Pilkada Konkep Bakal Dihiasi 3 Paslon, Begini Kata Pengamat

Keterangan Gambar : Direktur Eksekutif The Haluoleo Institut, Naslim Sarlito Alimin

KONAWE KEPULAUAN – Arena Pemilihan Kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) nampaknya bakal dihiasi 3 (tiga) Pasangan Calon (Paslon). Hal itu dilihat dari dinamika konstelasi politik dalam perebutan tiket.

Saat ini, bakal pasangan calon petahana, Amrullah – Andi Muhammad Lutfi sudah siap dengan tiket dukungan Partai Politik (Parpol). Sementara ini pasangan dengan akronim BERAMAL itu telah mengantongi SK dukungan dari PKB (3 kursi) dan PKPI (2 kursi). Selain itu, Paslon penantang yakni Musdar – Ilham Jaya Maal dengan akronim MULYA juga siap dengan tiket parpolnya yakni PAN (3 kursi) dan PKS (1 kursi).

Begitupula calon penantang lain yang maju lewat jalur perseorangan, Abdul Halim – Untung Taslim yang kini sedang menyiapkan KTP dukungan perbaikan. Selain 3 pasangan kandidat di atas, muncul pula nama Oheo Sinapoy yang digadang-gadang bakal merebut pintu Partai Golkar (3 kursi) dan PDI Perjuangan (1 kursi).

Membaca situasi ini, pengamat politik Sulawesi Tenggara Naslim Sarlito Alimin mengungkapkan, Pilkada Konkep saat ini kemungkinan dihiasi 3 pasang calon dan bisa saja 4 pasang calon jika Oheo Sinapoy berhasil mengambil Golkar dan PDI Perjuangan. Kata dia, semakin banyak kontestan Pilkada maka semakin banyak juga pemain.

“Konkep itu geografisnya kecil dan DPT-nya kecil, beda halnya jika DPT-nya besar maka lebih leluasa akan bermain, tapi ini sempit dengan banyak kontestan,” ujar Naslim saat ditemui di ruangannya, Minggu (26/7/2020).

Meski begitu, menurut Direktur Eksekutif The Haluoleo Institut (THI) ini, calon petahana saat ini seharusnya banyak mengambil konsolidasi di lapangan. Karena para kandidat dari calon penantang ini sibuk dengan mengurus pintu atau tiket maju Pilkada.

“Menurut saya, calon incumbent ini sudah harus konsolidasi besar-besaran di lapangan, jangan sibuk dengan urusan calon yang lain,” jelasnya.

“Kalau petahana ini kan urusan pintu selalunya aman, tapi penantang saat ini kan sedang sibuk urus mencari pintu dan tentu ini akan merusak kosentrasi dalam konsolidasi di lapangan,” tambahnya.

Kata Naslim, calon petahana lebih berpeluang memenangkan pertarungan daripada calon-calon lain. Meski begitu, para calon petahana juga tetap berhati-hati. Karena di Pilkada tahun 2015 lalu, ada beberapa calon petahana yang kalah.

“Saya melihat petahana lebih berpeluang menang, karena memiliki banyak waktu untuk mengkonsolidasi keadaan di lapangan, tapi juga harus hati-hati,” terangnya.

Sementara untuk calon penantang yang maju lewat jalur independen, Naslim mengatakan, belum ada cerita baik yang memenangkan pertarungan Pilkada di Sulawesi Tenggara dari calon independen. Bahkan kisahnya dalam perolehan suara selalunya jauh dari suara yang ditargetkan. Sehingga harus ada pembaharuan gerakan politik.

“Sepanjang cerita politik di Sultra belum ada calon independen yang memenangkan pertarungan. Sehingga seharusnya ada pembaharuan gerakan, harus ada isu yang lebih kuat dan menyentuh di kebutuhan masyarakat,” bebernya.

Naslim juga menyarankan agar para penantang harus lebih ‘kedengaran’ gerakannya dibanding petahana, jangan main senyap. Karena kata dia, politik itu hingar bingar, terbaca, dan keras. Seperti Pilkada tahun 2017 lalu yang terjadi di Bangka Belitung, Erzaldi – Rosman berhasil tumbangkan dua petahana dengan gerakan yang besar dan terasa, tidak main senyap.

“Erzaldi – Rosman di Bangka Belitung menang dan kalahkan dua petahana, karena memang dia gelombang gerakannya besar, keras, bergelora, terasa di lapangan,” tuturnya.

“Kalau mau menang ya harus keluarkan gerakan yang besar,” pungkasnya.

Laporan: Jubirman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *