Peringati 10 Muharam, GOW Kota Baubau Gelar Kegiatan Sosial Santuni Anak Yatim

Keterangan Gambar : Ketua GOW Kota Baubau Saat Santuni Anak Yatim (Sumber: Dokumentasi Dinas Kominfo Kota Baubau)

Potretsultra

BAUABAU – Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Baubau memperingati 10 Muharam dengan kegiatan sosial yakni menyantuni anak yatim.

Kegiatan yang diselenggara di Rumah Jabatan Wakil Wali Kota Baubau pada Kamis (19/8/2021) Kemarin ini, disebut dengan istilah Pakandeana Anaana Maelu, yang berarti memberi makan kepada anak yatim.  

Ketua GOW Kota Baubau Wa Ode Nursanti Monianse, S.Pd dalam keterangan persnya mengungkapkan, kegiatan 10 Muharam merupakan program tahunan dari GOW Kota Baubau khususnya bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra). Ia juga mengungkapkan, karena pandemi Covid-19, sehingga kegiatan tersebut dilaksanakan dengan sederhana sejak 2 Tahun terakhir.

“Memperingati 10 Muharam ini sebenarnya merupakan tradisi dari leluhur kita di Buton ini, setiap 10 Muharam para orang tua kita di Buton ini selalu melakukan ritual, yaitu memberi makan kepada anak-anak yatim yang dalam bahasa Wolio disebut dengan Pakandeana Anaana Maelu,” ujar Wa Ode Nursanti Monianse.

Lebih lanjut ia menjelaskan, tata cara Pakandeana Anaana Maelu dalam adat Buton ialah diawali dengan memandikan serta memberi dan memakaikan pakaian yang bagus kepada anak-anak yatim tersebut. Hal ini dilakukan di waktu pagi pada tanggal 10 Muharam, yang dilanjutkan dengan menyuapkan makanan serta memberikan berbagai macam hadiah kepada anak-anak yatim tersebut.

“Saya kira hikmah dari kegiatan ini adalah, bahwa kita sebagai manusia itu mempunyai keterbatasan-keterbatasan. Di mana tidak semua dari kita memili kemampuan yang sama dalam menjalankan kehidupan ini. Sehingga akan selalu ada orang yang membutuhkan uluran tangan kita, baik itu dari kalangan keluarga kita sendiri maupun orang lain,” tuturnya.

“Seperti halnya pada kegiatan hari ini, yaitu menjawab kebutuhan anak-anak yatim yang sangat memerlukan uluran tangan dari kita semua. Untuk itu, saya berharap, dengan santunan ala kadarnya ini dapat membuat mereka bahagia, serta bisa membangkitkan semangat hidup mereka bahwa masih banyak yang orang-orang yang peduli dengan mereka,” imbuhnya. 

Wa Ode Nursanti Monianse juga berharap, agar apa yang sudah menjadi tradisi masyarakat Buton tersebut, dapat terus dilestarikan oleh generasi-generasi yang akan datang. Pasalnya, selain memiliki nilai luhur sebagai kearifan lokal, juga merupakan anjuran dalam ajaran Agama Islam yang telah mengajarkan tentang pentingnya memberi makan kepada anak yatim. 

“Program kegiatan sosial dari Organisasi Gabungan Wanita ini pada dasarnya cukup banyak, namun karena kita masih dalam situasi pandemi Covid-19, jadi kami hanya bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa dilaksanakan pada situasi pandemi seperti kegiatan hari ini. Hal ini kami lakukan agar tidak menimbulkan terjadinya kerumunan,” jelasnya.

Wa Ode Nursanti Monianse juga mengungkapkan, peringatan 10 Muharam tersebut biasanya dilaksanakan secara besar-besaran seperti apa yang sudah menjadi tradisi dari masyarakat Buton sejak dahulu. Di mana dalam ritual Pakandeana Anaana Maelu tersebut, makanan disajikan dengan menggunakan talang khusus, yang biasa dipakai oleh masyarakat Buton dalam acara-acara adat.

“Untuk menghindari terjadinya kerumunan, maka kegiatan ini kami lakukan secara sederhana, namun tidak mengurangi Himah dari pada 10 Muharam ini. Dalam ajaran Agama kita juga menyebutkan, bahwa 10 Muharam merupakan hari rayanya anak-anak yatim. Karena pada 10 Muharam ini mereka betul-betul digembirakan dan dimanjakan dengan diberikan berbagai macam hadiah,” pungkasnya.

Laporan: Redaksi

Potretsultra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *