BAUBAU – Untuk menjadi pemain bukan sekedar penonton di 100 tahun kemerdekaan Indonesia yakni 2045 nanti, generasi Indonesia harus memiliki kecakapan digital.
Hal tersebut dikatakan Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse saat menghadiri acara silaturahmi kader dan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Se-Kota Baubau yang diselenggarakan di Gedung Maedani, Senin (28/3/2022) Malam.
Dalam kesempatan tersebut, La Ode Ahmad Monianse mengatakan, untuk menjadi pemain di Tahun 2045 maka harus mempunyai literasi digital. Di mana, saat ini digitalisasi telah menjadi nafas kehidupan serta menjadi salah satu penentu bagi seseorang dalam menunjukkan eksistensi dan kemampuannya, baik di lingkungan sekitarnya maupun di mata dunia.
“Saat ini hampir tidak ada satu pun aktivitas kehidupan yang tidak menggunakan digital, sehingga literasi digital sudah harus menjadi nafas organisasi. Dan organisasi wajib untuk memberikan arah bagi anggotanya, agar digitalisasi yang dia pahami itu benar-benar digunakan sepenuhnya untuk manfaat, bukan untuk muslihat dan mengecundangi orang lain,” tuturnya.
Lebih lanjut orang nomor satu di Kota Baubau ini mengatakan, salah satu faktor pendukung untuk mencapai kesejahteraan di Tahun 2045 adalah pemahaman tentang literasi digital. Selain itu, agar bangsa Indonesia tidak terjajah dalam berbagai sektor, maka sumber daya manusianya harus diperbaiki dan ditingkatkan dengan melibatkan semua unsur.
“Salah satu upaya untuk memperbaiki sumber daya manusia itu, selain lembaga-lembaga pendidikan adalah organisasi-organisasi kepemudaan. Dan mestinya program-program yang disusun oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan harus disesuaikan dengan kondisi masa kini untuk kebutuhan masa depannya para pengurus dan anggotanya,” jelasnya.
Selain itu, La Ode Ahmad Monianse juga mengajak para pengurus PMII untuk kembali mereorientasi pola pengaderannya. Hal tersebut dimaksudkan agar dapat mengetahui dan memahami ke mana arah dan tujuan dalam berorganisasi, serta untuk memperjelas apa motivasi dalam berorganisasi.
“Kira-kira apa motivasinya dalam berorganisasi, karena saya melihat teman-teman yang berorganisasi hari ini, ibarat orang naik motor tanpa speedometer tanpa mengetahui berapa kecepatan larinya,” terangnya.
“Olehnya itu coba di reorientasi kembali pola pengaderannya, supaya bisa memproyeksikan apa tujuan dan motivasi kita dalam berorganisasi,” pungkas Monianse yang juga mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu.
Sumber: Dinas Kominfo Kota Baubau






















Tinggalkan Balasan