GMNI Baubau: PO5 dapat Menjadi Solusi dalam Polemik Surabaya dan Papua

Keterangan Gambar : Ketua GMNI Baubau, Ramadan

OPINI – PO5 merupakan suatu model pemerintahan yang dikenalkan oleh Wali Kota Baubau Bapak Dr. AS. Tamrin MH melalui Penelitian desertasi yang bersumber pada nilai budaya lokal yaitu Sarapatanguna pada saat proses mendapatkan gelar Doktor beliau di Kampus IPDN Jatinangor.

PO5 singkatan dari bahasa daerah Wolio yang terkandung nilai-nilai dalam kehidupan sosial antar masyarakat, bangsa, dan negara yaitu Pomamasiaka (saling menyayangi satu sama lain), Popiara-piara (saling mengayomi ) Pomae-maeka (saling menghargai dan menghormat)i, Poangka-angkataka (saling dukung-mendukung atau menopang), terakhir Pobinci-binciki kuli (saling toleransi).

Poster PO5

Poster PO5

Melihat situasi negara kita pada hari ini terjadi polemik yang cukup serius harus disikapi dengan terjadinya peristiwa di Surabaya terhadap mahasiswa Papua kejadian itu terjadi pada Jumat (16/8), sore sekitar pukul 16.00 WIB. Selain aparat keamanan, sejumlah organisasi massa juga turut menyerang dan mengepung asrama.

“Mahasiswa Papua yang sedang berkumpul di Asrama Kamasan Surabaya, dikepung oleh beberapa aparat. Saya tidak tahu apakah TNI, Polri. Tapi juga ada penyerangan dari Ormas reaksioner juga ada perkataan yang tak sepantasnya yang dilontarkan oleh masyarakat disana,”

Awal mula pengepungan itu disebabkan oleh dugaan pengrusakan bendera pusaka yang terletak di depan asrama. Pihak aparat pun menduga perusakan bendera pusaka dilakukan oleh oknum mahasiswa di asrama.

 

GMNI Baubau menilai kejadian ini terjadi akibat hilangnya moral kita sebagai bangsa Indonesia, yang saling menyayangi, saling mengayomi, saling menghargai dan menghormati, saling mendukung dan saling tolerasi (PO5).

Nilai-nilai filsuf (PO5) ini dapat dijadikan landasan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara agar dapat mengubah cara bersikap dalam menghadapi suatu persoalan untuk mengedepankan kebersamaan.

PO5 juga sejalan dengan gagasan revolusi mental yang pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada pidato Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956, “Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala,” kata Bung Karno.

Penulis: Ramadan (Ketua GMNI Baubau)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *