Lapor Mantan Suami Gegara Nikahkan Anak, Pengacara: Tak Ada Paksaan, Ibunya Hadir saat Pernikahan

Keterangan Gambar : Kuasa hukum, Ajimi, SH (kiri) dan La Ode Muh Hiwayad, SH,MH (kanan). Foto: Istimewa.

Potretsultra

KENDARI – Kasus pelaporan yang dilayangkan oleh seorang ibu terhadap mantan suaminya lantaran tidak setuju anak perempuannya dinikahkan, mendapat tanggapan kuasa hukum terlapor.

Sang kuasa hukum, Ajimi, SH membeberkan, laporan yang dilayangkan oleh mantan istri tersebut atas tudingan ada unsur paksaan, tidak berdasar. Pasalnya dalam prosesi pernikahan, Pelapor juga menghadiri tempat proses pernikahan tersebut di kediaman kliennya.

Bahkan pelapor juga turut mengundang beberapa tokoh masyarakat setempat untuk menyaksikan prosesi pernikahan anaknya tersebut.

Terlebih kata Ajimi, sebelum pernikahan, keluarga kedua belah pihak telah bertemu dan membicarakan ihwal pernikahan anak-anak mereka.

Jika sang ibu tidak mengizinkan anak perempuannya menikah lantaran masih berusia 16 tahun, kata Ajimi, sang ibu tidak akan hadir dalam proses pernikahan tersebut.

“Tapi kan buktinya, ibu dari perempuan ini hadir saat pernikahan berlangsung,” beber Ajimi, Rabu (24/5/2023)

Rekan Ajimi, La Ode Muh Hiwayad, SH.,MH menuturkan laporan ke Polresta Kendari sendiri, dilayangkan sesudah proses pernikahan berlangsung. Seharusnya kata Hiwayad, jika memang tidak setuju, sebelum pernikahan sudah melapor ke polisi.

“Laporannya itu 4 Maret, sedangkan mereka menikah 1 Maret. Selaku kuasa hukum terlapor, saya menyakini dan mengharapkan pihak kepolisian Polresta Kendari lebih teliti, obyektif dan profesional dalam penanganan perkara ini, demi terwujutnya keadilan,” beber Hiwayad.

Sedangkan terlapor, Sudarmin mengaku, anak perempuannya itu telah dinikahkan secara agama di kediamannya di Kota Kendari. Hal itu diakuinya tidak ada unsur paksaan.

“Kita nikahkan karena mereka sudah saling suka. Tidak ada paksaan,” beber Sudarmin.

Namun belakangan, Sudarmin mengaku, jika anak perempuannya tersebut diduga disuruh oleh ibunya untuk mengaku ke penyidik kepolisian, agar menyatakan jika disuruh mengakui ada unsur paksaan dalam pernikahan tersebut.

“Tapi pengakuan anak saya, dia di WA (Whatsapp) sama mamanya, untuk mengaku ke polisi bahwa dia dipaksa menikah,” ungkapnya.

Pernyataan anak perempuannya itu kata Sudarmin, didengar pula oleh dua orang keluarga yang saat itu berada di rumah sang ayah.

“Memang ada yang dengar waktu anak saya bilang begitu,” ucapnya.

Sementra, pihak keluarga perempuan yang hadir dalam pernikahan itu menerangkan, jika si pelapor awalnya tidak mempermasalahkan pernikahan kedua belah pihak. Malahan pelapor turut melayani sejumlah keluarga yang hadir.

Ia pun heran dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah usai pernikahan dan melaporkan mantan suaminya dengan tudingan ada pemaksaan dalam pernikahan itu.

“Padahal mamanya itu tidak pernah keluar dari acara pernikahan. Bahkan dia ikut cuci piring juga,” ucap keluarga pihak perempuan itu.

Ia juga menerangkan, saat itu pihak laki-laki tidak mampu memenuhi permintaan uang adat senilai Rp 100 juta dari pihak perempuan. Kesanggupan pihak laki-laki hanya Rp 35 juta ditambah 2 karung beras dan ayah dari perempuan menerimanya.

“Kami curiga, di situlah ada dugaan niatan untuk melaporkan,” katanya.

Laporan: Aden

Potretsultra Potretsultra
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *