KENDARI – Formasi terbentuknya Koperasi Merah Putih di Sulawesi Tenggara (Sultra) mendapat respon Pengamat Hukum Tata Negara, Dr LM Bariun SH, MH.
Menurut LM Bariun, pengelolaan koperasi merah putih sangat urgen ada tenaga sumber daya manusia andal, utamanya yang melek teknologi digital untuk menjalankan program nasional tersebut.
Pasalnya, sudah banyak model koperasi di Indonesia yang dijalankan, sebagian berakhir gagal karena tidak bisa dijalankan secara profesional.
“Ada koperasi simpan pinjam tapi gagal, koperasi unit desa juga gagal, dari sekian banyak koperasi, hanya sedikit yang berhasil,” kata Bariun saat ditemui, Senin (21/7/2025).
Lanjut Bariun, tantangan lain dari koperasi merah putih adalah metode yang digunakan masih konvensional, belum menggunakan digitalisasi. Itu lah yang membuat koperasi itu nantinya akan kalah saing.
“Sekarang ini orang belanja sudah lewat handphone, dipasarkan secara online. Nah, pengurus koperasi merah putih yang dibentuk justru harus didatangi,” ujarnya.
Terlebih kata Direktur Pasca Sarjana Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) itu, koperasi merah putih akan mendapat suntikan anggaran hingga miliaran rupiah sebagai modal.
“Dana yang dikelola ini sangat besar, siap tidak para pengurus ini nantinya, jangan sampai tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Meski demikian, Bariun mengaku, program nasional koperasi merah putih sangatlah baik, hanya saja harus diimbangi dengan sumber daya manusianya yang berkualitas.
Ia pun mengingatkan para pengurus koperasi merah putih untuk melek digitalisasi sesuai perkembangan zaman, dan menjalankan tugasnya secara transparan.
Tim Redaksi

























Tinggalkan Balasan