Ishak Ismail Sayangkan Reaktif Ali Mazi Ribut Soal Kredit Macet di Bank Sultra, Ada Apa?

Keterangan Gambar : Ishak Ismail

Potretsultra

KENDARI Ishak Ismail yang kerab disapa anak lorong bertanya-tanya atas sikap reaktif Gubernur Sultra, Ali Mazi meminta kejaksaan untuk mengusut soal kredit macet di Bank BPD Sultra. Padahal BPD sendiri menyatakan tidak ada keganjalan dalam kreditnya senilai RP 30 Miliar itu. Kenapa gubernur ikut-ikutan, seolah-olah merekomemdasi kejaksaan segera usut soal ini.

“Terus terang saja saya sangat kecewa dengan beliau (Ali Mazi red), harusnya seperti saya ini, sehubungan dengan kredit tidak perlulah beliau ributkan. Lagi pula kredit saya sebenarnya tidak ada masalah karena kredit saya itu sesuai dengan prosedural dan sesuai dengan aturan perbankan,” ungkap Ishak Ismail di Kediamannya, Senin Malam (12/8/2019).

Ironisnya sambung Ishak Ismail, selama republik ini berdiri, dirinya baru lihat ada gubernur yang begitu reaktif urusi kredit rakyatnya, ada apa?

“Apakah karena saya tidak dukung pak Ali Mazi dalam pencalonan gubernur, kemudian apakah karena saya di PDIP beliau (Ali Mazi, red) di NasDem, dan apakah karena saya sudah berkawan dengan Pak Lukman,” tukasnya.

Perlu diketahui pula lanjut Ishak, bahwa kreditnya itu kredit kontraktor bahwa tidak mungkin dikasih kredit kalau tidak ada kontrak proyek.

“Kalau saya dikasih kredit oleh BPD senilai Rp30 Miliar berarti proyek saya itu minimal 30 persen dari jumlah kontrak saya. Nah kalau Rp 30 miliar berarti kontrak proyek saya itu Rp100 Miliar. Dan itu ada, proyek saya seperti proyek tambang geleng Rp 74 Miliar. Kemudian Rumah susun (Rusun) Rp Rp 20 Miliar, terus peningkatan kawasan kumuh di mandonga Rp 7 Miliar. Sehingga jumlah kurang lebih Rp 100 Miliar. Sehingga bank BPD memberikan saya kredit Rp30 Miliar,” jelasnya.

Selain itu tambah Ishak Ismail, sangat menyayangkan sikap Bank Sultra yang dengan terang-terangan menyampaikan kerahasian data dirinya terkait fasilitas kredit dan nominal kredit yang ia ambil di Bank Milik Pemerintah itu.

Potretsultra

“Saya kecewa dengan Bank Sultra, harusnya debitur dilindungi oleh UU Perbankan, data-data harus dirahasiakan, ini sampai ada yang dipublikasi, artinya Bank Sultra tidak melindungi kerahasian nasabahnya,” tandasnya.

Ishak mengatakan, kredit perusahaan yang di Bank Sultra tidak ada masalah dan semua berjalan dengan baik dan lancar. Status kredit perusahannya ialah Stand by Loan. Kredit stand by loan artinya diberikan kepada nasabah yang sifatnya khusus, memiliki proyek rutin dan kredibilitas terpercaya dan mumpuni.

“Kredit saya ini sudah 10 tahun, awalnya dari Rp 5 miliar, naik Rp 10 Miliar naik Rp 15 miliar sampai teman – teman melihat saya banyak proyek sehingga diberikanlah Rp 30 Miliar,” tuturnya.

Pemberian nominal kredit kontraktor ini 30 persen dari nilai proyek yang dikerjakan, dan saat ini nilai proyeknya Rp 100 miliar. Jaminan proyek tersebut sangatlah jauh lebih besar ketimbang nilai kredit yang dia ambil Rp 30 Miliar.

“Kalaupun ada masalah kan saya ada jaminan. Dan jaminan saya diatas nilai Rp 30 Miliar. Ini saya lihat Ali Mazi gagal paham dengan kredit saya. Kredit saya tidak ada masalah, dan dari Bank pun sudah menyatakan tidak ada masalah,” tambahnya.

Terkait adanya termin yang tidak terpotong, Ishak menjelaskan kejadian itu pada saat adanya pergantian direksi dan posisi di akhir tahun, sehigga pada termin saat itu tidak terpotong. Namun di awal tahun dirinya telah melakukan pembayaran dan sampai saat ini terhitung sudah Rp 7,4 miliar yang ia sudah bayarkan dari Rp 21 miliar kreditnya.

“Saya komitmen akan tuntaskan semuanya di tahun ini. Pembayaran kredit berdasarkan termin, jadi setiap termin dilakukan pemotongan oleh bank. Besok saya akan bayar lagi sekitar Rp 2 miliar,” tukasnya.

Ishak menambahkan, sebagai kontraktor lokal haruslah didukung oleh pemerintah sebab selama dirinya bermitra dengan Bank Sultra, dirinya rutin memberikan pemasukan kepada Bank Sultra melalui pembayaran bunga dari kredit perusahaanya ambil.

“Tiap tahun itu rata – rata Rp 1 miliar lebih bahkan pernah Rp 2 miliar bunga yang saya bayarkan,” pungkasnya.

Laporan: Sultan

Potretsultra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *