Demo Cabut IUP PT GKP, Mahasiswa Bela Wawonii Bentrok dengan Satpol PP

Keterangan Gambar : Tampak Massa Aksi Bela Wawonii Bentrok dengan Satpol PP

KENDARI – Teriakan penolakan aktivitas pertambangan PT Gema Kreasi Perdana (GKP) di Pulau Wawonii kembali menggema.

Kali ini puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Front Rakyat Sultra Bela Wawonii (FRSBW) menggelar demo penolakan tambang di depan Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Jumat (8/4/2022).

Salah satu orator aksi, Agung mendesak agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra segera meminta Pemerintah Pusat untuk mencabut Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT GKP di Desa Sukarela Jaya Kecamatan Wawonii Tenggara Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep).

“Kami mendesak Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara agar meminta Pemerrintah Pusat hentikan aktivitas pertambangan PT GKP di tahan Wawonii yang meresahkan dan membuat konflik berkepanjangan di masyarakat,” teriak Agung dalam orasinya.

Agung juga mendesak agar Pemprov Sultra melakukan evaluasi kembali Peraturan Daerah (Perda) nomor 2 tahun 2021 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Konawe Kepulauan yang diduga cacat hukum.

“Kami minta agar pihak Pemprov segera evaluasi Perda RTRW Konkep,” ujarnya.

Dalam pantauan Potretsultra.com, tampak terlibat saling dorong antara massa aksi dan aparat Satpol PP. Hal ini dipicu karena massa penolak tambang Wawonii tersebut memaksa masuk untuk bertemu dengan Guebernur Sultra, H. Ali Mazi, SH.

“Hari ini suasana Ramadhan jangan menghalangi kami, kami datang disini aksi damai, kami hanya ingin bertemu dengan Pak Gubernur, mohon pihat aparat kawal kami dengan baik, jangan lakukan tindakan represif,” kata salah seorang pendemo, Odi.

Tak berselang lama kemudian, pihak Pemprov Sultra yang menjadi utusan Gubernur menemui massa aksi. Pihak Pemprov tersebut meminta agar perwakilan 10 orang dari massa aksi untuk bertemu langsung dengan Gubernur Sultra pada Selasa (10/4) nanti. Namun dari pihak pendemo tidak menerima tawaran tersebut, mereka tetap memaksa agar hari ini juga harus dipertemukan dengan Gubernur Sultra.

“Itu waktu terlalu lama pak kalau harus hari Selasa baru kami ditemui. Kami minta agar Pak Gubernur menemui kami hari ini juga,” tegasnya.

Karena tetap memaksa masuk, membuat pihak aparat pengamanan membubarkan massa aksi dengan paksa. Sehingga terjadilah kembali bentrok antara para pendemo dan pihak aparat pengamanan. Aksi saling lempar batu pun menjadi tak terhindarkan. Lalu beberapa menit kemudian, massa aksi membubarkan diri.

Laporan: Man

Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *