Menakar Peluang Anies Baswedan Sebagai Cawapres Jokowi

Anis Baswedan
Keterangan Gambar : Anis Baswedan

Potretsultra

Pemilihan Umum Presiden akan digelar tidak lama lagi. Proses pendaftaran di KPU pun kian menanti. Teka – teki dan spekulasi calon wakil presiden Jokowi serasa menjadi sarapan rutin tiap waktu, berbagai tanya mulai terlihat, siapa, dari partai apa, orang mana, dan lain-lain .

Tentu menjawab pertanyaan tersebut bukan hal yang mudah. Sebab begitu banyak kepentingan yang harus terakomodir untuk menjawab pertanyaan dan berbagai spekulasi politik tersebut.

Namun di banyak survey ada nama yang cukup kuat untuk menjadi pasangan Jokowi pada Pilpres mendatang. Sebut saja mereka adalah Prof.Dr. Mahfud MD, Srimulyani dan Moeldoko, yang tidak lain adalah Kepala Staff Khusus Presiden.

Nama-nama tersebut bukan nama baru dalam konteks perpolitikan nasional. Meskipun mereka bukan kader partai politik, misalkan Prof Mahfud MD, beliau adalah mantan Anggota DPR/MPR, kemudian terpilih menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi dan Saat ini dipercaya menjadi bagian dari istana yang tugasnya merawat pancasila sebagai ideologi negara.

Kemudian ada nama lain yaitu Sri Mulyani, yang namanya tentu tidak asing dalam pendengaran kita. Sebab beliau pernah menjadi Menteri Ekonomi di masa Pemerintahan SBY dan kemudian diangkat menjadi Pelaksana Direktur Bank Dunia, setelah itu kembali ke tanah air untuk dipercaya menduduki posisi sebagai Menteri Keuangan. Sehingga latar belakang yang bersangkutan sangat cepat diingat karena jabatan penting tersebut.

Disamping itu ada pula nama lain yang sering menjadi perbincangan sebagai Cawapres terkuat Jokowi, yaitu mantan Panglima TNI di masa Pemerintahan SBY (Moeldoko). Bahkan para relawan sudah membuat akronim “JODOH” yang berarti Jokowi – Moeldoko Hebat.

Dapat dipastikan nama-nama tersebut belum tentu menjadi pilihan Presiden Jokowi untuk menjadi Soulmate nya meminjam kata Romahurmuzy pada Pilpres mendatang. Sebab kita tahu bahwa memutuskan siapa Cawapres Jokowi perlu perhitungan dan takaran politik yang memadai, agar supaya keputusan tersebut tidak membuat keberadaan partai koalisi menjadi rapuh.

Kita meninggalkan beberapa nama di atas yang cukup kuat di ingatan rakyat akan menjadi pendamping jokowi di Pilpres mendatang. Kembali kita memunculkan satu nama baru sebagai bahan perbandingan, apakah pantas atau layak menjadi pendamping Jokowi, siapakah dia? Sebut saja Anies Baswedan.

Mungkin nama ini membuat alergi para pendukung Ahok. Sebab bagaimanapun Anies Baswedan adalah rival politik Ahok pada Pilgub DKI beberapa waktu silam. Meskipun yang bersangkutan pernah menjadi Menteri Jokowi di Kabinet Kerja.

Tetapi kemenangan yang didapatkannya dalam Pilkada DKI syarat dengan Isu SARA, itu yang kemudian berkembang dan seolah susah dilupakan oleh kelompok Ahok. Namun bukan berarti dia tidak punya peluang untuk disandingkan dengan Jokowi pada Pilpres mendatang.

Potretsultra

Sebab politik itu dinamis, bergerak begitu cepat dan terkadang susah ditebak. Lawan bisa jadi kawan, dan kawan bisa jadi lawan. Karena politik sejatinya tidak mengabadikan kawan dan lawan, melainkan keabadian hanya untuk kepentingan. Begitu kira-kira makna filosofinya.

Mengapa bagi saya menarik Anies Baswedan sebagai Cawapres alternatif Jokowi yang menurut saya sangat kuat. Karena ada beberapa sinyal yang tentu mengarahkan pandangan kita untuk berpendapat bahwa bisa saja Anies Baswedan sebagai Cawapres Jokowi. Misalkan saat Pak JK yang tidak lain adalah Wapres Jokowi saat ini, mengajak Anies di beberapa kesempatan untuk berdua dalam satu mobil.

Meskipun hal tersebut bukan hal yang baru bagi seorang Anies. Sebab Pak JK bisa dikatakan sebagai Guru Politik Anies. Sehingga kebersamaan mereka bukanlah hal yang perlu untuk dibuat menjadi sebuah pertanyaan. Walau sebagian banyak orang memperkirakan kebersamaan yang kian sering menjelang waktu pendaftaran Pilpres tentu memiliki makna yang cukup penting dalam proses menuju tahapan Pilpres.

Kita tahu bahwa Anies adalah salah satu menteri di kabinet Jokowi saat itu yang cukup dekat dengan Pak JK. Tentu gambaran keduanya begitu dekat menjelang Pilpres adalah sebuah sinyal apakah Pak JK diminta oleh Jokowi untuk melobi Anies sebagai calon Wapresnya?

Kemudian menjelang beberapa hari setelah Pak JK bersama Anies, dilanjutkan dengan pertemuan Airlangga Hartarto selaku Ketua Umum Partai Golkar di Istana Wapres sebagai bentuk lobi Mantan Ketum kepada Ketum untuk mendorong Anies sebagai Cawapres Jokowi?

Dan apakah peran Pak JK ketika mendorong Anies sebagai Cawapres Jokowi bisa dikatakan sebagai representasi Pak JK yang selama ini kita tahu banyak yang meminta untuk Pak JK kembali berpasangan dengan Jokowi di periode kedua? tetapi dihalangi oleh Undang-Undang sehingga harapan itu pupus.

Semua masih sebatas tanda tanya. Meskipun setiap Anies ditanya soal kesediaannya menjadi Capres, yang bersangkutan selalu menjawab akan fokus urus Jakarta. Tetapi bukan berarti menolak peluang ketika yang memintanya adalah tokoh politik yang membesarkannya selama ini.

Masih di isu yang sama untuk mengaitkan Anies adalah tokoh yang kira-kira akan mengagetkan kita, meminjam istilah Ali Muktar Ngabalin. Saat nantinya diumumkan sebagai Cawapres Jokowi, ya bisa jadi cukup mengagetkan. Karena namanya selama ini cukup kuat menjadi representasi Gerindra sebagai partai oposisi pemerintah.

Tetapi apa pun itu, semua masih serba tanda tanya. Akan ada waktunya terjawab spekulasi yang berkembang. Bukan tidak mungkin yang bersangkutan menolak menjadi Capres saat ditanya awak media. Tetapi menjadi Cawapres kemungkinan tidak ditolaknya.

Penulis: Muhamad Zakir Rasyidin

Potretsultra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *