JAKARTA – Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia kembali menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Strategi Pengembangan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Hal tersebut sebagai bagian dari program prioritas nasional Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas pengelola perpustakaan dalam menerapkan layanan inklusif yang berbasis teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Pada tahun 2025, Bimtek ini menyasar mitra program TPBIS di 35 provinsi dan dilaksanakan secara daring. Untuk memaksimalkan proses fasilitasi, kegiatan dibagi ke dalam 13 kelas virtual dengan masing-masing kelas didampingi oleh Pelatih Ahli (Master Trainer) TPBIS yang telah mendapatkan sertifikasi nasional.
Salah satu tim fasilitator atau narasumber kelas 4 dan kelas 12 adalah Agung Wibawa dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunung Kidul dan Andi Idha TLP dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kolaka Utara, yang bertanggung jawab memfasilitasi dua kelas daring. Kelas pertama telah sukses dilaksanakan pada tanggal 30 Juni hingga 3 Juli 2025, dengan wilayah sasaran meliputi Provinsi Bangka Belitung, Sumatra Selatan, dan Lampung.
Kegiatan ini diikuti oleh 43 peserta yang terdiri dari 3 orang PIC/ FASDA dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi, 13 orang PIC/ Fasda dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten/Kota, serta 27 pengelola perpustakaan desa/kelurahan.
Pelatih Ahli dalam Bimtek ini, Agung Wibawa menyampaikan, Pelatihan tersebut menjadi ruang belajar dan refleksi bersama antar pengelola perpustakaan dari berbagai jenjang.
“Dengan pemahaman strategi berbasis TIK dan pendekatan inklusi sosial, peserta diharapkan mampu mengembangkan layanan yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat lokal,” ujar Agung Wibawa kepada Potretsultra.com, Sabtu (5/7/2025).
Senada dengan itu, Pelatih Ahli lainnya, Andi Idha TLP menambahkan, pihaknya melihat semangat luar biasa dari peserta. Menurutnya, transformasi perpustakaan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang keberanian untuk berubah, berinovasi, dan melibatkan masyarakat sebagai mitra aktif.
Sebagai kelanjutan, fasilitasi akan dilanjutkan pada tanggal 7 hingga 10 Juli 2025 untuk kelas kedua, yang akan diikuti peserta dari wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara.
“Diharapkan kegiatan ini terus memperkuat peran perpustakaan sebagai agen perubahan sosial di daerah,” pungkasnya.
Laporan: Andika






















Tinggalkan Balasan