KONAWE KEPULAUAN – Tim pelaksana Program Bina Masyarakat (PBM) Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari telah melaksanakan Sosialisasi dan Pelatihan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Watuondo, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep).
Kegiatan tersebut terlaksana pada 31 Juli sampai 16 Agustus 2025 melalui sumber pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Anggaran 2025.
Tim pelaksana Program Bina Masyarakat yang dipimpin oleh Rita L. Bubun, S.Pi., M.Si, Murniati, S.Sos., M.Si, dan Muhammad Rizaldi Makmur, S.E., M.Si., CMA, bersama dengan mahasiswa Al Isra, Nurwanda, Wulan, Agus, La Ode Fandi Fattah, Mutlan Jaya dan Muh. Fahril.
Program itu berfokus pada implementasi konsep blue economy melalui pemanfaatan hasil tangkapan burungo (T. Telescopium) secara berkelanjutan.
Diketahui, Desa Watuondo terletak di Kecamatan Wawonii Timur Laut Kabupaten Konkep, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan salah satu wilayah pesisir yang kaya akan sumber daya perikanan. Desa Watuondo juga sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Laut Banda, mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan.

Tim PBM UM Kendari Saat Melatih Warga Desa Watuondo dalam Implementasi Konsep Blue Economy pada T. Telescopium
Sesuai data dari Pemerintah Desa Watuondo total populasi di desa tersebut sekitar 299 jiwa, sekitar 56% berpendidikan SD dan tidak sekolah, dan 68% masih belum memiliki perkerjaan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat sangat bergantung dengan sumberdaya laut yang terdapat di wilayah pesisir dan laut dangkal.
Kegiatan itu dibuka langsung oleh Ketua TP PKK Konkep, Ucha Nidya Ramadhani, S.Pd. Dalam acara itu juga dihadiri oleh Asisten 1 Setda Konkep, Dra. Hj. Nurul Hidayati dan Rombongan TP PKK Konkep, Kepala desa Watuondo, beberapa mahasiswa KKA UM Kendari serta diikuti 35 peserta dari desa Watuondo.
Dalam sambutannya Ketua TP PKK Konkep, Ucha Nidya Ramadhani, S.Pd mengapresiasi atas pelaksanaan kegiatan PKM di Desa Watuondo. Ia berharap kegiatan itu dapat berkelanjutan untuk menghasilkan produk-produk yang berbasis kearifan lokal masyarakat Konkep, serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat mitra.
“Apresiasi yang setinggi-tingginya atas terlaksananya program ini, terkhusus kepada tim PMB dari UM Kendari yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Semoga kegiatan ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat desa setempat,” ucap Ucha Nidya Ramadhani, S.Pd dalam sambutannya, Kamis (31/7/2025) lalu.

Suasana Saat Pelatihan PKM Terhadap T. Telescopium kepada Warga Desa Watuondo
Sementara itu, Ketua Tim PBM, Rita L. Bubun, S.Pi., M.Si saat memaparkan materi sosialisasi mengatakan, bahwa hasil tangkapan yang banyak diperoleh nelayan Desa Watuondo yaitu berupa keong bakau yang dikenal dengan sebutan lokal “burungo” (T. Telescopium) dari famili Potamididae. Namun, meskipun hasil tangkapan melimpah, para nelayan menghadapi tantangan dalam pengolahan dan pemasaran hasil tangkapan mereka.
“Keterbatasan dalam pengolahan menyebabkan produk hasil laut cepat membusuk, sementara pemasaran yang tidak terukur dan tidak valid membuat harga jual burungo menjadi rendah di tingkat lokal, bahkan kadang tidak laku dijual. Sehingga Burungo dimanfaatkan oleh nelayan setempat hanya untuk makan sehari-hari dan memenuhi pakan budidaya kepiting bakau,” ungkapnya.
Rita L. Bubun menjelaskan, permasalahan utama yang dihadapi masyarakat yaitu penurunan kualitas hasil tangkapan dan pemasaran yang tidak optimal.
Ia menawarkan solusi melalui PKM tersebut yakni implementasi konsep blue economy, di mana nelayan tidak hanya fokus pada penangkapan burungo, tetapi juga pada diversifikasi pengolahan produk dengan memanfaatkan sistem pemasaran digital, baik secara offline maupun online.
Lebih lanjut Rita L. Bubun menyampaikan, metode pelaksanaan kegiatan ini meliputi sosialisasi kepada mitra dan pemerintah setempat, pelatihan diversifikasi pengolahan hasil laut, penerapan teknologi pengemasan, serta pendampingan dan evaluasi.
“Tim PKM juga akan memberikan peralatan dan bahan untuk mengolah hasil laut menjadi produk seperti kerupuk burungo, dan aksesoris dari bahan burungo, serta memperkenalkan kemasan yang menarik dan sesuai standar pasar,” ujarnya.
Ia menambahkan tahap pelatihan, mitra didampingi langusung oleh Tim PKM dan narasumber yang kompeten pada bidangnya. Pelatihan diberikan oleh narasumber berpengalaman dalam pembuatan produk olahan laut. Selain itu, penerapan teknologi pengemasan yang dilengkapi dengan label produk.
Hal ini dilakukan untuk menarik konsumen lanjut Rita L. Bubun mengatakan, melalui penjualan yang dipromosikan secara digital di platform media sosial. Selama kegiatan pelatihan mitra sangat antuasias mulai dari pengumpulan burungo sampai pembuatan kerupuk dan aksesoris dari bahan burungo.
Selanjutnya, Setelah tahapan pelatihan, maka dilaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi. Pada tahapan ini dilaksanakan sebagai bentuk refleksi kegiatan PKM untuk mengetahui tingkat perubahan dan penyerapan transfer pengetahuan dalam teknologi dan inovasi produk olahan burungo.
Menurut Rita L. Bubun bahwa kegiatan ini juga diakui sebagai bagian dari Rekognisi SKS bagi para mahasiswa yang terlibat, yakni Al Isra, Nurwanda, Wulan, Agus, La Ode Fandi Fattah, Mutlan Jaya dan Muh. Fahril, yang memperoleh pengakuan akademis dalam berbagai mata kuliah terkait perikanan dan pemasaran.
Rita L. Bubun berharap melalui PKM ini akan berefek pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui inovasi dan diversifikasi produk olahan hasil perikanan yang berbasis pada kearifan lokal dan prinsip-prinsip keberlanjutan.
“PKM juga menghasilkan beberapa luaran antara lain produk kerupuk burungo, aksesoris, artikel jurnal, HKI Modul Pembuatan Produk, HKI Poster, dan sertifikat halal,” jelasnya.
“Melalui kegiatan ini kami berharap dukungan dari pemerintah daerah dan sinergi dengan berbagai pihak diharapkan dapat menjaga keberlanjutan program ini ke depan. Sehingga masyarakat Desa Watuondo dapat terus berinovasi dalam pengolahan hasil laut dan meningkatkan taraf hidup mereka secara mandiri,” pungkasnya.
Laporan : Jarman Alkindi






















Tinggalkan Balasan