Imbas Isu Tunda Pemilu: Elektabilitas Demokrat Naik, PKB dan PAN Menurun

Keterangan Gambar : Ilustrasi

JAKARTA – Indonesia Political Opinion (IPO) merilis hasil surveinya terkait pemilu 2024. Ada Partai Politik (Parpol) yang naik elektabilitasnya, dan ada pula yang menurun.

Partai Demokrat misalnya mengalami kenaikan berada di posisi ketiga dengan 10,3 persen menggantikan Partai Golkar. Sedangkan Partai besutan Airlangga Hartarto itu turun ke posisi ke empat dengan 8,5 persen.

Dalam hasil survei tersebut, IPO juga menemukan penurunan elektabilitas di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN). PKB turun di posisi ketujuh dengan 4,6 persen, sedangkan PAN terancam gagal ke senayan karena hanya mencapai 2,2 persen. Untuk posisi pertama masih diduduki PDI Perjuangan dan posisi kedua ditempati Partai Gerindra.

Survei IPO dilaksanakan pada 11-17 Maret 2022. Metode yang digunakan adalah wawancara via telepon kepada 1220 responden yang tersebar secara acak skema nasional. Tingkat akurasi data mencapai 95 persen, dengan margin of error sebesar 2.9 persen.

Menurur Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah penurunan elektabilitas berimbas pada perubahan peta rencana koalisi politik 2024.

“Perubahan itu bisa pengaruhi rencana koalisi 2024, semula Golkar punya kans memimpin koalisi, tetapi kini bisa saja Golkar hanya akan jadi mitra koalisi, mimpi mengusung Airlangga Hartarto bisa juga gagal di tengah jalan,” kata Dedi seperti dilansir dari http://Kumparan.com Selasa (24/3) lalu.

Selain itu, Dedi Kurnia menyebut ketokohan ketum Golkar, Airlangga Hartarto merosot jauh dan tidak lagi menjadi primadona di internal Golkar.

“Dari sisi ketokohan, Airlangga ditinggal jauh oleh Dedi Mulyadi dengan tingkat keterpilihan 3,4 persen dalam tawaran 20 nama potensial. Airlangga sendiri pada skema yang sama hanya mendapat 0.2 persen. Ini bukti kegagalan Airlangga dalam mempertahankan reputasi politiknya di hadapan publik,” lanjutnya.

Selanjutnya, menurut Dedi perihal elektabilitas PKB yang menurun dihadapkan pada dua persoalan yakni konflik dengan PBNU serta kontribusi PKB pada wacana penundaan pemilu. Penurunan elektabilitas ini disebabkan wacana penundaan pemilu yang disuarakan oleh masing-masing Ketum Partai.

“Kedua, ini sejalan dengan wacana penundaan Pemilu yang digaungkan oleh Muhaimin, sehingga momentum penurunan sejalan dengan itu, PKB dan Muhaimin sama-sama terperosok,” tegas Dedi.

Sementara itu untuk survei Pilpres, posisi Anies Baswedan berada di posisi pertama dengan 21,2 persen disusul Ganjar Pranowo 18,6 persen, dan Prabowo Subianto posisi ketiga dengan 16,4 persen.

Nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menempati posisi keempat dengan 9,8 persen. Nama selanjutnya yang menyusul Ketum Partai Demokrat itu yakni Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil 4,2 persen. Selanjutnya ada nama Sandiaga Uno dengan 3,8 persen.

Nama tokoh publik lainnya seperti Cak Imin, Airlangga Hartarto, dan Zulkifli Hasan berada di posisi bawah. Ketum PAN memperoleh elektabilitas 0,6 persen, Ketum PKB berada di 0,6 persen, dan Ketum Golkar 0,2 persen.

Laporan: Redaksi

Potretsultra Potretsultra Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *