Ketegangan Kembali Pecah di Lahan Sengketa Stockpile PT TRK di Desa Oko-Oko Kolaka

Keterangan Gambar : Suasana Ketegangan di Desa Oko-Oko Antara Pemilik Lahan dan PT TRK

KOLAKA – Ketegangan kembali memuncak di Desa Oko-Oko, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Senin (5/5/2025), ketika warga yang mengklaim lahannya diserobot oleh PT Tambang Rejeki Kolaka (TRK) melakukan aksi protes dan pemblokiran jalan hauling milik perusahaan.

Aksi yang dipimpin oleh Nasar Badewing ini merupakan lanjutan dari insiden sehari sebelumnya, Minggu (4/5/2025), dimana sejumlah warga bersama Ketua DPK-LPPNRI Kolaka mendatangi lokasi stockpile dan jetty milik PT TRK untuk melakukan pemagaran dan meminta pertanggungjawaban perusahaan atas dugaan penyerobotan lahan.

Dalam pertemuan tersebut, pihak warga memberikan tenggat waktu hingga Senin (5/5) pukul 10.00 WITA agar manajemen PT TRK segera menghubungi Ketua DPK-LPPNRI Kolaka Utara, Misran, selaku penerima kuasa, guna membahas pembayaran ganti rugi atas lahan dan tanaman yang telah digunakan perusahaan.

Namun, hingga batas waktu yang ditentukan, tidak ada tanggapan dari pihak perusahaan. Warga bahkan merasa dilecehkan karena pagar yang mereka dirikan justru dicabut dan dirusak. Hal ini memicu kemarahan Nasar dan warga lainnya yang kemudian memblokir jalan hauling dengan memarkir mobil dan motor di tengah jalur aktivitas tambang.

Situasi semakin memanas ketika dua oknum aparat berseragam loreng, datang ke lokasi dan meminta warga segera membuka blokade. Oknum aparat tersebut juga meminta legalitas kepemilikan lahan warga, yang memicu perdebatan sengit.

Nasar menjelaskan bahwa warga menggunakan jalan alternatif, bukan jalan hauling milik PT TRK. Karena mereka sebelumnya sudah dilarang melintas di jalur produksi. Ia juga menegaskan bahwa lahan yang digunakan perusahaan adalah milik warga yang belum menerima kompensasi.

Di tengah ketegangan itu, perwakilan PT TRK yang dikenal dengan inisial HR muncul dan memarahi warga atas aksi mereka. HR berdalih bahwa lahan tersebut telah dibeli dari seseorang berinisial SRY. Pernyataan ini mengejutkan warga, karena menurut mereka, informasi soal penjualan lahan selama ini ditutup-tutupi oleh pemerintah desa, baik oleh kepala desa lama maupun yang baru, yang merupakan anak dari mantan kades.

Akhirnya, setelah perdebatan panjang di bawah terik matahari, disepakati bahwa masalah ini akan dibawa ke kantor desa. Namun, Kepala Desa Oko-Oko, H. Binsar Gombi, saat ini sedang berada di Jakarta.

Menurut informasi terakhir yang diterima warga, pertemuan untuk menyelesaikan sengketa lahan ini akan dilaksanakan pada Selasa (6/5/2025).

Laporan: Andika

Potretsultra Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *