Terus Lestarikan Budaya, Kecamatan Baruga Kota Kendari Juara Tari Lulo

Keterangan Gambar : Kecamatan Baruga juara tari lulo. Foto: Istimewa.

KENDARI – Kecamatan Baruga, Kota Kendari terus menorehkan prestasi, termasuk dalam pelestarian seni dan budaya. Itu terlihat saat kecamatan tersebut menjuarai lomba tari lulo saat menyemarakkan HUT ke-192 Kota Kendari, beberapa waktu lalu.

Tim tari lulo Kecamatan Baruga mengalahkan 10 kecamatan lainnya, dengan berhasil meraih skor 1.760 yang menjadikannya juara, pada lomba Tari Lulo Tradisional Pagelaran Seni dan Budaya lingkup Pemerintah Kota Kendari.

Camat Baruga, Sentosa sendiri, mengapresiasi kekompakan tim tari lulo tradisional Kecamatan Baruga yang bisa tampil maksimal dan menjadi juara pertama. Apresiasi juga diberikan pada dewan juru termasuk dukungan para penonton.

“Tim kami merupakan ibu-ibu PKK dan ibu lurah se-Kecamatan Baruga dan tidak ada satupun dari sanggar. Kami mempersiapkan selama sebulan,” beber Sentosa belum lama ini.

Tim tari lulo Kecamatan Baruga berhasil mengalahkan 10 kecamatan lainnya. Foto: Istimewa.

Ketua Dewan Tim Juri, Muhamad Iqbal Piagi mengaku, untuk menentukan siapa juara lulo, pihaknya sudah melalui diskusi yang panjang dan berbagai pertimbangan.

“Walaupun memang juri tidak mempunyai penilaian yang sama. Tapi melalui diskusi dan pertimbangan-pertimbangan sampai akhirnya kita mengerucut ke satu ketetapan bagaimana juknis dan bagaimana esensi dari lulo tradisional itu tercapai,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara, Adriana Musaruddin menyampaikan ungkapan syukur, sehingga pagelaran lomba yang berlangsung bisa berjalan lancar tanpa hambatan apapun.

“Kami selaku panitia sudah berupaya keras sehingga acara bisa berjalan lancar walau ada sedikit kendala teknis, namun itu bisa diatasi,” ungkapnya.

Tari malulo atau lulo sendiri merupakan salah satu jenis kesenian tari dari Sulawesi Tenggara.

Tarian ini berasal dari suku Tolaki di Kabupaten Konawe yang sampai saat ini masih melestarikan tari lulo sebagai tarian persahabatan.

Dalam buku Lensa Budaya (2008) oleh Musnani Wahida, pada zaman dahulu, tarian ini ditampilkan dalam upacara adat seperti pernikahan, pesta panen raya, dan pelantikan raja.

Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu dalam pagelaran tari lulo. Foto: Istimewa.

Malulo mencerminkan bahwa masyarakat Tolaki adalah masyarakat yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan dan persatuan dalam menjalani kehidupannya.

Selain melalui tarian, hal ini juga dapat diungkapkan dalam bentuk modulu ronga mepokoaso yang artinya masyarakat dalam menjalani perannya masing-masing selalu bersatu, bekerja sama, saling menolong, dan bantu-membantu.

Gerakan malulo tidak sesulit gerakan tari tradisional yang lain. Para penarinya saling berpegangan tangan dan membentuk lingkarang yang saling menyambung.

Para penari bisa mengajak tamu atau penonton untuk bergabung dalam tarian ini. Langkah kaki tarian malulo cukup mudah untuk segera diikuti. Tarian ini dilakukan oleh pria, wanita, remaja, dan anak-anak yang menari mengikuti irama.

Berdasarkan jurnal Karakteristik Tata Rias dan Busana Pada Tari Lulo Di Sanggar Anasepu Kota Kendari (2019) oleh Majid dan kawan-kawan, penari wanita mengenakan baju Babu Nggawi.

Babu Nggawi artinya baju yang tidak terbelah pada bagian depannya seperti baju kebaya, namun tidak berkancing. Warna baju cenderung warna terang, seperti oranye, kuning, merah muda, dan lainnya. Sedangkan untuk bawahan, penari wanita menggunakan Sarung Tenun Tolaki yang diberi ikat pingan atau Tabere warna-wani.

Para peserta lomba lulo. Foto: Istimewa

Tabere memiliki makna bercerai berai tetapi tetap satu tujuan. Ikat pinggang ini memiliki warna-warna tabere yang berbeda-beda namun dalam satu ikatan.

Untuk penari pria mengenakan Babu Kandiu sebagai atasan. Babu Kandiu merupakan baju lengan panjang dengan kerak berdiri yang terbuka pada bagian depan. Umumnya berwarna biru. Penari pria menggunakan Saluaro atau celana panjang untuk bawahan dan ditambah Sawu Ndolaki yang dililitkan pada pinggang yang membalut celana.

Untuk aksesoris, penari perempuan mengenakan sanggul, hiasan sanggul, anting-anting, kalung, dan gelang.

Sedangkan penari pria menggunakan Pabela atau topi berbentuk segitiga. Alat musik pengiring tarian lulo adalah gong dan kendang dengan irama gembira dan sukacita.

Laporan: Aden

Potretsultra Potretsultra
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *