil 20-30 kilogram per hari. Sekarang, untuk dapat 10 kilogram saja sudah bersyukur,” ungkap Darvin Daris, salah satu nelayan Desa Lelewawo, Jumat (2/5/2025).
Darvin menambahkan bahwa akibat pencemaran dan rusaknya terumbu karang, nelayan terpaksa melaut lebih jauh, sekitar 5 hingga 10 mil, yang secara ekonomi sangat membebani mereka.
Lebih lanjut Darvin menjelaskan bahwa kerusakan ekosistem pesisir tidak hanya berdampak pada kegiatan memancing. Tetapi juga terhadap hasil tangkapan lain yang biasanya diperoleh dari sekitar terumbu karang.
“Akibatnya, biaya operasional yang dikeluarkan nelayan kerap kali tidak sebanding dengan hasil tangkapan,” katanya.
Masyarakat nelayan Desa Lelewawo yang tergabung dalam Poros Nelayan Lelewawo telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan pihak perusahaan untuk menyampaikan dampak nyata yang mereka rasakan. Namun hingga saat ini, belum ada solusi konkret yang ditawarkan oleh PT. TMM.
Selain dampak ekonomi, aktivitas pertambangan ini juga memicu persoalan sosial di masyarakat pesisir. Keresahan semakin meningkat seiring dengan dugaan bahwa diamond pond milik perusahaan belum sepenuhnya stabil. Namun kegiatan produksi tetap berjalan. Hal ini dinilai sebagai bentuk kelalaian yang dapat membahayakan lingkungan sekitar.
“Sebagai bentuk protes dan seruan perubahan, Poros Nelayan Lelewawo berencana menggelar aksi demonstrasi untuk mendesak perusahaan menjalankan pertambangan yang berkelanjutan serta menjaga kelestarian lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat pesisir,” tegasnya.
Mereka juga mendesak perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat untuk segera turun tangan menyikapi persoalan ini demi perlindungan hak-hak nelayan dan kelestarian lingkungan laut.
Laporan: Andika
























Tinggalkan Balasan